Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Betutu Mengwi, UMKM yang Berhasil Go Digital bareng DANA
Pemilik kedai Betutu Mengwi, I Nyoman Yoga Gamma, sedang membuka aplikasi DANA. (dok.pribadi/I Nyoman Yoga Gamma)

Pernah gak sih, kamu batal beli makanan cuma gara-gara gak bawa uang cash? Rasanya nyesek banget, apalagi kalau makanannya sudah terbayang enak. Pasti ganggu banget, 'kan? Tapi, masalah klasik ini berhasil diatasi oleh Betutu Mengwi, salah satu usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jakarta yang bergerak di bidang kuliner.

Betutu Mengwi berani mengadopsi sistem pembayaran non-tunai berbasis digital. Langkah ini bertujuan agar usaha mereka bisa tetap menarik dan relevan bagi pelanggan. DANA jadi teman yang dipilih Betutu Mengwi untuk memuluskan digitalisasi sistem pembayaran mereka.

Penasaran gimana kisah Betutu Mengwi bisa go digital bareng DANA? Kalau gitu, yuk simak cerita lengkapnya di bawah! Tapi, sebelum itu, kamu wajib kenalan dulu sama Betutu Mengwi!

1. Berawal dari usaha rumahan di Cibubur

Potret kedai Betutu Mengwi di Pasar Santa, Jakarta Selatan (Instagram/betutumengwi)

Betutu Mengwi merupakan kedai makanan khas Bali yang berlokasi di Pasar Santa, Jalan Cipaku, Petogogan, Jakarta Selatan. Kedai kuliner tradisional ini resmi berdiri pada awal 2020. Produk utamanya adalah nasi campur yang dilengkapi aneka lauk, plus ayam betutu khas Bali yang bikin ngiler.

Di balik kedai yang ramai itu, tersimpan perjalanan yang tidak mudah. Awalnya, Betutu Mengwi hanyalah usaha rumahan. Sekitar 2019, I Nyoman Yoga Gamma bersama sang ibu yang baru saja pensiun memutuskan membuka usaha kemitraan ayam di rumahnya di Cibubur, Jakarta Timur. Mereka menjual berbagai produk ayam utuh seperti ayam beku dan ayam pentung.

Dengan harapan besar dan semangat yang menggebu, Nyoman dan sang ibu bermimpi usaha ini bisa jadi sumber penghasilan yang stabil. Sayangnya, harapan itu sempat pupus. Pelanggan jarang datang karena lokasi penjualan berada di dalam rumah yang tidak strategis. "Jadi kan, kita jualannya di rumah gitu dan itu (lokasinya) di dalam," jelas Nyoman saat diwawancara IDN Times, Kamis (18/6/2026).

Tapi Nyoman tidak menyerah. Dengan insting anak muda yang tech savvy, ia menyarankan sang ibu untuk membuka pre order (PO) via WhatsApp. Ia juga mengusulkan upgrade produk, dari sekadar ayam utuh menjadi olahan ayam betutu nan lezat khas Bali.

Taktik sederhana itu ternyata mengubah segalanya. Pesanan pun banjir, dan yang mengejutkan, paling banyak justru datang dari Jakarta Selatan, bukan dari sekitar Cibubur. Dari sinilah ide membuka kedai di Pasar Santa lahir. Sebelum pandemi COVID-19 merebak, Betutu Mengwi resmi membuka pintunya di Pasar Santa, Jakarta Selatan.

2. Betutu Mengwi sudah akrab dengan teknologi digital sejak awal berdiri

Potret kedai Betutu Mengwi di Pasar Santa, Jakarta Selatan (Instagram/betutumengwi)

Sejak awal, Nyoman memang sudah sangat akrab dengan teknologi digital, dan itu bukan kebetulan. Ia tahu betul bahwa zaman terus berubah dan pelanggan pun ikut berubah. Semakin hari, pelanggan Betutu Mengwi lebih memilih transaksi digital non-tunai daripada uang cash.

Dan Nyoman tahu betul apa akibatnya kalau usaha tidak mengikuti perubahan itu. "Kadang, kalau (pelanggan) gak bawa uang, mereka harus ambil uang dulu ke ATM. Tapi, ujung-ujungnya malah gak jadi beli karena pas ditungguin ternyata gak balik lagi. Padahal, pesanannya sudah kita buatin," ceritanya dengan nada yang tak bisa menyembunyikan sedikit rasa frustasi.

Kehilangan pembeli yang sudah menunggu pesanannya, itu bukan cuma soal uang, tapi soal usaha yang sudah dikerahkan dengan sepenuh hati. Maka, sejak berdiri pada 2020, Betutu Mengwi memutuskan go digital dengan mengadopsi aplikasi DANA sebagai sistem pembayaran mereka.

3. DANA bisa gaet banyak pembeli lewat fitur QRIS

Sistem pembayaran digital melalui QRIS DANA di kedai Betutu Mengwi (Dok. Pribadi/I Nyoman Yoga Gamma)

Salah satu fitur andalan di Betutu Mengwi adalah QRIS DANA. Nyoman mengaku sempat ditawari beberapa bank untuk membuat sistem pembayaran digital via QRIS. Tapi pilihannya tetap jatuh ke DANA, karena prosesnya simpel dan gak ribet.

"Tapi, kalau misalkan dari DANA itu, 'kan, gampang, ya. Tinggal buka aplikasinya aja gitu. Cuma download aplikasinya dan gak harus yang daftar-daftar ke bank gitu, 'kan," ungkap Nyoman.

Bagi seorang pelaku UMKM yang setiap hari bergelut dengan kesibukan operasional, kemudahan seperti ini bukan hal kecil, ini penyelamat waktu dan tenaga. Hasilnya pun nyata: lebih banyak pelanggan yang jadi beli karena tak perlu lagi repot menyiapkan uang cash.

4. Fitur QRIS DANA jadi andalan pelanggan dari kalangan muda

Sistem pembayaran digital melalui QRIS DANA di kedai Betutu Mengwi (Dok. Pribadi/I Nyoman Yoga Gamma)

Menurut Nyoman, QRIS DANA paling banyak diandalkan oleh pembeli muda yang memang sudah terbiasa hidup tanpa uang tunai. Tinggal scan, bayar, selesai.

"Kalau yang anak-anak muda, kebanyakan yang datang (ke Betutu Mengwi) emang mereka bayarnya pakai QRIS. Jarang yang (bayar) tunai," jelas Nyoman.

Ada satu fitur lain yang membuat Nyoman benar-benar merasa lega: notifikasi bunyi saat pembayaran masuk. Dan ini bukan soal kenyamanan semata, ini soal kepercayaan. Pernah suatu kali, ada pelanggan yang mengirimkan bukti transfer, tapi uangnya tak kunjung masuk ke rekening. Ternyata, bukti transfernya diduga telah di-edit.

"Jadi, pernah ada pelanggan yang ngirim bukti transferan. Tapi, pas saya cek di rekening, ternyata (uangnya) belum masuk... Kalau di DANA, 'kan, udah ada fitur notifnya. Jadi, sekarang gak pernah lagi ada yang kayak gitu," cerita Nyoman. Sebuah pengalaman pahit yang kini tak perlu dikhawatirkan lagi.

5. Sistem pembayaran digital penting bagi usaha kuliner dewasa ini

Pemilik kedai Betutu Mengwi, I Nyoman Yoga Gamma, sedang membuka aplikasi DANA (Dok. Pribadi/I Nyoman Yoga Gamma)

Lewat semua pengalaman itu, Nyoman ingin berbagi satu pesan penting kepada seluruh pelaku UMKM di Indonesia: jangan takut go digital.

"Jadi, kalau kita cuma ngandelin pembayaran tunai, 'kan, kayaknya orang jadi banyak gak jadi belinya. Soalnya, sekarang orang-orang kayaknya sudah jarang yang pegang cash, ya. Kebanyakan, 'kan, penginnya pakai QRIS gitu," jelasnya.

Betutu Mengwi adalah bukti nyata bahwa UMKM kecil pun bisa tumbuh dengan memanfaatkan teknologi, bukan karena terpaksa, tapi karena memang itulah cara terbaik untuk melayani pelanggan di zaman sekarang.

"Jadi, usahain update gitu sama teknologi, terutama soal pembayaran digital kayak gini. Tapi, gak cuma itu. Saya rasa orang-orang juga harus sudah mulai belajar soal gimana caranya masarin produk kita lewat (teknologi) digital," tutup Nyoman, dengan nada seorang anak muda yang sudah melewati jatuh bangun, dan kini bangga bisa berdiri tegak bersama sang ibu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article