"Kita khidmatkanlah Soenting Melajoe sebagai suatu benih tanaman yang kelak di belakang hari akan menjadi pohon penghasil buah-buahan yang amat lezat cita rasanya. Akan melepaskan lapar dan haus anak cucu kita. Ketahui Tuan dengannya terang. Sunting dan baru mula dikarang. Baunya wangi cahayanya benderang. Bangsaku perempuan jadi pengarang" (kutipan dalam film Biopik Roehana Koeddoes yang diputar dalam Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia via TVRI Sumbar)
Di ruang kelas jurnalistik di berbagai kampus Indonesia, diskursus tentang jurnalisme kritis acap kali dimulai dari menyebutkan nama-nama besar dunia. Oriana Fallaci dan Veronica Guerin kerap dijadikan rujukan ketika membahas jurnalis yang berani menghadapi kekuasaan, menanggung risiko personal, hingga keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Kiprah dan karya mereka memang memberi kontribusi besar dalam sejarah pers global.
Namun, kecenderungan mengkanonkan figur Barat dalam pengajaran jurnalistik menyisakan pertanyaan penting yaitu di mana posisi tokoh pers Indonesia? Indonesia sejatinya memiliki Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang sejak awal abad ke-20 menjadikan pers sebagai sarana pendidikan, penggerak ekonomi, dan pemberdayaan sosial. Roehana layak ditempatkan sebagai fondasi penting dalam pengajaran jurnalistik di tanah air. Lalu, seberapa mendesak urgensi mengembalikan Roehana Koeddoes ke ruang kelas jurnalistik di Indonesia hari ini?
