Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi anak sekolah
ilustrasi anak sekolah (pixabay.com/akshayapatra)

Intinya sih...

  • Murid era 1990-an akrab dengan hukuman sederhana yang bertujuan mendisiplinkan, bukan menyakiti.

  • Bentuk hukuman sering berupa tugas akademik, tanggung jawab kelas, atau pekerjaan ringan di sekolah.

  • Meski terasa menegangkan saat itu, banyak hukuman justru dikenang sebagai pengalaman sekolah yang membekas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagian besar murid sekolah era 1990-an pernah kena hukuman saat melanggar aturan sekolah. Penyebabnya bisa beragam, entah karena masuk kesiangan, lupa isi PR, tak masuk kelas tanpa keterangan, ribut di kelas, atau masalah remeh dengan kawan seruangan. Meski kena hukuman, murid-murid era jadul menjadikan hal tersebut sebagai salah satu keseruan yang sulit dilupakan hingga dewasa.

Kalau masih ingat, berikut ini beberapa jenis hukuman era 1990-an yang sering dialami para murid di sekolah. Ehm, siapa yang langganan kena hukuman, nih? Simak, yuk!

1. Duduk di bangku paling depan atau menjadi pemimpin kelas selama masa hukuman

ilustrasi anak sekolah (pixabay.com/akshayapatra)

Sebagian besar murid era lawas biasanya langsung "alergi" kalau disuruh duduk di barisan paling depan kelas. Selain kurang leluasa, duduk di bangku depan juga bikin deg-degan saat guru mulai menyuruh menjawab soal di papan tulis. Mereka malah biasanya berebut duduk di bagian paling buncit agar lolos dari perhatian guru saat jam pelajaran.

Saat murid ketahuan melanggar aturan sekolah, beberapa guru menerapkan hukuman dengan menyuruh duduk di bangku paling depan. Gak hanya itu, murid tersebut juga ditunjuk jadi pemimpin kelas sementara yang harus diemban selama masa hukuman. Dia diberi tanggung jawab menjaga ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan kelas sampai waktu pulang sekolah tiba.

2. Hafalan perkalian, pembagian, hitungan lain, dan mengarang bebas

ilustrasi anak sekolah (pixabay.com/JhonDL)

Kalau masih gak mempan duduk di bangku paling depan, hukuman lain yang diberikan guru biasanya menyangkut hafalan dan sejenisnya. Sang murid diwajibkan menghafal jenis perkalian, pembagian, atau hitungan tertentu. Beberapa murid lainnya disuruh mengarang bebas dengan beragam tema yang dikuasai.

Meski sedikit terpaksa, murid-murid yang menerima hukuman tetap melakukannya dengan ceria. Tak mengapa salah sedikit saat menghafal, yang penting dia sudah berusaha untuk belajar bertanggung jawab dengan kesalahannya. Awalnya memang hukuman, tapi secara tidak langsung sang murid akan merasa terbiasa saat lain waktu diharuskan menjawab soal hitungan dan mengarang.

3. Menulis berulang kalimat permintaan maaf dan berjanji tidak mengulang kesalahan

Ilustrasi anak menulis (pixabay.com/aktechkpp2019)

Guru yang gak tegaan biasanya ngasih hukuman yang sedikit lebih ringan, tapi efektif bikin kapok muridnya. Gak harus melibatkan fisik, murid yang melanggar aturan cukup menulis berulang kalimat permintaan maaf di buku. Meski mudah, hukuman jenis ini cukup bikin murid yang ngelakuin kesalahan harus mikir-mikir lagi kalau mau melanggar aturan sekolah pada masa mendatang.

4. Dikasih tugas tambahan, seperti mengerjakan soal, bersihin ruang kelas, siram pepohonan, atau membantu penjaga sekolah

Ilustrasi anak membaca (pixabay.com/NWimagesbySabrinaE)

Hukuman selanjutnya yang sering dialami oleh murid era lawas biasanya gak jauh-jauh dari tugas-tugas tambahan. Itu gak hanya tentang materi pelajaran, tapi juga tugas lain yang berkaitan dengan kebersihan kelas dan sekolah. Bentuknya bisa ngerjain PR lebih banyak, menyapu kelas, menyiram taman, bersihkan kaca, atau sekadar bantu-bantu tugas penjaga sekolah.

Hukuman jenis ini biasanya lebih sering diberikan kepada murid yang jarang ngerjain soal atau malas saat piket kelas. Meski kurang disukai murid, jenis hukuman ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Hukuman seperti ini mengingatkan murid untuk membiasakan diri melakukan tugas harian tanpa harus ada paksaan.

5. Paling seram ketika akhirnya dipanggil ke ruang BP

ilustrasi anak berdiri (pixabay.com/ean254)

Di antara sekian banyak hukuman murid era 1990-an, yang paling ditakuti saat dipanggil ke ruang BP alias ruang bimbingan dan penyuluhan—sekarang ruang bimbingan dan konseling (BK). Ruangan ini dianggap horor karena biasanya diisi oleh guru paling killer yang sering melontarkan kalimat penuh ancaman. Kesalahan murid yang masuk ruang BP biasanya sudah masuk dalam kategori berat dan biasanya akan melibatkan orangtua si anak didik itu sendiri.

Guru atau staf yang ditugaskan di ruang BP biasanya bakalan menginterogasi murid yang melakukan kesalahan di ruangan privasi. Mereka bicara dari hati ke hati, murid disuruh cerita kesalahannya sendiri, alasan, dan mengapa nekat melanggar aturan. Pada akhir pertemuan, guru BP biasanya ngasih wejangan pamungkas yang bakalan diingat seumur hidup oleh murid yang saat itu kena hukuman.

Murid yang melanggar aturan sekolah memang perlu diberi hukuman agar jadi pelajaran pada masa mendatang. Namun, perlu diingat, hukuman yang diberikan jangan sampai berisi kekerasan, baik fisik, verbal, dan mental, yang bisa menyakiti anak didik di sekolah. Semoga saja zaman sekarang metode hukumannya jauh lebih baik, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎