Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Intellectual Posturing: Saat Buku Jadi Properti Foto di Medsos
ilustrasi orang memotret halaman buku (pexels.com/cottonbro studio)
  • Fenomena intellectual posturing muncul ketika buku dipajang di media sosial untuk terlihat pintar dan mendapat validasi, bukan karena minat memahami isi bacaan.
  • Budaya visual, FOMO terhadap buku viral, serta kebutuhan estetika kamar atau ruang kerja mendorong buku bergeser menjadi aksesori dan alat personal branding.
  • Saat literasi menjadi komoditas visual, membaca berisiko berubah jadi ajang pamer; pembaca dianjurkan jujur pada preferensi dan mengutamakan pemahaman daripada pencitraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di lini masa media sosial, kita kerap menemukan konten-konten tentang buku yang terlihat estetik secara visual dan mampu menarik perhatian pengguna, menggaet cukup banyak like dan komentar. Fenomena semacam ini terlihat positif memang karena membuat sejumlah orang berpendapat akan tingginya minat baca masyarakat.

Namun, tren tersebut menjadi bermasalah saat buku hanya dijadikan sebagai properti foto dan esensi membaca itu sendiri bergeser untuk sekadar terlihat pintar. Dengan kata lain, buku diposisikan sebagai alat membangun personal branding yang instan. Fenomena ini erat kaitannya dengan istilah intellectual posturing. Apa itu intellectual posturing dan mengapa fenomena ini marak terjadi di era digital?

1. Definisi intellectual posturing

ilustrasi orang membuka halaman buku (pexels.com/Orhan Pergel)

Jika diterjemahkan secara harfiah, frasa intellectual posturing berarti berlagak intelektual. Fenomena ini terjadi saat seseorang dengan sengaja menggunakan istilah berat, teori populer, ataupun gaya hidup ala kaum terpelajar demi terlihat pintar. Alih-alih didorong oleh keinginan kuat untuk mendalami suatu hal, tindakan ini lebih bertujuan untuk menggaet validasi sosial.

Adapun melansir laman ludwig.guru, intellectual posturing merupakan situasi ketika seseorang memamerkan kecerdasan atau pengetahuannya dengan cara yang mungkin tampak sok tahu atau gak tulus. Dalam konteks buku sebagai properti foto, seseorang mungkin memajang buku di media sosialnya bukan karena ketertarikan mendalam terhadap isinya, melainkan karena topik yang diangkat terkesan berat atau karena buku itu sedang viral.

2. Penyebab buku dijadikan sebagai properti foto

ilustrasi orang memotret sebuah buku dan objek lainnya (pexels.com/Ylanite Koppens)

Di era digital saat ini, buku dan kegiatan membaca seolah mengalami pendangkalan fungsi. Hal ini akibat dari budaya visual ketika estetika dan citra diri kerap lebih dihargai dibanding proses belajar nyata. Di media sosial seperti Instagram ataupun TikTok, pengguna sering kali hanya fokus pada hal-hal yang estetik. Feed yang rapi, warna yang senada, maupun foto yang artistik menjadi daya tarik utama untuk mendukung atensi.

Buku pun ikut terseret arus ini. Alih-alih dibaca untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan, buku malah dikontenkan hanya agar pemiliknya terlihat keren dan berpendidikan. Berikut sejumlah alasan yang bisa saja mendasari fenomena ini.

  • Memperoleh validasi secara instan. Mengunggah foto buku tebal yang mengangkat isu berat di media sosial membuat orang-orang berpikir bahwa pemiliknya mungkin saja merupakan orang yang cerdas. Dikatakan bahwa bacaan favorit bisa menggambarkan kepribadian seseorang. Melansir laman Reading Wise, penelitian mengungkapkan bahwa seseorang mungkin menjadi lebih berempati setelah membaca fiksi, sebab fiksi membuat ia memahami sesuatu dari sudut pandang berbeda.

  • Rasa takut tertinggal (FOMO). Banyak buku yang mendadak viral di Bookstagram dan BookTok. Hal ini membuat orang-orang punya dorongan kuat untuk ikut memiliki buku itu juga. Buku yang viral lantas dipajang di media sosial semata-mata untuk menunjukkan bahwa mereka gak ketinggalan tren.

  • Komodifikasi estetika ruang kerja dan kamar. Dekorasi di kamar atau ruang kerja gak melulu soal hiasan dinding atau tanaman hias, tapi juga bisa melibatkan tumpukan buku yang disusun rapi. Dengan begitu, buku-buku dibeli bukan untuk kebutuhan baca, melainkan sebagai aksesori latar belakang saja.

3. Dampak intellectual posturing dengan menjadikan buku sekadar properti foto

ilustrasi orang membaca (pexels.com/Thought Catalog)

Memajang buku di media sosial barangkali terlihat positif dan bisa menghidupkan percakapan mengenai literasi di ruang publik. Namun, saat literasi dijadikan sekadar komoditas visual, esensi membaca itu sendiri justru mengalami penurunan. Fungsi buku itu untuk memperluas wawasan, bukan alat penunjang estetika.

Jika fenomena ini terus terjadi, tren ini pun akan menciptakan kebiasaan masyarakat yang menilai sesuatu hal hanya dari luar, alih-alih melahirkan masyarakat yang berpikir kritis. Dampak lainnya, kegiatan membaca yang seharusnya jadi proses yang tenang malah berubah jadi ajang pamer yang melelahkan.

Adapun melansir laman tokoh.id, pada ranah emosi, perilaku intellectual posturing sering kali menutup rasa gak aman, malu, takut salah, atau takut terlihat belum sampai dalam diri seseorang. Dampaknya, obrolan atau diskusi yang semestinya jadi tempat belajar justru berubah jadi tindakan untuk selalu terlihat paling tahu dan benar, menjadikan percakapan gak berjalan produktif.

4. Cara gak terjebak dalam intellectual posturing

ilustrasi orang membaca novel fiksi (pexels.com/Sam Lion)

Lantas, bagaimana cara kita menyikapi fenomena ini? Bukan berarti kamu harus anti terhadap buku atau kegiatan membaca, pun media sosial. Bukan berarti kamu gak boleh memotret buku dengan estetik. Berbagi rekomendasi buku atau mengunggah sesuatu yang estetik di media sosial boleh kok dilakukan. Namun, ada beberapa hal yang bisa kamu perhatikan untuk gak terjebak dalam intellectual posturing, di antaranya.

  • Membaca bukan untuk pamer, tapi untuk diri sendiri. Ingatlah tujuan utama membaca. Kalau kamu memang tertarik dengan sebuah buku, nikmatilah proses membaca itu. Kalaupun kamu gak tertarik dengannya, jangan paksakan diri untuk membaca hanya demi ikut tren atau terlihat keren.

  • Jujur terhadap preferensi bacaan diri sendiri. Setiap bacaan itu punya pembacanya sendiri dan gak semua orang harus menyukai jenis buku yang sama. Kamu gak harus suka dengan bacaan filsafat yang berat atau karya klasik yang rumit. Jujur terhadap preferensi  bacaanmu sendiri akan membuat kamu lebih menikmati kegiatan membaca, bukan malah merasa tersiksa.

  • Prioritaskan pemahaman, bukan pencitraan. Personal branding dan citra diri itu memang penting, terlebih di era digital. Namun, dalam membangunnya harus dibarengi pula dengan kesesuaian yang nyata. Lebih baik terlihat sederhana tapi berisi daripada tampak luar biasa di luar tapi sebenarnya kosong di dalam.

Jadi, jangan hanya memajang tanpa paham demi validasi sosial. Sebab, apa yang kamu pertontonkan sejatinya punya makna yang lebih dalam dari sekadar pajangan. Buku merupakan jendela dunia, terdengar klise memang, tapi itulah kenyataannya. Yuk, pelihara terus tradisi membaca, bukan cuma pertunjukkan visual di dunia maya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article