Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret wajah Roehana Koeddoes (instagram.com/amaisetiakg)
Potret wajah Roehana Koeddoes (instagram.com/amaisetiakg)

Intinya sih...

  • Roehana Koeddoes dikenal sebagai pahlawan nasional dan jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

  • Roehana Koeddoes memiliki wajah pendidik, entrepreneur, dan jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

  • Ia mendirikan sekolah kecil bagi perempuan, membangun Kerajinan Amai Setia, dan mendirikan surat kabar Soenting Melajoe.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Roehana Koeddoes mulai dikenal banyak orang ketika dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2019. Sosoknya lebih banyak dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama. Dalam acara diskusi bertajuk "3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia", kita diperkenalkan pada wajah-wajah lain dari seorang Roehana Koeddoes.

Roehana Koeddoes ternyata memiliki wajah-wajah yang menjadi inspirasi bagi perempuan modern saat ini. Tak hanya dari perjuangannya menyuarakan aspirasi perempuan, tapi juga menjadi perempuan mandiri. Gagasan-gagasannya yang dicetuskan pada tahun 1911, justru sangat relevan bagi perempuan di masa kini.

1. Wajah pendidik di tengah keterbatasan pemikiran lingkungan sekitarnya

Proses belajar mengajar dalam film biopik Roehana Koeddoes. (IDN Times/3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia via TVRI Sumbar)

Roehana Koeddoes dididik dalam keluarga yang memahami betapa pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan. Nilai baik dalam keluarga ini Roehana Koeddoes bagikan dengan orang-orang di sekitarnya. Di halaman rumahnya, ia membuat sekolah kecil bagi perempuan di desanya.

Dalam film biopik yang ditayangkan pada acara diskusi di kantor IDN Times, tergambar bagaimana perjuangan Roehana Koeddoes yang mendapat penolakan dari lingkungan sekitarnya. Pada tahun 1911, kehidupan perempuan memang dianggap cukup berkutat di sumur, dapur, dan kasur saja. Pendidikan masih dianggap sebagai hal tidak berguna bagi perempuan.

Rintangan tidak membuat surut Roehana Koeddoes. Ia terus menyuarakan pemikirannya dengan lantang dan lebih luas. Salah satunya dalam tulisan yang dikirimnya ke surat kabar Oetoesan Melajoe.

"Kaum wanita harus dimajukan mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum wanita pun harus memasuki sekolah seperti kaum pria. Karena dengan sekolahlah, ilmu pengetahuan diperoleh."

2. Wajah entrepreneur yang maju membawa perempuan berdaya

Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia sedang menjelaskan sejarah berdirinya Amai Setia. (IDN Times/ 3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia)

Segala tantangan dan rintangan yang muncul menjadi pecutan bagi Roehana Koeddoes untuk terus mengajak para perempuan berdaya. Roehana Koeddoes mendirikan Kerajinan Amai Setia. Selain mengajar baca tulis, Roehana mengajarkan murid-muridnya membuat kerajinan.

Kerajinan yang dibuat para perempuan di Amai Setia kemudian dijual ke pasar. Hasilnya dibagikan kembali ke para pembuatnya dengan adil sesuai kesepakatan.

Di sini, kita bisa melihat sosok Roehana Koeddoes sebagai entrepreneur perempuan. Semua usahanya ini menunjukkan bahwa Roehana Koeddoes sudah menjadi seorang yang sangat visioner. Bahkan sejak tahun 1911.

3. Wajah jurnalis perempuan pertama di Indonesia

Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di IDN pada Jumat 6 Februari 2026 (IDN Times/Novaya)

Perempuan bersuara masih menghadapi kendala hingga saat ini. Apalagi di tahun 1912, saat pertama kali Roehana Koeddoes mendirikan surat kabar Soenting Melajoe. Soenting Melajoe adalah surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Fokus utamanya menyuarakan suara perempuan saat itu yang masih kental dengan budaya patriarki dan suara perempuan sering kali dianggap tidak penting.

Apa pun rintangannya, Roehana Koeddoes tetap maju dan tidak pernah berhenti. Dalam film biopik yang diproduksi TVRI, Roehana Koeddoes digambarkan pernah dikriminalisasi. Dan karena kejadian itu, dia memutuskan untuk pindah dari Koto Gadang ke Medan. Tapi perjuangannya bersuara, tidak berhenti sampai situ. Dia terus bersuara dengan menulis untuk beberapa surat kabar lainnya.

Tiga wajah Roehana Koeddoes yang diperkenalkan ke publik dalam rangka Hari Pers Nasional, membuka mata kita bahwa sebagai perempuan kita berhak untuk bersuara apa pun rintangannya. Karena akan selalu ada jalan dan cara bagi para perempuan untuk bersuara.

"Setiap zaman selalu punya cara untuk membungkam perempuan. Tapi di setiap zaman juga selalu ada perempuan yang menemukan cara untuk bersuara," ujar Najwa Shihab ketika memberi tanggapan bagi sosok Roehana Koeddoes.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team