Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)
Media sosial punya pengaruh besar terhadap cara orang melihat kesehatan mental dan gaya hidup saat ini. Konten tentang healing, self-care, dan “kabur sebentar dari realita” terus muncul setiap hari. Awalnya memang bisa memberi hiburan atau inspirasi, tetapi lama-lama juga menciptakan tekanan baru.
Banyak orang merasa hidup mereka kurang bahagia jika tidak bisa ikut traveling, nongkrong di cafe mahal, atau membeli pengalaman yang dianggap estetik di internet. Tapi kamu perlu tahu bahwa media sosial bisa membuat seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain hingga memicu kecemasan dan rasa tidak puas.
"Perbandingan adalah pencuri kebahagiaan. Kamu saat ini menjalani impian-sampai kamu melihat apa yang dilakukan orang lain dengan uang mereka. Perbandingan dapat mencuri kebahagiaanmu," jelas physician philosopher Jimmy Turner, MD dikutip dari The Physician Philosopher.
"Perbandingan berpotensi mempercepat jalan kamu menuju kelelahan. Ini adalah faktor lain yang dapat mencuri identitasmu, meningkatkan stres finansial, dan memperburuk situasimu," tambahnya.
Setelah melihat standar healing di media sosial, mereka justru stres lagi karena kondisi keuangan tidak mendukung. Pada akhirnya, media sosial bukan cuma menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang yang diam-diam memperbesar tekanan mental dan ekonomi secara bersamaan.
Kesehatan mental seharusnya tidak menjadi kemewahan. Saat tekanan ekonomi meningkat dan nilai rupiah terus bergejolak, kebutuhan untuk merasa aman, tenang, dan stabil secara emosional justru semakin penting. Karena di tengah hidup yang makin mahal, banyak orang sebenarnya tidak mencari kesenangan berlebihan, mereka cuma sedang berusaha tetap waras.