Comscore Tracker

Lepas Kuliah S2 London, Perempuan Ini Justru Pilih Jualan Sayur

"Berbuat" untuk Indonesia

Setelah lulus dari sekolah tinggi di luar negeri, apa yang umumnya orang-orang lakukan? Mencari pekerjaan dengan gaji sebesar-besarnya, meraih profesi-profesi prestisius, mengejar karier di perusahaan ternama, atau sekolah lagi?

Bagaimana kalau tiba-tiba melakukan hal yang tidak biasa dijalani orang? Semisal menerjunkan diri di perusahaan baru, berani mengambil risiko sebesar mungkin, dan rela meninggalkan zona nyaman?

Sama halnya yang dilakukan oleh Metha Trisnawati. Perempuan muda ini berani ambil sikap keluar dari zona nyaman untuk melakukan sesuatu yang besar. Apa itu?

Berhasil menyandang master untuk program studi technology entrepreneurship di University College London tak membuat Metha Trisnawati lupa daratan.

Lepas Kuliah S2 London, Perempuan Ini Justru Pilih Jualan Sayurtekno.liputan6.com

Sebagai orang pribumi yang lahir dari perut Ibu Pertiwi, Metha menyadari betul bahwa negaranya adalah negara agraris. Karena itu, gelar masternya ia manfaatkan untuk misi-misi yang tak jauh dari bidang pertanian.

Metha tak memikirkan bekerja di perusahaan besar dengan jabatan yang aman dan penghasilan yang tentu membuat nyaman. Ia malah bergabung dengan startup yang baru saja dibentuk pada Juli 2016, yakni Sayurbox. Gampangnya, ia memilih “berjualan” sayur online dengan visi dan misi yang membikin bulu kuduk merinding.

Ia digandeng dua rekannya di Sayurbox untuk bergabung, mengembangkan cara belanja dan memasarkan sayur-mayur berbasis digital. Tujuannya untuk membantu petani memasarkan hasil panen dengan memperoleh harga yang optimal. Selain itu, ia dan rekan-rekannya ingin membuat ibu-ibu rumah tangga merasa beruntung lantaran mendapatkan sayur dari pihak pertama dengan keadaan yang masih utuh, berkualitas baik, dan harga yang tak terlampau mahal.

Baca Juga: 6 Mitos Start Up yang Wajib Kamu Tahu

Tujuan mulia memutus mata rantai jual-beli sayuran dari produsen ke konsumen inilah yang menggerakkan Metha berkecimpung di Sayurbox.

Lepas Kuliah S2 London, Perempuan Ini Justru Pilih Jualan Sayurthehoneycombers.com

Sebenarnya, apa itu Sayurbox? “Sayurbox itu konsepnya farm to table. Kalau kita tahu sekarang mata rantai petani sampai ke konsumen itu panjang. Dari petani sampai konsumen itu bisa lima poin, dari tengkulak, pasar besar, pasar kecil dan segala macam,” tutur Metha.

Musababnya, harus ada margin yang diambil setiap poin. Konsumen akan dapat harga lebih mahal. Sementara kualitas jadi menurun. “Jadi Sayurbox adalah sarana untuk memotong rantai supply yang panjang dari petani ke konsumen supaya keduanya untung,” katanya.

Dalam hal ini, petani bisa mendapatkan harga lebih fair, sementara konsumen bisa mendapatkan harga lebih baik dengan kualitas yang tak kalah baik pula.

Lepas Kuliah S2 London, Perempuan Ini Justru Pilih Jualan Sayurinstarix.com

Untuk melancarkan programnya ini, Metha menggandeng petani-petani di Jakarta dan kota-kota mitranya, seperti Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Depok. Ada pula yang dari Sukabumi dan Bandung. Total, sampai saat ini ada 22 petani, baik individu maupun bawah yayasan, telah bekerja sama dengan Sayurbox. Mulanya, tim Sayurbox terjun sendiri ke lapangan untuk membidik para petani yang mau diajak bermitra.

Lama-kelamaan, ada yang datang sendiri untuk menawarkan kerja sama itu. Petani yang digandeng pun tak sembarangan. Dari bibit, bebet, dan bobot hasil pertaniannya sangat ditimbang. Sebab, mereka berfokus pada hasil sayuran organik yang high quality.

“Kami lihat dulu bagaimana cara menanam, bagaimana mereka cara melakukan panen, jadi dari segi kualitas kami ingin petani dapat pengetahuan baru. Kami datang ke kebun. Pingin lihat kalau panenannya bebas pestisida. Lalu kami lihat, mereka punya sertifikat organik atau tidak,” tutur Metha.

Perempuan bertubuh mungil itu begitu getol menciptakan inovasi. Pikirannya terus berputar bagaimana supaya sayur dengan kualitas terbaik sesegera mungkin sampai ke konsumen yang membutuhkan. Setelah melakukan banyak riset, ia pun memutuskan untuk menerapkan sistem pre order.

Jadi, pembeli akan memesan lebih dulu. Kemudian pihak Sayurbox akan menyampaikan pesanan ke petani. “Jadi panen item petani sesuai dengan yang kami order. Enggak ada kelebihan panen yang akhirnya enggak bisa dijual,” tutur Metha. “Setelah itu, petani kirim panennya ke hub kami, lalu kami kirim ke konsumen,” katanya, menambahkan.

Dengan segala kemampuannya, Metha ingin kebutuhan orang-orang di kota besar, yang kini sulit menemukan sayur dengan kualitas baik, bakal terpenuhi.

Lepas Kuliah S2 London, Perempuan Ini Justru Pilih Jualan SayurFrancisca Christy Rosana/IDNTimes.com

Secara bertahap, ia ingin melakukan ekspansi ke kota lain, bahkan sampai seluruh Indonesia. Ia yakin, dengan jalan ini, agriculture Indonesia akan maju, seperti layaknya di negara-negara lain. Selain itu, ia ingin membangkitkan semangat anak muda kembali ke ladang. Tak menganggap profesi petani sebagai pekerjaan yang rendahan.

Agriculture adalah salah satu kekuatan Indonesia sebagai bangsa. Tapi sayang sekali banyak tantangan yang dihadapi di agrokultur tapi belum ditemui solusinya. Jadi petani itu kayaknya kurang sejahtera. Kami ingin supaya pertanian itu jadi lahan seksi lagi dan orang ingin balik lagi jadi petani,” katanya.

Dengan menerjunkan diri di bidang baru ini, Metha tak takut. Ia justru merasa beruntung dan tertantang karena memiliki kesempatan belajar yang lebih besar. “Aku ingin memberikan impact yang lebih luas bagi Indonesia, khususnya di bidang pertanian,” kata lulusan Teknik Industri ITB yang menduduki posisi Chief Product Officer Sayurbox itu.

Baca Juga: 16 Hal Ini Bisa Membuatmu yang Bekerja di Start-Up Company Tersenyum

Topic:

Berita Terkini Lainnya