Ketika seseorang menyebarkan kebencian di internet, reaksi keras dari pengguna lain sering kali tidak bisa dihindari. Orang yang sebelumnya menghina, merendahkan, atau menyerang orang lain mungkin kemudian mendapat perlakuan serupa. Tidak sedikit yang menganggap hal tersebut sebagai konsekuensi yang pantas: kalau berani menyakiti orang lain di depan publik, berarti harus siap ketika publik membalas.
Namun, ada perbedaan antara menerima kritik atau konsekuensi atas perilaku sendiri dengan menjadi sasaran perundungan. Ketika kemarahan berubah menjadi penghinaan massal, ancaman, penyebaran informasi pribadi, atau serangan terhadap hal-hal yang tidak berkaitan dengan kesalahan awal, persoalannya menjadi jauh lebih rumit. Lantas, apakah penyebar kebencian memang pantas mendapatkan cyberbullying sebagai balasannya?
