Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan Gen Z Pilih Lifestyle Analog dan Tinggalkan Streaming
ilustrasi seorang remaja peremuan menikmati musik (pexels.com/@cottonbro)
  • Gen Z mengalami digital fatigue akibat paparan layar berlebihan, mendorong mereka mencari keseimbangan lewat aktivitas analog seperti mendengarkan vinyl, memotret dengan kamera film, dan membaca majalah cetak.
  • Piringan hitam kembali populer karena dianggap memberi rasa kepemilikan musik yang nyata dan pengalaman mendengarkan yang lebih fokus dibanding streaming yang serba instan.
  • Gerakan analog bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan cara Gen Z menyeimbangkan hidup digital dengan pengalaman fisik yang lebih lambat, autentik, dan bermakna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kamu mungkin pernah merasa jenuh scrolling media sosial selama dua jam, tapi tidak bisa berhenti. Atau tiba-tiba sadar sudah berganti-ganti playlist di platform musik tanpa benar-benar menikmati satu lagu pun sampai habis. Kalau iya, kamu tidak sendirian karena itulah yang disebut digital fatigue, dan ternyata kondisi ini mendorong jutaan anak muda di seluruh dunia untuk kembali memeluk hal-hal yang tampak "kuno".

Yang mengejutkan, justru Gen Z yang paling keras merespons fenomena ini. Generasi yang lahir dan besar bersama internet itu kini ramai-ramai membeli piringan hitam, mengganti smartphone dengan kamera film, dan memilih membaca majalah cetak daripada artikel online. Ini bukan sekadar nostalgia cemen, melainkan pergerakan yang nyata. Berikut alasan Gen Z pilih lifestyle analog dan tinggalkan streaming.

1. Digital fatigue Itu nyata dan sudah ada datanya

Ilustrasi seseorang duduk kelelahan di depan laptop (pexels.com/@n-voitkevich)

Sebelum bicara soal tren piringan hitam atau kamera film, penting untuk memahami terlebih dahulu mengapa semua ini terjadi. Digital fatigue bukan sekadar istilah keren yang dipakai kubu anti-teknologi. Ini kondisi nyata di mana paparan layar yang berlebihan menghasilkan kelelahan emosional dan fisik yang cukup serius.

Dilansir Speakwise, rata-rata orang dewasa Amerika Serikat kini menghabiskan lebih dari 7 jam per hari di depan layar, dan hampir separuh pekerja yang disurvei mengaku mengalami digital fatigue sebagai bentuk kelelahan akibat interaksi digital yang berlebihan. Yang menarik adalah laporan VML tahun 2026, tercatat sebanyak 35 persen konsumen Gen Z global secara aktif memilih hobi analog sebagai respons langsung terhadap kelelahan digital tersebut.

Artinya, pergeseran ini bukan tren dadakan yang lahir dari satu video viral. Melainkan ini merupakan reaksi kolekstif dari generasi yang mulai sadar bahwa hidup serba digital tidak selalu berarti lebih baik.

2. Piringan hitam kembali jadi simbol kepemilikan musik

ilustrasi perempuan memutar piringan hitam atau vinyl (pexels.com/@ron-lach)

Kalau kamu mengira vinyl hanya digemari kakek-kakek penggemar jazz, pikir lagi. Dilansir Vinyl Alliance, penjualan vinyl di Amerika Serikat tumbuh 9,3 persen year-over-year dan mencatat tahun ke-19 pertumbuhan berturut-turut menurut laporan RIAA. Secara global, dilansir Inspiredbybeatz mengutip IFPI Global Music Report 2026, pendapatan vinyl dunia tumbuh 13,7 persen dengan total pendapatan fisik global mencapai 5,3 miliar dolar, di mana AS untuk pertama kalinya sejak era 1980-an berhasil menembus angka 1,04 miliar dolar dari penjualan vinyl saja.

Satu poin yang semakin menarik adalah siapa pembelinya. Berdasarkan laporan Gen Z & Vinyl dari Vinyl Alliance, sebanyak 76 persen responden Gen Z mengaku membeli piringan hitam karena ingin memiliki salinan fisik dari musik yang mereka cintai. Streaming membuat musik terasa seperti air keran yang mengalir terus tanpa henti. Vinyl membuatnya terasa terbatas, berharga, dan bisa dipegang secara harfiah.

Ritualnya pun jadi bagian dari daya tarik tersendiri. Memilih piringan, mengeluarkannya dari sampul, meletakkan jarum dengan hati-hati, dan mendengarkan satu album penuh dari sisi A ke sisi B adalah pengalaman yang sangat berbeda dari sekadar klik "shuffle" di platform musik.

3. Kamera film bangkit karena foto "imperfect" lebih jujur

ilustrasi anak muda menggunakan kamera analog (pexels.com/@cristian-rojas)

Di era filter Instagram dan AI foto enhancer, justru foto dengan grain dan sedikit blur yang terasa paling autentik. Inilah yang mendorong kebangkitan kamera film di kalangan Gen Z, termasuk di Indonesia, di mana komunitas pencinta kamera analog tumbuh pesat di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Dilansir Woke Waves Magazine edisi Maret 2026, penjualan kamera film point-and-shoot dan SLR vintage melonjak secara signifikan bersama tren analog yang lebih luas. Para pembeli muda tidak hanya mencari estetika retro untuk konten media sosial. Mereka benar-benar menikmati proses yang lambat dan penuh pertimbangan dari fotografi film. Karena satu rol hanya berisi 24 atau 36 frame, setiap jepretan menjadi keputusan yang disengaja.

Bukan cuma itu, aspek kejutan dari menunggu hasil cetak yang tidak bisa langsung dilihat justru menciptakan antisipasi yang menyenangkan. Ini pengalaman yang hampir tidak pernah dirasakan oleh generasi yang terbiasa langsung cek galeri foto setelah memotret.

4. Majalah Cetak Balik Lagi karena Otak Perlu Istirahat dari Layar

ilustrasi seorang perempuan membaca majalah cetak di kafe (pexels.com/@serdargoksu)

Siapa sangka majalah cetak akan bangkit saat zaman TikTok? Tapi inilah yang terjadi. Dilansir Music News Blitz, peritel besar Inggris John Lewis bahkan sampai memperluas lini CD player mereka untuk memenuhi lonjakan permintaan, dengan penjualan naik 74 persen dalam setahun terakhir. Tren serupa juga terjadi pada majalah cetak independen yang bermunculan kembali di berbagai kota besar dunia, termasuk di Asia.

Penjelasannya cukup sederhana: otak manusia benar-benar membutuhkan jeda dari layar. Membaca teks di kertas melibatkan mekanisme kognitif yang berbeda dibandingkan dengan membaca di layar, dan banyak penelitian menunjukkan bahwa pemahaman membaca di media cetak cenderung lebih dalam. Tidak ada notifikasi yang menyela, tidak ada hyperlink yang menggoda, dan tidak ada autoplay konten berikutnya yang mengambil alih perhatian.

Bagi Gen Z yang terbiasa multitasking digital, duduk dan membaca majalah dari halaman ke halaman justru terasa seperti kemewahan baru. Ini bukan kemunduran, ini pilihan yang disengaja untuk melambat di tengah dunia yang terus berputar cepat.

5. Analog Bukan Pengganti Digital, tapi Pelengkap yang Lebih Manusiawi

ilustrasi menikmati lagu dari Taylor Swift di smartphone dengan vinyl sebagai sentuhan analog di latar (unplash.com/@shegiva)

Satu hal yang penting untuk diluruskan adalah gerakan analog ini tidak anti-teknologi. Dilansir Inspiredbybeatz mengutip IFPI Global Music Report 2026, sebanyak 36 persen pembeli vinyl Gen Z mengaku pertama kali menemukan lagu yang mereka beli melalui Spotify. Jadi streaming tetap digunakan sebagai mesin penemuan, sementara vinyl jadi pernyataan kepemilikan.

Polanya sama di fotografi dan media cetak. Gen Z tetap pakai Instagram untuk berbagi foto film mereka, tetap baca artikel online, tetapi secara sadar menyisipkan momen-momen analog sebagai penyeimbang. Ini tentang membangun ritual yang terasa lebih nyata, lebih lambat, dan lebih penuh niat di tengah kehidupan digital yang serba instan.

Kalau dipikir-pikir, mungkin inilah bentuk kedewasaan digital yang sesungguhnya: bukan menolak teknologi, tapi tahu kapan harus meletakkannya sejenak dan memilih pengalaman yang tidak bisa di-screenshot.

Keputusan Gen Z pilih lifestyle analog dan tinggalkan streaming bukanlah tren yang akan hilang begitu saja. Melainkan sinyal bahwa generasi ini sedang mendefinisikan ulang arti "terhubung" dengan cara yang jauh lebih bernuansa. Mungkin sudah saatnya kamu juga mulai bertanya: kapan terakhir kali kamu benar-benar menikmati sesuatu tanpa merekamnya untuk konten?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team