Pelajaran dari Roehana Koeddoes dalam Melawan Stigma Gender

- Pendidikan bagi perempuan adalah kunci melawan stigma gender
- Dukungan keluarga menjadi motivasi utama dalam perjuangan Roehana Koeddoes
- Kebebasan bertanggungjawab adalah kunci kesuksesan perempuan di dunia jurnalistik
Depok, IDN Times - Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional, IDN Times bersama Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar acara diskusi "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia". Peserta diajak menyelami sosok Roehana Koeddoes serta perjalanan hidupnya yang penuh inspirasi.
Roehana Koeddoes dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2019. Atas jasa-jasanya dalam bida jurnalistik dan dinobatkan sebagai jurnalis perempuan pertama. Tapi perjuangannya mengangkat isu perempuan bukan hanya seputar bidang jurnalistik. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan Roehana Koeddoes, terutama dalam melawan stigma gender.
1. Menjawab cemooh bahwa pendidikan bagi perempuan bukan upaya melawan takdir

Di tahun 1911, Indonesia masih dikuasai dengan paham bahwa takdir perempuan hanya seputar sumur, kasur, dan dapur. Artinya, perempuan hanya dibesarkan untuk menikah dan merawat rumah. Tanpa bisa menikmati pendidikan yang layak. Hanya laki-laki yang diperbolehkan mengenyam bangku sekolah.
Usaha Roehana Koeddoes mendirikan sekolah di halaman rumahnya mendapat kecaman dari warga sekitar. Roehana dituduh melawan takdir sebagai perempuan dan menyesatka perempuan lain. Tapi dengan lantang dia menjawab cemoohan tersebut.
Roehana mendirikan Kerajinan Amai Setia yang sekaligus menjadi jawaban dan pembuktian. Bahwa perempuan bisa mandiri dan membantu keluarga ketika mereka punya ilmu yang cukup. Secara tidak langsung, pendidikan menjadi jawaban.
2. Dukungan keluarga jadi bahan bakar penyemangat berjuang

Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang tahun 1884. Sejak kecil Roehana mempertanyakan kenapa perempuan tidak bisa duduk di bangku sekolah resmi? Ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan, menjawab pertanyaan tersebut dengan langsung mengajari Roehana baca tulis. Sehingga, Roehana sudah tumbuh di keluarga dengan pemikiran terbuka dan visioner.
Begitu pula dengan keluarga kecilnya setelah menikah. Suaminya, Abdoel Koeddoes, sangat mendukung perjuangan dan semua kegiatan Roehana. Tidak seperti laki-laki pada umumnya saat itu, Abdoel Koeddoes justru merasa bahwa pendidikan adalah hal penting yang perlu diterima oleh perempuan.
Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times, menggarisbawahi bahwa Roehana Koeddoes mendapatkan ekosistem pendukung yang baik. Ekosistem yang sulit didapatkan kala itu. Bahkan sampai sekarang, perempuan masih memerlukan ekosistem yang mendukung untuk terus berkarya.
3. Harus mengedepankan kebebasan yang bertanggungjawab

Di film biopik yang diputar di acara diskusi "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia", Roehana Koeddoes terlihat sedang diwawancara oleh seorang wartawan laki-laki. Menurut Roehana, dunia jurnalistik sangat baik untuk perjuangan para perempuan.
Karena dunia jurnalistik bisa membuka pintu kebebasan bagi para perempuan. Namun, Roehana berpesan bahwa kebebasan itu tetap harus bertanggungjawab, sesuai dengan nilai agama dan etika.
Roehana Koeddoes bukan hanya jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dia adalah perwujudan dari sosok panutan sekaligus revolusioner yang melampaui zamannya. Roehana memiliki pandangan yang visioner dan berhasil membuktikan bahwa pena dan pikiran adalah senjata paling kuat untuk memperjuangkan martabat perempuan. Di tengah himpitan stigma, dia tetap berdiri kokoh sebagai suara yang tak pernah padam bagi kemajuan perempuan Indonesia.

















