Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fenomena Lapar Mata saat Puasa, Mengapa Bisa Terjadi?
ilustrasi lapar mata saat Ramadan (unsplash.com/Umar ben)
  • Saat puasa, waktu luang dan menunggu berbuka membuat orang lebih sering melihat-lihat.

  • Suasana Ramadan penuh tampilan makanan, promo, dan hiburan yang memancing perhatian mata.

  • Sesuatu terasa lebih menggoda karena belum bisa dinikmati, bukan karena benar-benar dibutuhkan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa Ramadan sering membuat hal-hal yang terlihat di sekitar terasa lebih menggoda dari biasanya, mulai dari etalase takjil, promo belanja, sampai konten hiburan di HP. Kondisi ini kerap disebut lapar mata. Istilah ini menggambarkan keinginan muncul hanya karena melihat sesuatu, bukan karena benar-benar membutuhkan.

Saat puasa, perubahan jam makan dan kebiasaan membuat perhatian mudah tertarik pada hal-hal yang memberi kesan menyenangkan. Tidak heran jika sore hari terasa seperti momen paling rawan tergoda oleh banyak hal. Berikut beberapa alasan yang bisa menjelaskan kenapa fenomena ini sering muncul dalam keseharian.

1. Waktu menunggu berbuka membuat orang lebih sering melihat-lihat

ilustrasi sahur (pexels.com/Gül Işık)

Menjelang berbuka, banyak orang berada dalam posisi menunggu tanpa aktivitas berat. Kondisi ini sering diisi dengan berjalan-jalan santai, membuka media sosial, atau sekadar melihat-lihat sekitar. Saat tidak ada kegiatan utama, perhatian cenderung beralih ke hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan. Inilah sebabnya etalase minuman dingin atau gerobak gorengan terlihat jauh lebih menarik saat sore hari.

Kebiasaan melihat-lihat ini tidak selalu berujung membeli. Banyak orang hanya menikmati proses memandangi pilihan makanan atau barang tanpa benar-benar ingin memilikinya. Aktivitas tersebut memberi rasa terhibur sambil menunggu waktu berbuka. Karena dilakukan hampir setiap hari selama Ramadan, keinginan melihat ini terasa seperti kebiasaan baru.

2. Suasana Ramadan memang penuh tampilan yang menggoda

ilustrasi Ramadan (unsplash.com/Taliwang Mengaji)

Ramadan identik dengan warna, cahaya, dan suasana ramai yang memanjakan mata. Pasar takjil dipenuhi aneka makanan berwarna cerah, pusat belanja memasang dekorasi khusus, dan iklan digital semakin aktif menampilkan promo. Tanpa disadari, perhatian menjadi lebih mudah tertarik pada apa pun yang terlihat menarik.

Semakin sering sesuatu terlihat, semakin besar kemungkinan muncul rasa ingin mencoba. Sebagai contoh, makanan yang jarang dipikirkan bisa tiba-tiba terasa menggoda hanya karena sering terlihat di sekitar. Hal yang sama terjadi pada promo belanja menjelang Lebaran.

3. Melihat menjadi cara mengisi waktu luang

ilustrasi main media sosial (pexels.com/RDNE Stock project)

Saat puasa, aktivitas fisik sering dikurangi agar energi tetap terjaga. Banyak orang akhirnya memilih kegiatan ringan, seperti menonton video, menggulir media sosial, atau melihat katalog belanja. Aktivitas tersebut tidak membutuhkan tenaga, tetapi tetap memberi rasa terhibur. Dari sinilah, kebiasaan melihat menjadi semakin dominan.

Kegiatan ini sering dilakukan tanpa tujuan tertentu. Seseorang bisa saja membuka aplikasi belanja hanya untuk melihat-lihat, lalu menutupnya tanpa membeli apa pun. Akibatnya, lapar mata terasa lebih sering muncul dibanding hari biasa.

4. Momen menjelang berbuka identik dengan aktivitas konsumtif

ilustrasi berburu takjil (unsplash.com/Umar ben)

Sore hari selama Ramadan sering dipenuhi aktivitas yang berkaitan dengan konsumsi. Banyak orang berburu takjil, mencari menu buka, atau sekadar berjalan di pusat perbelanjaan. Aktivitas tersebut membuat perhatian otomatis tertuju pada barang dan makanan. Bahkan, orang yang awalnya tidak berniat membeli bisa ikut tergoda karena suasana sekitar.

Kondisi ini menciptakan efek ikut-ikutan. Melihat orang lain membawa minuman segar atau kantong belanja membuat keinginan serupa muncul. Hal tersebut bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan karena pengaruh situasi. Akhirnya, lapar mata sering muncul sebagai bagian dari pengalaman menjelang berbuka.

5. Banyak hal terlihat lebih menarik saat belum bisa dinikmati

ilustrasi takjil (unsplash.com/Umar ben)

Ada kecenderungan sederhana dalam keseharian: sesuatu terasa lebih menarik ketika belum bisa dinikmati. Saat puasa, makanan, minuman, bahkan hiburan terlihat lebih menggoda karena ada batas waktu sebelum bisa dinikmati. Mata seolah mengganti pengalaman yang belum bisa dirasakan langsung.

Efek ini tidak hanya berlaku pada makanan. Banyak orang merasa lebih tertarik melihat katalog liburan, pakaian baru, atau dekorasi rumah saat puasa. Keinginan tersebut sering mereda setelah waktu berbuka tiba. Hal ini menunjukkan bahwa lapar mata lebih berkaitan dengan situasi menunggu daripada kebutuhan sebenarnya.

Lapar mata saat puasa sebenarnya merupakan bagian dari pengalaman sehari-hari selama Ramadan. Fenomena ini wajar dan sering dialami siapa saja tanpa disadari. Jika dipikirkan, bukankah menarik bahwa selama puasa justru mata yang terasa lapar, bukan hanya perut?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎