Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Salah satu adegan film biopik Soenting Melajoe. (IDN Times/3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia)
Salah satu adegan film biopik Soenting Melajoe. (IDN Times/3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia)

Intinya sih...

  • Roehana Koeddoes, Pahlawan Nasional 2019

  • Pendidik yang mendobrak pingitan

  • Jurnalis perempuan pertama di Indonesia

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa, nama Raden Ajeng Kartini sering kali menjadi ikon tunggal emansipasi wanita. Namun, jauh di jantung Ranah Minang, tepatnya di Kotogadang, Sumatera Barat, hiduplah seorang tokoh luar biasa yang kiprahnya melampaui zamannya. Ia adalah Roehana Koeddoes (1884–1972). Melalui acara diskusi dan nonton bareng yang diselenggarakan oleh IDN Times dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), sosok Roehana kembali diangkat untuk mengingatkan generasi muda akan pentingnya literasi dan kemandirian.

​Roehana Koeddoes, yang secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2019, dikenal memiliki "tiga wajah" perjuangan: sebagai pendidik, jurnalis perempuan pertama, dan wirausahawan (entrepreneur) yang visioner.

​Wajah Pertama: Pendidik yang mendobrak pingitan

Pada 1911 Roehana Koeddoes mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) bagi perempuan di Kotogadang. (Wikimedia.org)

Lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi edukasi, Roehana beruntung memiliki ayah, Muhammad Rasyad Maharaja Soetan, yang mengajarkannya membaca, menulis, serta bahasa Melayu dan Belanda. Namun, ia menyadari tidak semua perempuan memiliki keberuntungan yang sama. Di zamannya, sistem "pingitan" sangat ketat; anak gadis tidak diizinkan bersekolah resmi.

​Menurut catatan dalam buku "Rohana Kudus: Riwayat Hidup dan Perjuangannya" (Tamar Djaja, 1980), Roehana menegaskan bahwa perempuan harus mendapat pendidikan agar tidak mudah ditakut-takuti atau dibodoh-bodohi. Demikian semangat yang ia tanamkan sejak awal abad ke-20. Semangat ini diwujudkan dengan berdirinya Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 11 Februari 1911. Bukan sekadar sekolah biasa, KAS adalah pusat pendidikan keterampilan bagi perempuan. Roehana mengajarkan baca-tulis huruf latin, berhitung, hingga urusan agama. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kebodohan dan keterbelakangan.

​Wajah Kedua: Jurnalis perempuan pertama di Indonesia

Soenting Melajoe (1912), koran perempuan pertama di Indonesia yang dipimpin Roehana Koeddoes. (Wikimedia.commons)

Perjuangan Roehana tidak berhenti di ruang kelas. Ia memahami bahwa suara perempuan harus didengar oleh publik yang lebih luas. Pada tahun 1912, dengan dukungan dari Datoek Soetan Maharadja (pemimpin redaksi Utusan Melayu), Roehana mendirikan surat kabar perempuan pertama di Indonesia, Sunting Melayu.

Nama Sunting merujuk pada hiasan kepala perempuan Minang, yang bermakna posisi istimewa bagi perempuan. Sebagaimana dikutip dari buku "Seabad Pers Perempuan di Indonesia" (Hanan Utoro, 2005), Roehana menggunakan medium ini untuk menyuarakan kegelisahan perempuan tentang poligami, pernikahan dini, dan pentingnya literasi. Bahkan, tokoh bangsa seperti Sutan Sjahrir di masa kecilnya banyak berinteraksi dengan Roehana untuk mengasah pemikiran kritisnya.

​Wajah Ketiga: Entrepreneur dan kemandirian ekonomi

Salah satu adegan film biopik Soenting Melajoe. (IDN Times/3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia)

Hal yang membuat Roehana Koeddoes terasa sangat modern bagi standar hari ini adalah visinya tentang kemandirian ekonomi. Melalui Kerajinan Amai Setia, ia tidak hanya mengajar menyulam dan menjahit, tetapi juga mengajarkan para ibu-ibu cara memasarkan hasil karya tersebut.

​Sejarah mencatat dalam dokumentasi "Wanita Indonesia: Sari Sejarah" (Cora Vreede-de Stuers, 2008), produk KAS bahkan diekspor hingga ke Eropa dan menjadi langganan para istri pejabat kolonial berkat manajemen pembukuan profesional yang diterapkan Roehana. Roehana mengelola pembukuan dengan sangat rapi dan transparan. Keberhasilan ekonomi ini memberdayakan ibu-ibu di Kotogadang untuk memiliki penghasilan sendiri, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.

​Ujian integritas dan pengabdian tanpa henti

Setiap perjuangan besar selalu menghadapi tantangan. Roehana pernah difitnah melakukan penggelapan uang yayasan, sebuah taktik yang sering digunakan untuk menjatuhkan tokoh yang berpengaruh. Namun, karena kerapian administrasinya, ia berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah di depan pengadilan Landraad.

​Meski sempat terluka oleh tuduhan tersebut, dedikasi Roehana tak pernah padam. Ia sempat pindah ke Medan dan terus menulis di surat kabar Perempuan Bergerak. Baginya, jurnalisme adalah alat untuk terus menjaga etika dan integritas. Hingga usia senjanya, dalam wawancara dengan TVRI pada tahun 1966, ia tetap menekankan bahwa kebebasan perempuan harus diimbangi dengan pengetahuan dan agama.

Di era sekarang, di mana akses informasi terbuka lebar melalui internet, sosok Roehana Koeddoes tetap relevan. Sebagaimana disampaikan dalam diskusi di IDN Times baru-baru ini yang dihadiri tokoh pers nasional, Uni Lubis menekankan bahwa semangat Roehana Koeddoes sangat krusial di tengah disrupsi informasi. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa tantangan perempuan saat ini telah bergeser ke ruang digital, namun akarnya tetap sama: literasi. "Roehana telah meletakkan fondasi bahwa keberanian untuk bersuara adalah harga mati," ujarnya.

Pada tahun 1972 tepatnya tanggal 21 Agustus. Roehana meninggal dunia, namun semangat perjuangannya tetap berkobar. Roehana mengajarkan bahwa setiap tulisan harus memiliki tujuan mulia. Warisan terbesarnya bukanlah sekadar tumpukan koran lama, melainkan keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan mampu menggerakkan perubahan sosial yang masif.

​Sebagai bangsa yang besar, kita diingatkan untuk tidak hanya merayakan perjuangan masa lalu, tetapi melanjutkan estafet tersebut. Seperti yang dikatakan Roehana dalam Sunting Melayu: "Kemajuan zaman tidak akan membuat kaum perempuan menyamai laki-laki...yang berubah adalah perempuan harus mendapat perlakuan dan pendidikan yang lebih baik."

Referensi:

Djaja, T. (1980). Rohana Kudus: Riwayat hidup dan perjuangannya. Mutiara.
Fitriyanti. (2001). Roehana Koeddoes: Tokoh pendidik dan jurnalis perempuan pertama Sumatera Barat. Yayasan Jurnal Perempuan.
IDN Times. (2026, February 9). Pengalaman menghadiri diskusi 3 wajah Roehana Koeddoes. (Diakses Februari 2026).
Kementerian Sosial RI. (2019). Penetapan Roehana Koeddoes sebagai pahlawan nasional. (Diakses Februari 2026).
Kompas TV. (2021, November 8). Soenting Melajoe: Surat kabar perempuan pertama di Hindia Belanda (Diakses Februari 2026).
Utoro, H. (2005). Seabad pers perempuan di Indonesia. Kompas.
Vreede-de Stuers, C. (2008). Wanita Indonesia: Sari sejarah. Yayasan Obor Indonesia

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team