Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Decision Fatigue, Fenomena Lelah Mental Anak Muda di Era Digital
ilustrasi lelah mental (pexels.com/olly)
  • Decision fatigue terjadi ketika otak kelelahan akibat terlalu banyak pilihan dan keputusan yang harus diambil setiap hari, membuat anak muda cepat merasa lelah mental.
  • Media sosial dan tekanan untuk selalu membuat keputusan terbaik memperberat beban mental, karena setiap pilihan terasa menentukan masa depan dan dipengaruhi perbandingan dengan orang lain.
  • Gaya hidup multitasking dan serba cepat membuat otak jarang beristirahat, menurunkan kemampuan fokus serta kualitas pengambilan keputusan di kalangan generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bangun tidur sudah dihadapkan dengan banyak pilihan. Mau pakai baju yang mana, sarapan apa, naik kendaraan apa, membalas chat sekarang atau nanti, sampai memilih playlist untuk menemani perjalanan ke kampus atau kantor. Belum lagi sepanjang hari kamu harus mengambil keputusan terkait banyak hal.

Gak heran jika banyak anak muda merasa cepat lelah mental meski aktivitas fisiknya gak terlalu berat. Salah satu penyebabnya adalah decision fatigue, yaitu kondisi ketika kemampuan otak untuk membuat keputusan mulai menurun karena terlalu banyak pilihan yang harus diproses. Kenapa generasi muda lebih rentan mengalami decision fatigue?

1. Terlalu banyak pilihan dalam kehidupan sehari-hari

ilustrasi memilih (pexels.com/Marlon Trottmann)

Anak muda saat ini hidup di era yang penuh pilihan. Hampir semua hal menawarkan begitu banyak alternatif. Mulai dari memilih jurusan kuliah, pekerjaan, tempat tinggal, layanan streaming, aplikasi, hingga menu makanan yang tersedia di aplikasi pesan antar. Punya banyak pilihan memang terdengar menyenangkan.

Namun, semakin banyak opsi yang tersedia, semakin besar pula energi mental yang dibutuhkan untuk membandingkan dan menentukan pilihan terbaik. Tanpa disadari, otak terus bekerja keras memproses informasi. Jika kondisi seperti ini terjadi setiap hari, rasa lelah mental pun akan lebih mudah muncul.

2. Media sosial membuat keputusan terasa lebih berat

ilustrasi menggunakan media sosial (pexels.com/karolina-grabowska)

Media sosial bukan hanya menjadi tempat hiburan, tapi juga sumber informasi. Hampir setiap hari kamu melihat orang lain membagikan banyak hal. Akibatnya, keputusan sederhana pun bisa terasa jauh lebih rumit.

Misalnya, saat memilih pekerjaan. Kamu tak hanya mempertimbangkan gaji atau lokasi, tapi juga membandingkannya dengan pengalaman orang lain di media sosial. Semakin banyak informasi yang dikonsumsi, semakin sulit pula otak menentukan pilihan.

3. Tekanan untuk selalu membuat keputusan terbaik

ilustrasi berpikir (pexels.com/Andrew Neel)

Banyak anak muda merasa bahwa setiap keputusan akan sangat menentukan masa depan. Memilih jurusan kuliah bisa menentukan karier seumur hidup. Salah memilih pekerjaan dianggap bisa menghambat kesuksesan.

Bahkan keputusan sederhana seperti pindah kota atau mengambil kursus baru terasa sangat menegangkan. Cara berpikir seperti ini membuat setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi yang sangat besar. Akibatnya, kamu menghabiskan banyak energi untuk menganalisis berbagai kemungkinan sebelum akhirnya memilih.

4. Multitasking membuat otak cepat kehabisan energi

ilustrasi kesibukan bekerja (pexels.com/karolina-grabowska)

Generasi muda dikenal terbiasa melakukan banyak hal sekaligus. Sambil bekerja, kamu bisa mendengarkan musik, membalas pesan, mengecek media sosial, dan sebagainya. Sekilas aktivitas ini terlihat efisien, tapi sebenarnya otak terus berpindah fokus dari satu tugas ke tugas lainnya.

Setiap perpindahan tersebut membutuhkan energi mental. Semakin sering kamu berganti fokus, semakin cepat pula kemampuan otak dalam mengambil keputusan menurun. Tak heran jika pada sore atau malam hari kamu merasa sulit berkonsentrasi, mudah lupa, atau malas memikirkan sesuatu yang membutuhkan pertimbangan.

5. Gaya hidup serba cepat membuat otak jarang beristirahat

ilustrasi berjalan (pexels.com/Lukas Hartmann)

Teknologi membuat hampir semua hal bisa dilakukan dengan cepat. Informasi datang setiap detik, notifikasi terus bermunculan, dan berbagai aplikasi berlomba menarik perhatianmu. Akibatnya, otak hampir tidak pernah benar-benar beristirahat.

Bahkan saat sedang santai, kamu tetap membuka media sosial, membaca berita, membalas pesan, atau menonton video pendek. Kondisi ini membuat otak terus menerima rangsangan dan harus mengambil keputusan kecil secara berulang. Pada akhirnya, kondisi ini akan memengaruhi produktivitas, hingga keputusan yang kamu ambil.

Decision fatigue menjadi salah satu tantangan yang semakin sering dialami anak muda di era digital. Tidak mengherankan jika pada akhirnya kamu merasa cepat lelah, sulit fokus, atau lebih mudah mengambil keputusan secara impulsif. Kamu pernah mengalaminya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article