Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekonomi Sulit Healing Gak Harus Mahal, Ini Tren Self Care ala Gen Z
Ilustrasi minum kopi (pexels.com/Tan Danh)

Belakangan ini, istilah healing menjadi bagian dari gaya hidup banyak anak muda, terutama Gen Z. Namun berbeda dari anggapan bahwa healing harus identik dengan liburan mahal, banyak Gen Z justru menemukan cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental mereka. Mulai dari nongkrong di street kopi pinggir jalan, jalan sore tanpa tujuan, hingga duduk santai sambil mendengarkan musik favorit, semua bisa menjadi bentuk self care yang lebih terjangkau.

Tren ini muncul karena semakin banyak anak muda yang sadar bahwa menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan biaya besar. Di tengah banyak tekanan dalam berbagai aspek kehidupan, aktivitas sederhana justru sering terasa lebih menenangkan.

1. Nongkrong di street kopi, tempat sederhana yang jadi ruang bernapas

Ilustrasi bersantai sambil minum kopi (unsplash.com/Photo by Ceyda Çiftci)

Beberapa tahun terakhir, street kopi atau kedai kopi sederhana di pinggir jalan semakin populer di kalangan Gen Z. Tempat seperti ini bukan hanya menawarkan kopi dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi ruang untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

“Tingkat kebisingan latar belakang yang moderat, seperti yang Anda temukan di kedai kopi, sebenarnya dapat meningkatkan konsentrasi karena cukup merangsang untuk membuat otak tetap aktif,” kata Catherine Franssen, PhD, asisten profesor di Sekolah Ilmu Kehidupan dan Keberlanjutan di Universitas Virginia Commonwealth dikutip dari Real Simple.

Suasana kafe atau tempat ngopi dapat memberikan efek psikologis positif karena adanya interaksi sosial ringan dan lingkungan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Keberadaan orang lain di sekitar kita dapat membantu menciptakan rasa nyaman dan keterhubungan sosial

"Ketika kamu berada di sekitar orang-orang yang sedang bekerja, kamu cenderung akan mengikuti jejak/ritme mereka. Bahkan tanpa interaksi langsung, mungkin ada sedikit tekanan untuk tetap fokus pada tugas. Kehadiran orang lain meningkatkan gairah fisiologis, yang dapat meningkatkan kinerja pada tugas-tugas yang sudah dipelajari dengan baik atau tugas-tugas yang mudah,” kata psikolog klinis Nicole Moshfegh, PsyD dikutip dari laman yang sama.

Selain itu, nongkrong di street kopi sering menjadi bentuk self care yang murah tetapi efektif. Dengan harga belasan ribu rupiah, seseorang bisa menikmati suasana santai, berbincang dengan teman, atau sekadar menikmati waktu sendiri tanpa tekanan. Aktivitas sederhana seperti ini membantu mengurangi stres sekaligus memberi jeda dari rutinitas yang melelahkan.

2. Jalan sore tanpa tujuan jadi bentuk self care favorit

Ilustrasi olahraga (unsplash.com/Photo by Jozsef Hocza)

Banyak Gen Z mulai menjadikan jalan kaki santai di sore hari sebagai aktivitas healing yang murah meriah. Tidak harus pergi ke tempat wisata, cukup berjalan mengelilingi kompleks, taman kota, atau area sekitar rumah sudah bisa memberikan efek relaksasi. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa aktivitas fisik rutin merupakan salah satu bentuk self care yang penting bagi kesehatan mental maupun fisik.

"Aktivitas fisik teratur adalah bentuk self-care yang dapat mencegah sekitar 3,9 juta kematian dini setiap tahunnya," tulis laporan WHO.

Jalan kaki juga memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari paparan layar dan media sosial. Kamu mungkin bisa lebih tenang setelah berjalan santai sambil menikmati udara luar dibanding terus menerus menatap ponsel. Karena itulah, jalan santai banyak diminati sebagai bentuk self care sederhana.

3. Menikmati waktu sendiri tanpa merasa bersalah

Ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Photo by Giorgio Trovato)

Di tengah budaya yang sering menuntut seseorang untuk selalu produktif, banyak Gen Z mulai belajar menikmati waktu sendiri. Aktivitas seperti membaca buku, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau sekadar rebahan tanpa gangguan kini dianggap sebagai bentuk self care yang penting.

"Berlatihlah untuk menempatkan dirimu dalam daftar orang-orang yang penting, yang kebutuhannya penting. Berlatihlah untuk mengatakan yang sebenarnya dan tidak terlalu mengatur pengalaman orang lain," saran psikoterapis Nancy Colier, LCSW, Rev. dalam Psychology Today.

Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah ketika memprioritaskan dirinya sendiri. Colier menekankan bahwa kebutuhan diri sendiri juga layak untuk diperhatikan. Kesadaran inilah yang mulai berkembang di kalangan Gen Z.

Mereka tidak lagi selalu menganggap waktu sendiri sebagai bentuk kesepian. Sebaliknya, waktu sendiri dipandang sebagai kesempatan untuk mengenali emosi, memahami kebutuhan diri, dan memulihkan energi setelah berinteraksi dengan banyak orang.

4. Self care bukan soal estetik, tapi soal kebutuhan mental

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Munis Asadov)

Media sosial sering menampilkan self care sebagai kegiatan yang estetik dan mewah, mulai dari spa mahal hingga liburan ke tempat eksklusif. Namun banyak ahli mengingatkan bahwa makna self care jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas yang terlihat menarik di kamera.

World Health Organization mendefinisikan self care sebagai kemampuan seseorang untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, dan merawat kesejahteraan dirinya sendiri, baik dengan maupun tanpa bantuan tenaga kesehatan. Jika menunjukkan definisi ini, self care memang tidak selalu berkaitan dengan pengeluaran besar.

"Self care bukanlah tindakan egois dan bukan pula hal yang dangkal. Ini bukan hanya tentang meluangkan waktu untuk diri sendiri atau hari-hari memanjakan diri. Ini tentang melindungi kesehatan mental dan menumbuhkan keberlanjutan," jelas profesor ilmu perilaku dan psikoterapis Kristen Lee, Ed.D., LICSW, dalam Psychology Today.

"Tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua, tetapi penelitian memberi kita banyak petunjuk tentang apa yang dapat membantu kita mempertahankan kesehatan mental. Pengobatan gaya hidup, istirahat teratur, dan hubungan adalah faktor pelindung yang membantu membangun ketahanan. Pencegahan lebih murah daripada perbaikan," tambahnya.

5. Nongkrong, ngobrol, dan tertawa bersama teman juga termasuk healing

Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)

Bagi banyak Gen Z, healing tidak selalu dilakukan sendirian. Berkumpul bersama teman-teman, mengobrol santai, atau sekadar berbagi cerita di warung kopi sering menjadi cara untuk melepaskan beban pikiran.

Karena itu, nongkrong sederhana bersama teman tidak bisa dianggap sepele. Tertawa bersama, saling mendengarkan cerita, dan merasa dipahami oleh orang lain sering kali menjadi terapi emosional yang tidak membutuhkan biaya mahal.

Tren self care ala Gen Z menunjukkan bahwa healing tidak selalu harus identik dengan pengeluaran besar. Aktivitas sederhana seperti nongkrong di street kopi, jalan sore, menikmati waktu sendiri, atau berbincang dengan teman ternyata mampu memberikan efek positif bagi kesehatan mental. Yang terpenting bukan seberapa mahal aktivitas yang dilakukan, tetapi apakah kegiatan tersebut benar-benar membantu seseorang merasa lebih tenang dan nyaman.

Editorial Team

Related Article