Ilustrasi seseorang sedang bekerja sambil menggunakan headphones (dok. magnific)
Coba deh perhatiin ritme hidup Gen-Z belakangan ini. Siang hari? Full mode "on": kuliah, kerja, latihan, dan mengejar deadline sampai mata berkunang-kunang. Tapi begitu malam tiba atau ada waktu senggang dikit aja, langsung switch ke mode healing nongkrong bareng circle terdekat, nonton drama sambil ditemenin snack favorit, atau sekadar rebahan santai sambil denger musik.
Dan percaya deh, ini bukan tanda males atau kurang niat. Justru ini bentuk kedewasaan versi baru menurut Gen-Z. Gen-Z sadar kalau burnout itu bukan pencapaian yang layak dibanggain, dan istirahat bukan berarti berhenti mengejar mimpi. Rest is productive too.
Tapi, bicara soal punya waktu istirahat dan punya hidup yang balance emang sering kedengeran kayak sesuatu yang gampang dicapai padahal kenyataannya nggak semua orang punya privilege buat milih ritme hidup mereka sendiri. Ada yang harus kerja terus-terusan, ada yang jadwalnya udah padat dari sananya. Jadi bicara soal balance bukan berarti nuntut semua orang buat langsung bisa bagi waktu rata-rata, misalnya 8 jam kerja - 8 jam me time.
Yang lebih penting: kamu boleh, dan sah-sah aja, buat pengen punya balance itu dalam bentuk apapun yang paling masuk akal buat hidup kamu. Nggak harus liburan jauh atau luangin waktu berjam-jam. Momen santai beberapa menit di sela kesibukan pun tetap berarti.