Kamu mungkin pernah merasa jenuh scrolling media sosial selama dua jam, tapi tidak bisa berhenti. Atau tiba-tiba sadar sudah berganti-ganti playlist di platform musik tanpa benar-benar menikmati satu lagu pun sampai habis. Kalau iya, kamu tidak sendirian karena itulah yang disebut digital fatigue, dan ternyata kondisi ini mendorong jutaan anak muda di seluruh dunia untuk kembali memeluk hal-hal yang tampak "kuno".
Yang mengejutkan, justru Gen Z yang paling keras merespons fenomena ini. Generasi yang lahir dan besar bersama internet itu kini ramai-ramai membeli piringan hitam, mengganti smartphone dengan kamera film, dan memilih membaca majalah cetak daripada artikel online. Ini bukan sekadar nostalgia cemen, melainkan pergerakan yang nyata. Berikut alasan Gen Z pilih lifestyle analog dan tinggalkan streaming.
