Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Consent Bukan Sekadar “Iya”, Ini 5 Tanda Paksaan Terselubung

4 min read
Consent Bukan Sekadar “Iya”, Ini 5 Tanda Paksaan Terselubung
Ilustrasi merasa dipaksa (pexels.com/Khwanchai Phanthon)
  • Consent yang sehat harus diberikan secara sadar, sukarela, tanpa tekanan, serta memungkinkan seseorang mengatakan tidak tanpa takut hukuman atau konsekuensi mengintimidasi.
  • Persetujuan dapat ditarik kapan saja, termasuk saat aktivitas sudah dimulai; keberatan, ketidaknyamanan, atau keinginan berhenti wajib dihormati tanpa bujukan, kemarahan, atau menyalahkan.
  • Paksaan terselubung dapat berupa manipulasi rasa bersalah, desakan berulang, atau memanfaatkan kondisi tidak sadar; diam, ragu, dan tidak melawan bukan tanda setuju.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam hubungan apa pun, terutama yang melibatkan kedekatan fisik atau seksual, consent atau persetujuan merupakan hal yang sangat penting. Namun, consent sering disalahpahami hanya sebagai adanya jawaban “iya”. Padahal, persetujuan yang sehat harus diberikan secara sadar, sukarela, dan tanpa tekanan.

Masalahnya, paksaan tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman atau kekerasan yang terang-terangan. Tekanan bisa muncul secara lebih halus melalui rasa bersalah, manipulasi emosional, ancaman putus, terus-menerus membujuk setelah ditolak, atau memanfaatkan kondisi ketika seseorang sulit memberikan keputusan secara bebas. Karena itu, penting mengetahui perbedaannya agar kita dapat mengenali batas yang sehat dalam sebuah hubungan.

  1. 1. Consent diberikan secara sukarela, bukan karena tekanan

    Ilustrasi menerima sukarela
    Ilustrasi menerima sukarela (pexels.com/Polina Tankilevitc)

    Consent yang sehat lahir dari kemauan sendiri. Seseorang mengatakan “iya” karena memang menginginkan hal tersebut, bukan karena takut, terpaksa, atau merasa tidak punya pilihan. Ia memiliki kesempatan untuk mengatakan “tidak” tanpa khawatir akan mendapatkan hukuman atau konsekuensi yang mengintimidasi.

    Sebaliknya, paksaan terselubung dapat muncul ketika seseorang terus didesak sampai akhirnya menyerah. Kalimat seperti “kalau kamu sayang aku, kamu pasti mau” atau “masa cuma begini saja nggak mau?” dapat menjadi bentuk tekanan emosional. Walaupun tidak disertai ancaman langsung, tekanan tersebut dapat membuat persetujuan tidak lagi benar-benar bebas.

  2. 2. Consent bisa ditarik kapan saja

    Ilustrasi menolak sesuatu
    Ilustrasi menolak sesuatu (pexels.com/RDNE Stock project)

    Persetujuan bukanlah kontrak yang berlaku selamanya. Seseorang yang awalnya mengatakan “iya” tetap memiliki hak untuk berubah pikiran kapan pun. Bahkan ketika aktivitas sudah dimulai, ia tetap dapat mengatakan berhenti.

    Paksaan dapat terjadi ketika perubahan keputusan tersebut tidak dihormati. Misalnya, seseorang sudah mengatakan tidak nyaman atau ingin berhenti, tetapi pasangannya terus membujuk, marah, menyalahkan, atau melanjutkan aktivitas tanpa memperhatikan keberatan tersebut. “Sudah mulai” bukan alasan untuk mengabaikan keputusan seseorang.

  3. 3. Consent membutuhkan kesadaran dan kemampuan untuk memilih

    Ilustrasi sedang berpikir
    Ilustrasi sedang berpikir (pexels.com/Athena Sandrini)

    Consent yang bermakna membutuhkan kondisi ketika seseorang mampu memahami situasi dan membuat keputusan secara sadar. Ia mengetahui apa yang sedang disetujui dan memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan tersebut.

    Sebaliknya, seseorang mungkin berada dalam kondisi yang membuat kemampuannya memberikan persetujuan menjadi terganggu, misalnya sangat mabuk, tidak sadar, atau berada dalam kondisi tertentu yang membuatnya tidak mampu memahami atau mengomunikasikan keputusan secara bebas. Dalam situasi seperti ini, tidak tepat menganggap diam atau respons yang tidak jelas sebagai persetujuan.

  4. 4. Consent tidak harus didapatkan dengan rasa bersalah

    Ilustrasi merasa bersalah
    Ilustrasi merasa bersalah (pexels.com/Thirdman)

    Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak seharusnya merasa harus melakukan sesuatu hanya agar pasangannya tidak kecewa. Perasaan kecewa bisa muncul ketika seseorang ditolak, tetapi rasa kecewa tersebut tidak boleh digunakan sebagai alat untuk menekan orang lain.

    Paksaan terselubung dapat muncul melalui manipulasi emosional. Contohnya, seseorang sengaja membuat pasangannya merasa bersalah karena menolak, mengatakan bahwa penolakan membuktikan dirinya tidak mencintai pasangan, atau terus mengungkit “pengorbanan” yang pernah dilakukan. Ketika “iya” diberikan terutama untuk menghindari rasa bersalah, penting untuk mempertanyakan apakah persetujuan tersebut benar-benar diberikan secara bebas.

  5. 5. Consent ditandai komunikasi yang jelas, bukan sekadar diam

    Ilustrasi komunikasi yang jelas
    Ilustrasi komunikasi yang jelas (pexels.com/Edmond Dantès)

    Diam tidak selalu berarti setuju. Begitu pula seseorang yang tidak melawan belum tentu merasa nyaman. Dalam situasi tertentu, seseorang dapat membeku, takut berbicara, bingung, atau tidak tahu bagaimana merespons ketika menghadapi tekanan.

    Consent yang sehat idealnya melibatkan komunikasi yang cukup jelas dan adanya kesempatan bagi kedua pihak untuk menyampaikan batas masing-masing. Jika seseorang terlihat ragu, tidak nyaman, menarik diri, atau mengatakan ingin berhenti, respons yang tepat adalah berhenti dan memastikan keadaannya, bukan menganggap keraguan sebagai persetujuan.

    Consent yang sehat bukan sekadar mendapatkan kata “iya”. Consent harus diberikan secara sadar, sukarela, tanpa tekanan, dan dapat ditarik kembali kapan saja. Sebaliknya, persetujuan yang muncul karena ketakutan, manipulasi, desakan terus-menerus, atau rasa bersalah perlu dilihat secara lebih kritis.

    Memahami perbedaan ini bukan hanya penting untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk menciptakan hubungan yang lebih aman dan saling menghargai. Hubungan yang sehat tidak dibangun dari kemampuan meyakinkan seseorang sampai akhirnya menyerah, melainkan dari kemampuan menghormati ketika seseorang mengatakan “tidak”.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More