Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Fiksi Korea Terjemahan Terbaru, Ada Fiksi Ilmiah dan Surealisme

6 Fiksi Korea Terjemahan Terbaru, Ada Fiksi Ilmiah dan Surealisme
rekomendasi fiksi Korea terbaru 2025–2026 (dok. Simon and Schuster/If We Cannot Go at the Speed of Light | dok. HarperCollins/Counterattacks at Thirty)
Intinya Sih
  • Fiksi Korea terbaru didominasi genre fiksi ilmiah, surealisme, dan fiksi spekulatif.

  • Daftarnya memadukan novel dan kumpulan cerpen dengan premis yang unik serta tak terduga.

  • Buku-buku ini cocok untuk pembaca yang ingin mencoba fiksi Korea di luar genre healing fiction.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kangen baca fiksi dari Korea Selatan, tetapi ogah yang healing fiction? Coba beberapa buku fiksi terjemahan Korea terbaru yang rilis sepanjang 2025–2026 ini, deh. Beberapa waktu belakangan, genre fiksi ilmiah dan surealisme justru sedang mendominas jagat sastra Korsel. Setidaknya, ini yang baru diterjemahkan ke bahasa Inggris, ya.

Kalau kamu menggemari karya-karya antiknya penulis Jepang Mieko Kawakami dan Sayaka Murata, rasanya kamu bakal menyukai keenam buku fiksi ini. Ada apa saja? Simak, yuk!

1. Broccoli Punch (Lee Yuri)

Broccoli Punch karya Lee Yuri
Broccoli Punch karya Lee Yuri (dok. Heloise Press/Broccoli Punch)

Broccoli Punch adalah kumcer alias kumpulan cerpen karya Lee Yuri yang cukup unik strukturnya. Semua cerpennya dimulai dengan latar dan premis yang tampaknya santai serta realistis sampai perlahan mereka jadi tak tertebak sekaligus ganjil. Ada anak perempuan yang menemukan kalau ayahnya bisa hidup lagi ketika abu jasad ayahnya ditaburkannya ke pot berisi pohon buah. Ada juga pria lajang dan obesitas yang terkucil dari pergaulan karena bisa berbicara dengan batu. Masih banyak lainnya dan seru-seru.

2. The New Seoul Park Jelly Massacre (Cho Yeeun)

The New Seoul Park Jelly Massacre karya Cho Yeeun
The New Seoul Park Jelly Massacre karya Cho Yeeun (dok. Honford Star/The New Seoul Park Jelly Massacre)

Disusun seperti kumcer dengan perspektif berbeda-beda pada tiap bab, buku ini sebenarnya berisi cerita yang saling berkaitan. Titik temunya adalah jeli yang dijual seorang pria paruh baya di sebuah wahana wisata. Apa yang terjadi pada mereka dan apa hubungannya dengan jeli itu? Siapa sebenarnya si penjual jeli? Memadukan fantasi, misteri, dan thriller, ini tipe fiksi yang bikin kamu bergadang karena penasaran. Premisnya terdengar absurd, tetapi menohok semua.

3. If We Cannot Go at the Speed of Light (Kim Cho Yeop)

If We Cannot Go at the Speed of Light karya Kim Cho Yeop
If We Cannot Go at the Speed of Light karya Kim Cho Yeop (dok. Simon & Schuster/If We Cannot Go at the Speed of Light)

Mengusung genre fiksi ilmiah, If We Cannot Go at the Speed of Light juga berformat kumpulan cerpen. Kamu akan berkenalan dengan beberapa karakter dengan kisah hidup yang lumayan tragis dan absurd. Kebanyakan dari mereka perempuan dan kelompok rentan lain yang jadi korban diskriminasi. Ada seorang nenek yang menceritakan alasan mengapa ia bertahan di sebuah stasiun ruang angkasa terbengkalai. Ada juga tentang seorang perempuan yang belum bisa menerima dihapusnya data-data mendiang ibunya secara serentak di stasiun penyimpanan khusus. Bahasa keren lain untuk tipe buku macam ini adalah fiksi spekulatif. Sudah pernah baca?

4. A Thousand Blues (Cheon Seon Ran)

A Thousand Blues karya Cheon Seon Ran
A Thousand Blues karya Cheon Seon Ran (dok. Penguin/A Thousand Blues)

Cheon Seon Ran menawarkan novel fiksi ilmiah distopia lewat A Thousand Blues. Novel ini berlatar Korea pada masa depan, tepatnya di sebuah wilayah satelit Seoul bernama Gyeonggi-do. Pada era itu, robot sudah menggantikan banyak pekerjaan manusia dan salah satu robot yang dimaksud jadi narator cerita. Ia bernama C-27 dan sang pengembangnya tak sengaja memasang cip yang seharusnya tidak ia miliki. Alhasil, C-27 punya kapasitas belajar dan kemampuan berbeda dari rekan-rekannya. Apa itu dan bagaimana kepelikannya terbangun?

5. Hunger (Choi Jin Young)

Hunger karya Choi Jin Young
Hunger karya Choi Jin Young (dok. Europa Editions/Hunger)

Hunger adalah cerita Gu dan Dam, dua sejoli yang sejak SD tak terpisahkan. Namun, kebersamaan mereka terhenti begitu saja ketika Gu dibunuh rentenir karena utang keluarganya. Dam yang tenggelam dalam rasa duka mendalam akhirnya melakukan sebuah ritual ekstrem. Bukannya mengubur atau melakukan kremasi jenazah, Dam justru menyimpan, membersihkan, memasak, dan memakan jenazah Gu. Ia percaya itu membuat Gu hidup selamanya dalam dirinya.

6. Counter Attacks at Thirty (Sohn Won Pyung)

Counter Attacks at Thirty karya Sohn Wong Pyung
Counter Attacks at Thirty karya Sohn Wong Pyung (dok. HarperCollins/Counter Attacks at Thirty)

Dari penulis yang pernah sukses gara-gara novel Almond, Counter Attack at 30 adalah sebuah novel yang menyorot budaya gila kerja Korea. Lakonnya Jih Ye, pegawai kantoran yang sebenarnya muak dengan pekerjaannya, tetapi terpaksa bertahan. Saat ada acara di luar jam kerja, Jih Ye punya cara untuk menghindar. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan Gyuok, pegawai magang yang menginspirasinya untuk melakukan perlawanan langsung, bukan hanya menghindar. Perlahan, gak hanya mereka berdua, beberapa orang lain ikut dalam gerakan pemberontakan itu.

Penulis Korea Selatan gak berhenti bikin kita ternganga dengan kecerdikan cerita gubahan mereka. Penggemar fiksi spekulatif yang ingin menantang diri harus coba fiksi-fiksi terjemahan terbaru di atas. Ada yang menarik minatmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More