Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fenomena Delulu: Ikatan Emosional dengan Idola dan Karakter Fiksi

5 min read
Fenomena Delulu: Ikatan Emosional dengan Idola dan Karakter Fiksi
ilustrasi orang yang selalu mengikuti berita artis kesayangannya (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Delusional disorder digambarkan sebagai keyakinan memiliki hubungan nyata dengan idola, figur publik, atau karakter fiksi, hingga batas antara imajinasi dan realitas menjadi kabur.
  • Kondisi ini dapat dipicu kesepian, trauma, penolakan, serta paparan media sosial dan komunitas fandom yang memperkuat hubungan parasosial.
  • Dampaknya dapat mencakup mood swing, kecemasan, depresi, dan menjauh dari relasi nyata; penanganannya meliputi menetapkan batas realita, mengurangi konten pemicu, membangun koneksi sosial, serta mencari psikolog bila mengganggu aktivitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu merasa punya ikatan emosional yang kelewat dalam sama karakter fiksi, idola K-Pop, atau bahkan figur publik yang aslinya gak kenal sama kamu? Saking dalamnya, kamu merasa seolah-olah mereka termasuk bagian nyata dari kehidupan sehari-harimu. Nah, fenomena psikologis yang sering banget wara-wiri di media sosial belakangan ini sebenarnya punya nama ilmiah, yaitu delusional disorder (secara gaul dikenal sebagai sindrom delulu)..

Kalau perasaan ini cuma sebatas kagum sebenarnya gak masalah, tapi kalau dibiarkan sampai mengaburkan realita, ujung-ujungnya kamu sendiri yang bakal capek hati, lho. Makanya, sebelum kamu makin tenggelam dalam dunia khayalan, bedah bareng-bareng penjelasan lengkapnya di bawah ini!


  1. 1. Apa itu delusional disorder

    ilustrasi delusional disorder
    ilustrasi delusional disorder (pexels.com/RDNE Stock project)

    Secara sederhana, kondisi ini terjadi ketika seseorang merasa punya hubungan personal yang sangat nyata dan intens dengan sosok yang sebenarnya gak memiliki ikatan timbal balik, seperti karakter anime, selebriti, atau tokoh fiksi lainnya. Kondisi ini beda banget sama fans biasa, karena di tahap ini batas antara imajinasi dan kenyataan sudah mulai gak jelas. Kalau fans biasa kamu sadar mereka gak nyata atau gak bisa digapai, tapi di tahap ini kamu benar-benar meyakini bahwa mereka adalah pasangan atau teman dekatmu. Seram, kan?

    Buat kamu yang mungkin pernah mengalami, rasanya pasti valid banget dan campur aduk antara senang tapi juga sering cemas kalau sosok tersebut "diambil" orang lain. Contoh nyatanya, kamu bisa sampai menangis berhari-hari atau marah besar cuma karena karakter favoritmu dibilang jelek sama netizen lain. Meski terasa aneh, perasaan manusia emang kadang se-random itu, makanya penting buat kamu tetap punya pegangan biar gak gampang halu kebablasan, ya.


  2. 2. Kenapa hal ini bisa terjadi?

    ilustrasi delusional disorder
    ilustrasi delusional disorder (mahnific.com/kues1)

    Fenomena halu tingkat tinggi ini jarang banget muncul tiba-tiba tanpa ada pemicu dari dalam diri penderitanya. Sering kali, kondisi ini terbentuk sebagai sebuah mekanisme pertahanan diri yang sangat kuat ketika seseorang merasa kesepian atau sedang menghadapi masalah berat. Mungkin di masa lalu ada luka trauma atau pengalaman penolakan yang bikin seseorang merasa gak aman buat menjalin hubungan dengan manusia asli. 

    Selain faktor dari dalam, gempuran faktor eksternal dari lingkungan dan media sosial juga punya peran yang super besar, lho. Algoritma internet sekarang jago banget membuatmu melihat konten-konten parasosial yang bikin kamu merasa seolah-olah diajak ngobrol langsung sama idola. Belum lagi kalau kamu ada di komunitas fandom yang menormalisasi perilaku ini, otomatis batasan realita makin gampang terkikis. 


  3. 3. Dampak bagi kesehatan mental dan hubungan

    ilustrasi mood swing
    ilustrasi mood swing (pexels.com/Egor Litvinov)

    Kalau cuma dipakai buat senang-senang sementara, mungkin dampaknya gak akan terlalu terasa, tapi beda cerita kalau kondisi ini dipelihara dalam jangka panjang. Efek jangka pendeknya, kamu mungkin bakal sering merasa mood swing parah yang bergantung banget sama apa yang terjadi pada karakter atau idola tersebut. Nah, untuk jangka panjangnya, ini bisa jadi bom waktu yang mengarah ke gangguan kecemasan tingkat tinggi atau bahkan depresi beneran. 

    Guys, imbasnya gak cuma berhenti di diri sendiri, tapi juga merembet parah ke caramu berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata, lho. Kamu bakal cenderung menarik diri dari pergaulan sosial, menghindar dari keluarga, dan malas cari pasangan beneran karena merasa standar fiksi itu gak ada yang bisa menandingi. Kalaupun kamu punya pacar atau teman dekat di kehidupan aslimu, mereka pasti bakal merasa dinomorduakan dan akhirnya pelan-pelan menjauh. 


  4. 4. Cara menyikapi delusional disorder

    ilustrasi menulis jurnal bisa menjadi momen jeda melihat layar gawai
    ilustrasi menulis jurnal bisa menjadi momen jeda melihat layar gawai (pexels.com/SHVETS production)

    Menyadari kalau kamu punya kecenderungan ini adalah langkah pertama yang paling berani dan patut diacungi jempol, kok. Gak perlu langsung merasa bersalah atau menghakimi diri sendiri, karena memutus kebiasaan yang sudah memberikanmu rasa aman itu emang butuh proses pelan-pelan. Coba tarik napas panjang, kumpulkan niat buat pelan-pelan balik ke dunia nyata, dan langsung saja praktikkan tips simpel dan powerful berikut ini!

    • Sadari batas realita
      Langkah paling dasar adalah belajar mengingatkan diri sendiri setiap kali mulai merasa kelewat baper sama tokoh fiksi. Coba ucapkan keras-keras bahwa sosok tersebut itu fiksi atau figur publik yang punya kehidupannya sendiri. Bikin batasan tegas di kepalamu mana yang imajinasi untuk seru-seruan dan mana yang merupakan kenyataan hidupmu.
    • Kurangi screen time
      Semakin sering kamu melihat konten tentang mereka, semakin susah otakmu buat lepas dari delusi tersebut. Coba mulai mute atau unfollow akun-akun yang sering memicu perasaan halumu jadi makin parah. Ganti waktu scroll hape tersebut dengan aktivitas fisik yang memaksa kamu buat hadir di momen saat ini, kayak olahraga atau jalan-jalan santai di luar.
    • Fokus ubah cara pandangmu
      Daripada pakai istilah psikologi yang ribet, intinya kamu harus mulai bertanya ke diri sendiri setiap kali muncul pikiran irasional. Tanyakan ke diri sendiri, "Apakah menangisi karakter ini bikin tugasku kelar?" atau "Apa untungnya aku marah-marah demi orang yang gak kenal aku?". Dengan terus menanyakan hal-hal itu, logikamu bakal pelan-pelan mengambil alih lagi setir kendali otakmu.
    • Cari koneksi di dunia nyata
      Mulai pelan-pelan buka diri untuk mengobrol sama teman sekolah, rekan kerja, atau keluarga di rumah. Gak perlu langsung curhat berat, cukup mengobrol hal-hal receh sehari-hari buat mancing interaksi sosial yang nyata. Kalau emang merasa sudah terlalu berat dan mengganggu aktivitas harian, jangan ragu buat ngobrol sama psikolog biar kamu dapat pendampingan yang tepat, ya.

    Punya imajinasi itu wajar banget, tapi jangan sampai delusional disorder ini merampas kebahagiaan nyatamu di dunia nyata, ya. Kamu berharga dan berhak banget buat dapat kasih sayang beneran dari orang-orang yang bisa kamu sentuh dan peluk setiap harinya. Semangat ya, pelan-pelan pasti bisa balik ke dunia nyata dan menemukan koneksi sosial yang ternyata jauh lebih indah!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More