Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gimana Caranya Gak Membandingkan Diri Tanpa Meninggalkan Media Sosial?
ilustrasi membandingkan diri di media sosial (pexels.com/Ivan S)
  • Membandingkan diri di media sosial adalah respons alami otak menurut teori Social Comparison, yang membantu manusia mengevaluasi diri dan mencari standar dalam hidup.
  • Kesadaran diri atau awareness penting sebagai filter agar tidak mudah terpengaruh oleh kehidupan orang lain, dengan memanfaatkan fitur seperti hide atau mute untuk menjaga kesehatan mental.
  • Motivasi bermain media sosial perlu dicek kembali, apakah untuk mengekspresikan diri atau mencari validasi, karena kepercayaan diri sejati tidak bergantung pada likes maupun komentar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Hidup di era media sosial gak terlepas dari yang namanya perbandingan sosial. Media sosial penuh dengan kehidupan orang lain, pencapaian, penampilan, dan momen-momen terbaik mereka. Gak heran kalau media sosial bisa menyebabkan seseorang kemudian membandingkan dirinya sendiri.

Tapi kenyataannya, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sedikit dari sisi kehidupan yang sebenarnya. Sebenarnya, gimana caranya supaya gak terus menerus membandingkan diri? Apalagi bagi sebagian orang, media sosial adalah tempatnya bekerja. Lantas, apakah mungkin bisa benar-benar tidak membandingkan diri sendiri tanpa melepaskan media sosial?

1. Pahami dulu bahwa membandingkan diri adalah respons natural otak

ilustrasi social comparison (unsplash.com/icons8)

Dalam dunia psikologi, membandingkan diri dijelaskan dalam sebuah teori bernama Social Comparison Theory. Teori ini dicetuskan pertama kali oleh psikolog sosial bernama Leon Festinger pada tahun 1954. Pada waktu itu, teori ini menjelaskan bahwa adanya perbandingan sosial yang mencakup opini dan kemampuan. Namun kemudian, social comparison theory terus berkembang.

Kini, social comparison theory berhubungan dengan kebutuhan untuk mengevaluasi diri sendiri. Ini juga yang dijelaskan oleh Psikolog Klinis Joe Irene di BeautyFest Asia Jakarta 2026 pada Jumat (29/5/2026). Orang cenderung membandingkan diri mereka untuk memenuhi keinginan dasar.

"Kita perlu pahami dulu bahwa itu adalah respons natural otak kita untuk bisa merasa cukup. Jadi kita mencari standar. 'Hm aku udah cukup cantik belum ya? Aku udah cukup berprestasi belum ya? Aku udha cukup belum ya untuk umurku segini?'. Jadi, sebenarnya otomatis kita akan membandingkan," jelas Joe.

Joe menjelaskan bahwa perbandingkan sosial itu akan selalu ada. Itulah yang dilakukan otak untuk mencari kebenaran terhadap suatu hal. Ini bentuk evaluasi diri sendiri sehingga otak bekerja untuk menjawab hal tersebut.

2. Tingkatkan awareness sebagai alat filter di media sosial

Ilustrasi Menjelajah Media Sosial (Pexels.com/www.kaboompics.com)

Sayangnya, tiap orang punya 'efek samping' yang berbeda-beda. Ada yang tidak menerapkan batasan sehingga ia mudah terpengaruh oleh kehidupan orang lain sehingga kehilangan identitasnya.

"Habis lihat satu orang yang lebih baik, kita menjadi seperti dia. Lihat lagi orang yang lebih baik, jadi ingin seperti dia lagi. Lama-lama kita kehilangan identitas. Padahal sebenarnya kita udah ada identitas tapi blur. Kalau ditanya kenapa, social comparison itu otomatis dilakukan otak untuk mencari kebenaran," tutur Joe.

Maka dari itu, yang sebenarnya perlu dialkukan adalah meningkatkan awareness diri. Memilih menggunakan media sosial sama dengan menerima konsekuensi bahwa sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupanmu.

"Ah aku mah gak peduli, eh tapi ternyata dia cakep juga ya"

Mungkin kamu pernah memikirkan hal itu. Di situlah, seseorang butuh awareness.

Ia juga menuturkan, "Awareness tuh ibarat kayak filter yang ngebantu supaya gak sembarangan hal masuk tanpa kita sadari. Jadi setidaknya kalau misalnya udah nyangkut di filter kita kayak, 'Oh aku udah mulai terpengaruh lagi nih, aku udah susah tidur semalaman kepikiran', itu yang kita perlu mulai batasi dengan cara pakai fitur-fitur yang ada, misalnya hide. See less often. Itu semua fitur kan dibuat untuk suatu tujuan dan gak ada salahnya untuk kita pakai atau mute dulu sementara."


3. Cek motivasimu apakah ingin mengekspresikan diri atau mencari validasi

Ilustrasi Inklusivitas di Media Sosial (Pexels.com/Fauxels)

Seringkali seseorang terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain sampai melupakan apa yang mereka butuhkan. Terlalu takut dengan opini orang lain bisa membuat seseorang enggan mengunggah apa pun di media sosial. Ada yang takut dianggap jahat, menyindir, atau takut dengan hate comment.

"Balik lagi, yang paling penting kesehatan siapa? Fokuslah ke kesehatanmu. Misalnya mute story itu gak harus musuhan, gak harus unfollow, gak harus menaruh hate comment. Tapi kita bisa menjaga diri dengan fitur-fitur itu," ucap Joe.

Salah satu hal yang membuat manusia terus membandingkan diri adalah motivasinya yang salah. Coba deh cek motivasimu saat bermain media sosial. Apakah kamu benar-benar ingin mengekspresikan diri atau mencari validasi?

Kepercayaan diri yang asli (genuine confidence) gak seharusnya bergantung pada validasi eksternal seperti jumlah likes atau komentar. Fokuslah pada ekspresi diri dan niat yang tulus daripada sekadar mencari pengakuan orang lain.

Editorial Team

Related Article