Setiap perjuangan besar selalu menghadapi tantangan. Roehana pernah difitnah melakukan penggelapan uang yayasan, sebuah taktik yang sering digunakan untuk menjatuhkan tokoh yang berpengaruh. Namun, karena kerapian administrasinya, ia berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah di depan pengadilan Landraad.
Meski sempat terluka oleh tuduhan tersebut, dedikasi Roehana tak pernah padam. Ia sempat pindah ke Medan dan terus menulis di surat kabar Perempuan Bergerak. Baginya, jurnalisme adalah alat untuk terus menjaga etika dan integritas. Hingga usia senjanya, dalam wawancara dengan TVRI pada tahun 1966, ia tetap menekankan bahwa kebebasan perempuan harus diimbangi dengan pengetahuan dan agama.
Di era sekarang, di mana akses informasi terbuka lebar melalui internet, sosok Roehana Koeddoes tetap relevan. Sebagaimana disampaikan dalam diskusi di IDN Times baru-baru ini yang dihadiri tokoh pers nasional, Uni Lubis menekankan bahwa semangat Roehana Koeddoes sangat krusial di tengah disrupsi informasi. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa tantangan perempuan saat ini telah bergeser ke ruang digital, namun akarnya tetap sama: literasi. "Roehana telah meletakkan fondasi bahwa keberanian untuk bersuara adalah harga mati," ujarnya.
Pada tahun 1972 tepatnya tanggal 21 Agustus. Roehana meninggal dunia, namun semangat perjuangannya tetap berkobar. Roehana mengajarkan bahwa setiap tulisan harus memiliki tujuan mulia. Warisan terbesarnya bukanlah sekadar tumpukan koran lama, melainkan keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan mampu menggerakkan perubahan sosial yang masif.
Sebagai bangsa yang besar, kita diingatkan untuk tidak hanya merayakan perjuangan masa lalu, tetapi melanjutkan estafet tersebut. Seperti yang dikatakan Roehana dalam Sunting Melayu: "Kemajuan zaman tidak akan membuat kaum perempuan menyamai laki-laki...yang berubah adalah perempuan harus mendapat perlakuan dan pendidikan yang lebih baik."
Referensi:
Djaja, T. (1980). Rohana Kudus: Riwayat hidup dan perjuangannya. Mutiara.
Fitriyanti. (2001). Roehana Koeddoes: Tokoh pendidik dan jurnalis perempuan pertama Sumatera Barat. Yayasan Jurnal Perempuan.
IDN Times. (2026, February 9). Pengalaman menghadiri diskusi 3 wajah Roehana Koeddoes. (Diakses Februari 2026).
Kementerian Sosial RI. (2019). Penetapan Roehana Koeddoes sebagai pahlawan nasional. (Diakses Februari 2026).
Kompas TV. (2021, November 8). Soenting Melajoe: Surat kabar perempuan pertama di Hindia Belanda (Diakses Februari 2026).
Utoro, H. (2005). Seabad pers perempuan di Indonesia. Kompas.
Vreede-de Stuers, C. (2008). Wanita Indonesia: Sari sejarah. Yayasan Obor Indonesia