Pada 6 Februari 2026, IDN Times telah merilis warta mengenai gelaran diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional & Pelopor Jurnalis Perempuan di Indonesia” yang menarik perhatian publik, termasuk oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang menyoroti tantangan perempuan di dunia jurnalistik hingga kini. Acara yang digelar di Jakarta tersebut menjadi momen untuk menyaksikan kembali wajah-wajah Roehana— bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai inspirasi hidup yang menyulut semangat perempuan untuk berbicara, menulis, dan berkarya nyata di ruang publik.
Di Indonesia sendiri, nama Roehana Koeddoes sering dipayungi dalam bayang-bayang Kartini; pejuang pendidikan dan hak perempuan. Padahal, konteks perjuangan Roehana justru lebih tajam dan radikal. Ia bukan sekadar “penulis surat”, ia membangun ruang sosial baru bagi perempuan lewat media dan ekonomi. Narasi sejarah kolonial yang dominan jawasentris sering kali mereduksi tokoh perempuan lain ke dalam kerangka yang sama. Padahal latar sosial dan strateginya berbeda jauh, khususnya dari Minangkabau, sebuah wilayah dengan kultur matrilineal yang kompleks dan kontradiktif.
Lewat surat kabar, sekolah, dan jaringan perempuan yang dibangunnya, Roehana bukan hanya “membicarakan” emansipasi, ia membentuk infrastrukur sosial yang nyata untuk menjadikan perempuan bukan sekadar subjek perdebatan, tetapi aktor aktif perubahan. Ketika Kartini memproduksi esai dan korespondensi untuk kalangan tertentu, Roehana mengaktifkan komunitas melalui tulisan yang bersifat publik dan lembaga yang menyentuh kehidupan perempuan biasa di Minangkabau. Ini bukan lagi sekadar kesamaan tujuan; ini adalah strategi perlawanan sosial yang berimplikasi panjang. Yuk, kita telisik lebih jauh dan dalam lagi mengenai sosok hebat Roehana Koeddoes ini!
