Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Wajah Roehana Koeddoes: Jurnalis, Pendidik, dan Penjaga Nurani Pers

Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Intinya sih...
  • Roehana Koeddoes: jurnalis, pendidik, dan penggerak ekonomi perempuan
  • Jurnalis progresif dengan visi pembebasan perempuan
  • Pendidikan sebagai fondasi kemandirian dan jalan keluar dari ketergantungan struktural
  • Relevansi Roehana dengan kondisi pers saat ini
  • Tantangan jurnalis perempuan di era modern dan nilai-nilai jurnalisme yang relevan
  • Pentingnya solidaritas dan ekosistem yang mendukung jurnalis perempuan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026, IDN Times bersama Yayasan Amai Setia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menggelar diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes” pada Jumat 6 Februari 2026. Diskusi ini mengulas kembali sosok Roehana Koeddoes, Pahlawan Nasional sekaligus jurnalis perempuan pertama di Indonesia, yang kiprahnya melampaui dunia pers.

Roehana dikenal sebagai pelopor jurnalis perempuan, pendidik, dan penggerak ekonomi perempuan. Pada 1912, ia mendirikan surat kabar Soenting Melajoe dengan motto “Dari, oleh, dan untuk perempuan”, serta Sekolah Kerajinan Amai Setia yang berfokus pada literasi, keterampilan, dan kewirausahaan perempuan.

Roehana Koeddoes hidup pada masa kolonial, ketika akses pendidikan dan ruang publik bagi perempuan sangat terbatas. Namun, keterbatasan itu tidak menghalanginya untuk masuk ke wilayah yang saat itu didominasi laki-laki: jurnalisme. Lewat media, pendidikan, dan gerakan sosial, Roehana menunjukkan bahwa pers bukan sekadar alat penyampai kabar, melainkan sarana pembebasan.

Jurnalis progresif dan terbukti punya pemikiran lebih maju dari zamannya

Najwa Shihab (tengah) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)
Najwa Shihab (tengah) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Wajah pertama Roehana adalah jurnalis. Pada 1912, ia mendirikan Soenting Melajoe, sebuah surat kabar yang dikelola oleh perempuan dan ditujukan bagi pembaca perempuan. Di masa ketika pers masih berada di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial, Soenting Melajoe tampil sebagai ruang alternatif untuk menyuarakan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman perempuan.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah pembicara menekankan bahwa langkah Roehana bukan hanya berani, tetapi juga visioner. Ia menempatkan perempuan sebagai subjek, bukan objek pemberitaan. Tulisan-tulisan di Soenting Melajoe membahas pendidikan, kehidupan rumah tangga, hingga persoalan sosial, dengan sudut pandang yang jarang mendapat tempat di media arus utama kala itu.

Roehana memahami pers sebagai alat perubahan. Ia tidak menunggu pengakuan atau legitimasi dari struktur yang mapan. Dengan membangun medianya sendiri, ia membuktikan bahwa jurnalisme dapat tumbuh dari keberanian dan kesadaran kritis, bahkan di tengah keterbatasan.

Pendidikan sebagai fondasi kemandirian

Uni Lubis (Pemred IDN TImes) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (YouTube/IDN Times)
Uni Lubis (Pemred IDN TImes) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (YouTube/IDN Times)

Wajah kedua Roehana adalah pendidik. Bagi Roehana, jurnalisme tidak bisa dilepaskan dari pendidikan. Ia mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan di Koto Gadang, Sumatra Barat, untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah fondasi agar perempuan mampu berpikir mandiri dan mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.

Tak berhenti di situ, Roehana juga menginisiasi Kerajinan Amai Setia, sebuah organisasi yang melatih perempuan dalam keterampilan kerajinan tangan. Hasilnya bukan hanya produk ekonomi, tetapi juga rasa percaya diri dan kemandirian finansial. Pendidikan dan keterampilan berjalan beriringan sebagai jalan keluar dari ketergantungan struktural.

Dalam diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, gagasan ini kembali disorot sebagai bentuk jurnalisme sosial. Roehana tidak hanya menulis tentang perubahan, tetapi juga membangunnya secara nyata. Ia melihat pengetahuan dan ekonomi sebagai dua sisi yang saling menguatkan dalam perjuangan perempuan.

Relevansi di tengah tantangan pers hari ini

Khairiah Lubis (Ketua FJPI) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026
Khairiah Lubis (Ketua FJPI) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (YouTube/IDN Times)

Wajah ketiga Roehana adalah relevansinya dengan kondisi pers saat ini. Sejumlah pembicara dalam diskusi menyinggung tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan di era modern, mulai dari kekerasan berbasis gender, tekanan industri media, hingga penurunan kualitas kerja jurnalistik akibat tuntutan kecepatan dan klik.

Jika pada masa Roehana pers menghadapi represi kolonial, hari ini tekanan datang dalam bentuk yang berbeda. Kepentingan ekonomi, algoritma platform digital, dan situasi kerja yang tidak selalu aman menjadi tantangan baru. Namun, esensinya tetap sama: bagaimana menjaga integritas dan keberpihakan pers pada publik.

Roehana menawarkan kerangka berpikir yang masih relevan. Ia menempatkan etika, keberanian, dan tanggung jawab sosial sebagai inti jurnalisme. Dalam konteks hari ini, nilai-nilai itu menjadi pengingat bahwa pers tidak boleh sekadar menjadi mesin produksi konten, melainkan penjaga nurani publik.

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya solidaritas dan ekosistem yang mendukung jurnalis perempuan. Roehana mungkin bekerja sendirian di masanya, tetapi gagasannya membuka jalan bagi kerja kolektif di kemudian hari. Pers yang sehat tidak lahir dari individu semata, melainkan dari sistem yang memungkinkan kebebasan dan keamanan bekerja.

Lebih dari sekadar nama sejarah

Trini Tambu (Ketua Yayasan Amai Setia) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026
Trini Tambu (Ketua Yayasan Amai Setia) di acara 3 Wajah Roehana Koeddoes yang digelar di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (YouTube/IDN Times)

Roehana Koeddoes kerap disebut dalam buku sejarah, tetapi sering kali hanya berhenti sebagai nama. Melalui diskusi dan pemutaran film 3 Wajah Roehana Koeddoes, sosoknya dihadirkan kembali sebagai pemikir dan pelaku perubahan. Ia bukan monumen yang beku, melainkan sumber gagasan yang terus hidup.

Tiga wajah Roehana; jurnalis, pendidik, dan penggerak sosial, menunjukkan bahwa pers memiliki peran yang jauh melampaui pemberitaan. Di tengah tantangan jurnalisme hari ini, menengok kembali pemikiran Roehana berarti mengingat tujuan awal pers: mencerdaskan, memberdayakan, dan berpihak pada kemanusiaan.

Lebih dari satu abad setelah Soenting Melajoe terbit, pertanyaan yang diajukan Roehana masih relevan: untuk siapa pers bekerja, dan nilai apa yang dijaganya. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah jurnalisme tetap menjadi alat pembebasan, atau sekadar suara yang larut dalam kebisingan zaman.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Life

See More

Berapa Hari Lagi Puasa 2026 Hitung Mundur? Ini Perkiraannya

09 Feb 2026, 13:05 WIBLife