Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Roehana Koeddoes, Suara Perempuan yang Bertumbuh dan Berdaya

Pemutaran film Soenting Melajoe di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Pemutaran film Soenting Melajoe di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Intinya sih...
  • Perempuan yang berdaya bisa memberdayakan perempuan lainnyaKeberdayaan seorang Roehana Koeddoes tak lahir dari ruang yang kosong. Dalam film ini, diceritakan bahwa ia memang tumbuh dalam keluarga yang mampu memberinya ruang untuk belajar dan memiliki suara.
  • Selain pendidikan, perempuan juga memerlukan keterampilanBagi Roehana, pendidikan tak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Mengutip salah satu ucapannya, ia mengatakan bahwa selain pendidikan, perempuan juga memerlukan keterampilan.
  • Menulis merupakan alat perlawananMenulis bukan hanya keterampilan intelektual, itulah kurang lebih yang diyakini Roehana dalam film
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pada masanya, suara perempuan sering kali tumbuh dalam batasan-batasan tertentu, yang membuatnya jarang sekali terdengar. Tak banyak ruang bicara yang disediakan untuk perempuan. Di tengah situasi tersebut, Roehana Koeddoes hadir sebagai sosok yang membuka jalan sedikit demi sedikit. Dimulai dari ruang belajar yang sederhana hingga dampak lebih masif untuk perempuan lebih luas, Roehana menempatkan suara perempuan sebagai sesuatu yang layak dirawat serta diperjuangkan.

Kisahnya ini kemudian diangkat dalam sebuah film biografi bertajuk Soenting Melajoe yang dirilis oleh TVRI Sumatera Barat. Film biografi ini menceritakan bagaimana sosok Roehana sebagai wartawati pertama indonesia sekaligus pahlawan nasional, berjuang untuk memberdayakan serta mengangkat suara perempuan. Nilai-nilai dalam film inspiratif ini juga dibahas dalam diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia" yang digelar IDN Times bekerja sama dengan Yayasan Amai Setia dan FJPI dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 di IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).

Dari perjalanan Roehana, ada sejumlah nilai yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan hari ini, khususnya sebagai seorang perempuan. Kisah Roehana mengajak kita sebagai perempuan untuk bertanya: di ruang mana suara kita saat ini berada?

1. Perempuan yang berdaya bisa memberdayakan perempuan lainnya

Pemutaran film Soenting Melajoe di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Keberdayaan seorang Roehana Koeddoes tak lahir dari ruang yang kosong. Dalam film ini, diceritakan bahwa ia memang tumbuh dalam keluarga yang mampu memberinya ruang untuk belajar dan memiliki suara. Dari titik ini, Roehana memahami bahwa keberdayaan bukan semata-mata soal kemampuan personal, namun juga tentang kesempatan yang diberikan. Kesadaran ini yang akhirnya mendorong Roehana untuk melangkah lebih jauh.

Ia mulai membuka ruang belajar di rumahnya untuk anak-anak perempuan. Bukan sekadar transfer pengetahuan, ini juga menjadi cara Roehana untuk membangun kemandirian. Diketahui, ia juga kemudian membangun Yayasan Amai Setia yang resmi berdiri pada tahun 1915. Ini menjadi simbol bahwa ketika satu perempuan diberikan kepercayaan dan dukungan, maka ia mampu menciptakan ekosistem yang menguatkan perempuan lainnya.

"Amai Setia didirikan pada 1911. Gedung ini didirikan dengan bantuan warga setempat. Ibu Roehana menjual sertifikat dan uangnya dipakai membeli tanah dan membangun gedung Amai Setia dan sampai saat ini bangunannya masih berdiri serta dipakai," ujar Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia.

2. Selain pendidikan, perempuan juga memerlukan keterampilan

Potret Roehana Koeddoes di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Potret Roehana Koeddoes di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Bagi Roehana, pendidikan tak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Mengutip salah satu ucapannya, ia mengatakan bahwa selain pendidikan, perempuan juga memerlukan keterampilan. Perempuan, menurutnya, perlu dibekali juga kemampuan praktis yang memungkinkan mereka berdiri di atas kakinya sendiri. Bukan sekadar memahami dunia, namun juga bertahan dan berdaya di dalamnya.

Pemikiran tersebut yang kemudian membuat Roehana juga fokus mengajarkan berbagai macam keterampilan pada perempuan-perempuan lainnya. Melalui Amai Setia, perempuan diajak berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Keterampilan ini juga tentunya membuka akses pada kemandirian finansial, sesuatu yang pada saat itu nyaris tak mungkin dimiliki seorang perempuan.

"Di halaman rumahnya, Ibu Roehana membangun sekolah kecil untuk mengajarkan teman-teman perempuannya membaca dan menulis. Tidak hanya membaca dan menulis, tapi juga kerajinan dan menjual hasil kerajinan untuk menambahkan penghasilan perempuan di Koto Gadang saat itu. Dari sekolah kerajinan, beliau menunjukkan jalan paling efektif menuju kemajuan adalah lewat ilmu pengetahuan," tambah Trini.

3. Menulis merupakan alat perlawanan

Potret Roehana Koeddoes di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Potret Roehana Koeddoes di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Menulis bukan hanya keterampilan intelektual, itulah kurang lebih yang diyakini Roehana dalam film ini. Karena akhirnya, Roehana menjadikan kegiatan menulis sebagai sarana untuk melawan keadaan yang membungkam perempuan. Sebagai jurnalis perempuan pertama, Roehana seolah memahami bahwa kata-kata mempunyai kuasa. Kata-kata atau tulisan kerap mampu menembus batas ruang dan kelas yang selama ini membatasi perempuan. Itu yang akhirnya mendorong langkah berani Roehana untuk mengajukan gagasan kepada Datoek Soetan Maharadja, Pimpinan Redaksi Oetoesan Melajoe untuk menerbitkan tulisan-tulisannya.

Bukan hanya sekadar rubrik menulis, Roehana mengajukan untuk mendirikan media khusus perempuan. Dengan berbagai negosiasi, akhirnya Soenting Melajoe (Sunting Melayu) lahir, sebuah ruang redaksi yang seluruh rubiknya didedikasikan untuk isu perempuan. Edisi pertama berhasil terbit pada 1912. Roehana mendirikannya bersama Zubaidah Ratna Juwita dan mengajak perempuan-perempuan lainnya untuk menulis.

Tulisan-tulisan dalam Sunting Melayu tak hanya berhenti pada tuntutan kesetaraan. Banyak tulisan yang berbicara tentang luka dan penderitaan yang dirasakan oleh perempuan, khususnya di tanah Minang saat itu. Dengan bahasa yang jujur dan progresif, Roehana menunjukkan bahwa tulisan juga bisa menjadi sebuah perlawanan.

4. Stigma masyarakat yang melekat kerap memberikan batasan yang tinggi pada perempuan

Acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Tentunya, perjuangan panjang Roehana tak pernah luput dari penolakan dan pandangan sebelah mata dari masyarakat. Sejak langkah awalnya mengajar anak-anak perempuan, pandangan miring sudah mulai berdatangan. Pendidikan masih dianggap tak relevan untuk perempuan. Toh, bagi banyak masyarakat (saat itu), ujung hidup perempuan tetap menikah dan mengurus rumah tangga. Perempuan masih sering dianggap hanya akan berakhir di dapur, di sumur, di kasur. Buah pikir itu akhirnya menjelma menjadi tembok sosial yang tinggi.

Sering kali membatasi mimpi perempuan, bahkan sebelum sempat bertumbuh. Sebagaimana yang disebutkan oleh Najwa Shihab, Jurnalis dan Pendiri Narasi, di acara ini,

"Setiap zaman selalu punya cara untuk membungkam perempuan."

Itu juga yang membuat upaya Roehana kerap dipandang sebagai sesuatu yang tak lazim. Stigma itu juga tak semerta-merta hilang saat Roehana melangkah jauh. Pendirian Sunting Melayu bahkan Amai Setia tetap menuai resistensi. Meski begitu, Roehana tetap berjuang dan tak membuatnya meredam suaranya. Film Sunting Melayu juga memperlihatkan bahwa batasan terbesar perempuan tak hanya berbicara tentang kurangnya kemampuan, namun stereotip masyarakat yang jarang memberi ruang.

5. Perjuangan dan perlawanan perempuan adalah warisan yang terus berjalan

Pemutaran film Soenting Melajoe di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)
Pemutaran film Soenting Melajoe di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Perjuangan Roehana Koeddos tidak berhenti pada bangunan Amai Setia, juga tidak selesai ketika Sunting Melayu terbit dan dibaca. Apa yang ia mulai justru bergerak lebih jauh dari dirinya sendiri. Menjelma menjadi jejak, ingatan, dan warisan. Sebuah upaya yang diwariskan bukan lewat darah, tetapi lewat keberanian untuk membuka ruang bagi perempuan lain agar bisa memilih hidupnya sendiri.

Warisan itu terus berjalan karena ketimpangan tidak pernah benar-benar usai. Setiap generasi perempuan menghadapi bentuk perlawanan yang berbeda, dengan bahasa dan tantangannya masing-masing. Namun semangatnya tetap serupa dan terus merawat keyakinan bahwa perempuan layak memiliki akses yang setara.

"Uniknya, Roehana menuntut sesuatu yang terasa modern, literasi untuk perempuan berpikir, kemandirian ekonomi untuk membuat perempuan kuat, dan tulisan untuk membuat suara itu sampai. Roehana memahami sesuatu yang sampai sekarang masih kita perjuangkan," kata Najwa Shihab.

Dari Roehana hingga hari ini, perjuangan itu tidak pernah ditutup dengan titik. Ia terus ditulis ulang oleh perempuan-perempuan yang memilih untuk melanjutkannya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Latest in Life

See More

Gaya Seleb di Resepsi Nikah Jaz Hayat, Nessie Judge hingga Nycta Gina

08 Feb 2026, 18:39 WIBLife