ilustrasi tindakan pasif-agresif (pexels.com/RDNE Stock project)
Tanpa pernah mengucapkan penolakan, sebagian orang memilih menyampaikan rasa tidak suka lewat sikap tubuh yang berubah pelan-pelan. Awalnya masih duduk saling berhadapan, lalu badan sedikit berpaling, tangan mulai sibuk sendiri, dan tatapan tidak lagi mencari lawan bicara. Obrolan sebenarnya masih berjalan, kalimat tetap keluar, tetapi gesturnya terasa tidak lagi hadir sepenuhnya. Perubahan ini sering terjadi tepat saat topik menyentuh hal yang sebenarnya ingin dihindari.
Lalu, yang membuat situasi jadi tidak nyaman bukan gerakan tubuhnya, melainkan pesan yang disampaikan setengah- setengah. Lawan bicara menangkap ada ketidaksukaan, tetapi tidak tahu apakah perlu menanggapi atau berpura-pura tidak menyadari. Percakapan pun diteruskan dengan nada hati-hati, topik perlahan dialihkan, dan pembahasan yang semestinya selesai dibiarkan menggantung.
Ciri pasif-agresif yang sering muncul di obrolan sehari-hari kerap terasa sepele karena tidak pernah disampaikan secara terang-terangan. Meski begitu, karena samar, bentuk komunikasi ini mudah menimbulkan salah paham. Saat melihat cara orang berbicara di sekitar, pernahkah terpikir bahwa keheningan, candaan, atau jawaban singkat sebenarnya sedang menyampaikan sesuatu yang tidak mau mereka ucapkan secara langsung?