Ilustrasi Menjelajah Media Sosial (Pexels.com/www.kaboompics.com)
Sayangnya, tiap orang punya 'efek samping' yang berbeda-beda. Ada yang tidak menerapkan batasan sehingga ia mudah terpengaruh oleh kehidupan orang lain sehingga kehilangan identitasnya.
"Habis lihat satu orang yang lebih baik, kita menjadi seperti dia. Lihat lagi orang yang lebih baik, jadi ingin seperti dia lagi. Lama-lama kita kehilangan identitas. Padahal sebenarnya kita udah ada identitas tapi blur. Kalau ditanya kenapa, social comparison itu otomatis dilakukan otak untuk mencari kebenaran," tutur Joe.
Maka dari itu, yang sebenarnya perlu dialkukan adalah meningkatkan awareness diri. Memilih menggunakan media sosial sama dengan menerima konsekuensi bahwa sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupanmu.
"Ah aku mah gak peduli, eh tapi ternyata dia cakep juga ya"
Mungkin kamu pernah memikirkan hal itu. Di situlah, seseorang butuh awareness.
Ia juga menuturkan, "Awareness tuh ibarat kayak filter yang ngebantu supaya gak sembarangan hal masuk tanpa kita sadari. Jadi setidaknya kalau misalnya udah nyangkut di filter kita kayak, 'Oh aku udah mulai terpengaruh lagi nih, aku udah susah tidur semalaman kepikiran', itu yang kita perlu mulai batasi dengan cara pakai fitur-fitur yang ada, misalnya hide. See less often. Itu semua fitur kan dibuat untuk suatu tujuan dan gak ada salahnya untuk kita pakai atau mute dulu sementara."