Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ini 5 Hal Penting saat Membuat Mading Digital, Jangan Asal Desain

5 min read
Ini 5 Hal Penting saat Membuat Mading Digital, Jangan Asal Desain
dokumentasi Mading Xplore 2026
  • Mading digital perlu diawali dengan pesan utama dan hierarki informasi agar pembaca memahami fokus karya.

  • Elemen visual ditentukan setelah struktur informasi, lalu dijaga konsistensinya di seluruh karya.

  • Aset visual perlu memperhatikan hak cipta, sementara AI digunakan sebagai alat bantu dan bukan pembuat karya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - IDN Times Xplore 2026 menggelar kompetisi Mading Digital yang digelar untuk siswa tingkat SMA/Sederajat. Mengangkat tema “Redefining Teenage Power”, IDN Times Xplore 2026 ingin mengajak anak muda untuk mendefinisikan ulang cara bercerita dan menyuarakan perubahan.

Namun, mading digital bukan sekadar kumpulan teks, loh. Agar bisa menarik perhatian, mading juga perlu menonjolkan desain visual yang memikat dan gak bisa sembarangan. Supaya ada gambarannya, ini dia beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membuat mading digital. Apa saja?

  1. 1. Tentukan pesan dan hierarki informasi sebelum mendesain

    Ilustrasi bekerja
    Ilustrasi bekerja (magnific.com/magnific)

    Sebelum mulai mendesain, penting untuk menentukan pesan utama yang ingin disampaikan. Editor IDN Times Community, Kidung Swara Mahardika, menjelaskan bahwa ada banyak informasi yang bisa dimasukkan ke dalam mading tapi harus dipilah-pilah.

    “Tentuin dulu hierarkinya, segitiga piramida gitu, ya. Jadi yang paling besar, paling atas, adalah informasi utama yang pengen teman-teman tampilkan. Baru turun sampai ke informasi paling sekunder, yang mungkin hanya dekoratif atau pemanis,” katanya saat mengisi Technical Meeting IDN Times Xplore 2026 yang digelar secara online pada Rabu (7/10/2026).

    Menurutnya, secara hierarki judul bisa menjadi bagian paling atas atau paling utama. Jadi, fokus utama pembaca langsung tertuju pada judul dari mading itu. Setelah menentukan hierarki informasi, baru masuk ke aspek visual,

    “Setelah kita tahu nih, 'Apa sih yang mau kita sampaikan?' Pesannya gitu, ya. Terus apa yang mau kita tampilkan di dalam desain, baru teman-teman di proses paling akhir adalah misalnya menentukan warna, menentukan mau pakai font apa ya yang bagus kira-kira gitu. Atau mau pakai gaya apa ya? Mau pakai ilustrasi kah atau art yang kayak gimana? Nah itu baru teman-teman olah diproses paling belakang. Setelah teman-teman tahu pesan dan prioritas dan hierarkinya seperti apa,” jelasnya.

  2. 2. Visual adalah tahap akhir dalam proses desain

    ilustrasi wanita sedang melakukan desain grafis
    ilustrasi wanita sedang melakukan desain grafis (pexels.com/pavel-danilyuk)

    Setelah menentukan struktur informasi, barulah menentukan elemen visual, seperti warna, tipografi, ilustrasi, dan layout. Jadi, visual sebenarnya adalah tahap akhir setelah menentukan informasi apa saja yang harus ada di dalam mading.

    “Ketika proses ini sudah dilalui, teman-teman tuh bisa mempersembahkan suatu desain, yang lihat desain kita itu tahu mau melihat apa, memahami apa, dan mau merasakan apa gitu setelah melihat karya desain teman-teman,” jelas Kidung.

  3. 3. Jaga konsistensi desain keseluruhan karya mading digital

    ilustrasi graphic designer, desain grafis
    ilustrasi graphic designer, desain grafis (pexels.com/Jonathan Borba)

    Berhubung ada banyak jenis karya yang harus dibuat dalam kompetisi mading digital IDN Times Xplore 2026, Kidung menyarankan untuk terus menjaga konsistensi desain secara keseluruhan. Gak harus sama, tetapi ada baiknya keseluruhan karya mading punya nuansa yang sama.

    “Memang gak harus sama, tapi bagaimana teman-teman bisa membuat mading itu terasa satu keluarga. Misal, mungkin dari warna, jumlah penggunaan font misalnya cuma mau pakai tiga font, satu font utama dan dua font pendukung atau mungkin ilustrasinya,” ucapnya.

    Ia menyarankan agar setiap karya masih punya kesamaan dengan karya lainnya dalam kompetisi ini. Jangan juga menggunakan template supaya kreativitas bisa terus diolah dan tidak terlihat kaku.

  4. 4. Hati-hati dalam memilih aset visual

    Ilustrasi desain grafis
    Ilustrasi desain grafis (pexels.com/George Milton)

    Yang gak kalah penting dari pembuatan mading digital ini adalah memperhatikan hak cipta dari aset yang digunakan. Hormati hak cipta dalam penggunaan aset visual apa pun itu baik foto, elemen grafik, maupun video.

    “Jadi di Google itu gak semua yang teman-teman cari di Google itu bisa dipakai. Begitu juga entah dari Pinterest atau mungkin Wikipedia juga dan lain-lain itu gak semuanya bisa dipakai. Jadi teman-teman perlu selektif terkait hal ini. Kenapa? Karena ini menyangkut dengan aturan hukum juga,” katanya.

    Kidung menekankan agar kita lebih aware terhadap aset apa pun yang diambil dari internet. Ada baiknya menggunakan aset visual pribadi seperti foto pribadi atau elemen-elemen grafik yang memang dibuat sendiri. Kalau membutuhkan aset visual lainnya, juga perhatikan sumbernya dengan mencari yang free license. Kalau perlu menggunakan foto-foto publik figur, ada baiknya meminta izin terlebih dulu.

    “Ada beberapa situs atau platform gitu ya yang memang menyediakan aset-aset yang memang disediakan untuk digunakan secara bebas gitu. Mungkin kalau dari sini kita bisa lihat ada beberapa platform utama ini ya. Yang mungkin bisa digunakan adalah Freepik, Pexels, Unsplash, Pixabay, Canva, itu mereka menyediakan beberapa aset-aset yang eh sifatnya bebas digunakan gitu ya, tanpa copyright,” sambungnya.

    Kidung juga menambahkan, “Harus ada etika yang tepat karena kita kan juga harus menghargai karya orang lain, selain itu kita juga harus ngasih kredit. Selain itu, kita juga harus minta izin dulu nih, 'Yang punya, boleh gak ya aku, aku pakai karyanya di dalam karyaku sendiri?' gitu. Jadi setelah teman-teman izin, membuktikan izinnya, baru teman-teman baru bisa pakai”.

  5. 5. Gunakan AI sebagai alat bantu saja

    Ilustrasi Chat GPT
    Ilustrasi Chat GPT (Pexels.com/Matheus Bertelli)

    Dalam pembuatan mading digital, AI baiknya digunakan sebagai alat bantu saja. Dengan kata lain, AI tidak boleh dipakai untuk membuat suatu karya. AI dianjurkan untuk mencari inspirasi atau membantu proses berpikir dan menyusun tulisan.

    “Batasannya adalah hanya untuk membantu mempermudah dalam teman-teman proses berkaryanya. Tapi, karyanya itu sendiri tetap harus teman-teman sendiri yang bikin,” katanya.

    Itu dia beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum membuat suatu karya mading. Penting sekali memperhatikan desain visual karena itulah cara mengomunikasikan suatu pesan dengan cara yang kreatif. Sebelum benar-benar menyelesaikan mading, tanya dulu apakah pesannya sudah jelas, apakah visualnya sudah menyatu, dan apakah sumber asetnya sudah dicek?

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More