Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gimana Caranya Menghadapi Orang Narsis? Ini Kata Psikolog!
Psikolog Klinis Joe Irene saat mengisi talkshow di BeautyFest Asia 2026 by Popbela.com di Mall Kota Kasablanka pada Jumat (29/5/2026). (IDN Times/Adyaning Raras)
  • Psikolog Joe Irene menjelaskan bahwa narsis bisa bersifat sehat jika disertai empati, kepercayaan diri seimbang, dan relasi yang baik, berbeda dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).
  • Joe menekankan pentingnya menjaga batasan pribadi serta interaksi singkat dan faktual agar tidak terjebak dalam manipulasi orang narsis, terutama di lingkungan kerja.
  • Ia menyarankan konseling sebagai cara memperbaiki relasi dengan individu narsis dan mengatur ketidaknyamanan emosional tanpa melakukan self-diagnose sembarangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Narsis menjadi sifat yang lekat dalam diri manusia. Namun, gak semua orang yang narsis itu punya konotasi buruk. Psikolog Klinis Joe Irene menjelaskan bahwa ada "narsis" yang sehat. Apa maksudnya?

Narsis yang sehat memungkinkan seseorang punya empati, kepercayaan diri yang tidak berlebihan, dan tetap memiliki relasi yang sehat. Beda halnya dengan narsis yang terlalu ekstrem dan mengarah pada Narcissistic Personality Disorder (NPD).

"Belum tentu semua orang yang terlihat narsis atau ada ciri-ciri tadi terus udah pasti NPD, nggak gitu, kita gak mau sembarang diagnose juga. Ya, karena narsis tadi ada juga bagian dari diri kita," jelas Joe Irene dalam talskhow yang digelar oleh BeautyFest Asia (BFA) 2026 di Jakarta Selatan, pada Jumat (29/5/2026).

Jadi, langkah apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan orang yang narsis? Simak kata psikolog di sini!


1. Punya batasan atau bounderies

ilustrasi bertengkar dengan sahabat (pexels.com/Liza Summer)

Menurut Joe, penting untuk seseorang menjaga bounderies atau batasan dalam hal apa pun. Pasalnya, orang yang narsis sangat suka ketika orang lain mengaguminya. Namun di sisi lain, mereka juga bisa memunculkan pola merendahkan atau menyalahkan apabila narsisnya terlalu ekstrem.

"Kalau kita bilang enggak ya enggak. Misalnya di pekerjaan sih biasa banyak juga. Di pekerjaan, kita berurusan sama temen yang kayaknya selalu merasa dirinya paling bener, si paling punya kuasa," cerita Joe.

Namun ketika berada membuat batasan di sini, artinya kamu juga harus berani menerima segala konsekuensinya. Secara tidak langsung, ada 'hukuman' sosial yang kamu akan kamu terima ketika menetapkan batasan dengan menolak permintaan seseorang.

"Tapi kalau kita mau menjaga diri sendiri, kita perlu punya batasan," sebutnya.


2. Jaga interaksi tetap singkat, faktual, dan transaksional

ilustrasi bertengkar dengan teman (pexels.com/Liza Summer)

Kedua, usahakan untuk terus menjaga interaksi secara singkat, faktual, transaksional. Mengapa? Terlalu terbawa emosi bisa memungkinkan kita masuk dalam manipulasi orang-orang yang narsis.

Joe mengatakan, "Apalagi di tempat kerja. Jangan terlalu kebawa sama dramanya. Kita perlu tenang dan netral."

Ada tips praktis yang diterapkan Joe agar tetap memiliki sikap profesional di tempat kerja. Ia menyarankan untuk mendokumentasikan segala interaksimu dengan orang yang narsis. Misalnya memaksimalkan interaksi via chat atau email. Mengapa harus begitu?

"Kalau nanti ada pembahasan atau suatu isu, kita diamankan dulu. Seringkali, gampang banget diputarbalikkan situasinya," sambungnya.

3. Konseling untuk memperbaiki relasi dan meregulasi ketidaknyamanan

ilustrasi konseling dengan psikolog (freepik.com/pressfoto)

Sebagai orang yang terbiasa menangani berbagai klien, Joe menemukan dua tipe orang yang narsis. Pertama, grandiose atau orang yang kelihatan narsisnya. Kedua, vulnerable yang cenderung playling victim, secara tidak langsung menunjukkan ciri-ciri narsis.

Berharapan dengan orang yang narsis memang butuh usaha yang ekstra. Kalau mereka punya kesadaran lebih terhadap suatu hal, kamu bisa mengajaknya untuk konseling.

"Konseling bisa membantu relasinya membaik sementara. Gak berarti narsisnya hilang ya, tapi bisa jadi membantu kalian punya relasi yang lebih enak," tutur Joe.

Itu dia tips singkat yang diutarakan Joe di BFA Asia Jakarta 2026. Ini jadi pengingat juga untuk gak sembarangan self diagnose, sekaligus ajakan untuk lebih aware pada diri sendiri!

Editorial Team

Related Article