Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Orang Merasa Kosong setelah Mencapai Target Hidup?

ilustrasi merasa kosong
ilustrasi merasa kosong (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya sih...
  • Target yang dikejar sebagai hasil, bukan proses, sering hanya menyisakan rasa lega, bukan kepuasan.
  • Banyak target dibentuk oleh ekspektasi sosial sehingga terasa hampa saat pengakuan tidak datang.
  • Hidup yang terlalu lama dipusatkan pada satu tujuan membuat ruang makna lain jadi kosong setelah tujuan tercapai.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Target hidup sering dijadikan penanda kemajuan, seolah pencapaian tertentu otomatis membawa rasa puas tersendiri. Nyatanya, tidak sedikit orang justru merasa biasa saja, bahkan hampa, setelah satu target besar tercapai. Perasaan ini kerap muncul diam-diam, tanpa drama, tanpa krisis, dan sulit dijelaskan ke orang lain.

Target hidup yang semula tampak jelas perlahan kehilangan daya dorong setelah dicentang satu per satu. Dari situ, muncul perasaan seolah mengapa hasil akhirnya tidak selalu sebanding dengan usaha panjang yang sudah dikeluarkan selama ini. Berikut beberapa sudut pandang yang bisa membantu melihat fenomena ini.

1. Target hidup sering dibuat untuk mengejar hasil, bukan pengalaman

ilustrasi target
ilustrasi target (pexels.com/Breakingpic)

Banyak target hidup disusun seperti daftar ceklis, misalnya lulus, dapat kerja, pindah kota, lalu menabung dengan jumlah tertentu. Fokus utamanya menyelesaikan target secepat mungkin, bukan menjalani prosesnya. Aktivitas sehari-hari selama mengejar target sering dianggap sekadar tahap yang harus dilewati. Selama target belum tercapai, hidup terasa seperti sedang menunggu garis akhir.

Masalahnya, saat target itu akhirnya tercapai, tidak selalu ada rasa puas yang menyertai. Justru, yang muncul hanyalah rasa lega karena satu beban selesai. Hal ini terjadi karena sejak awal target hanya diperlakukan sebagai kewajiban, bukan bagian dari kehidupan itu sendiri. Tanpa pengalaman yang benar-benar disadari, apa pun bentuk pencapaian menjadi sulit dikenang. Setelah rasa lega hilang, perasaan kosong muncul dengan sendirinya.

2. Lingkungan sekitar ikut membentuk ekspektasi berlebihan

ilustrasi lingkungan pertemanan
ilustrasi lingkungan pertemanan (pexels.com/Helena Lopes)

Banyak target hidup dibuat sambil membayangkan reaksi orang lain meski hal itu jarang disadari. Ada anggapan bahwa setelah satu pencapaian tercapai, hidup akan terasa lebih “dianggap”. Saat seseorang berhasil membeli rumah, misalnya, ada harapan bahwa orang sekitar akan melihatnya sebagai tanda sudah mapan. Kenyataannya, sebagian orang hanya mengucapkan selamat, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Di titik itu, rasa kosong muncul karena target hidup tersebut sejak awal diharapkan memberi pengakuan dari orang lain. Ketika pengakuan itu tidak datang atau sekenanya saja, pencapaian akan terasa biasa saja. Bukan karena targetnya tidak penting, tetapi karena terlalu bergantung pada respons orang lain.

3. Target tidak selalu sesuai dengan kebutuhan

ilustrasi gaji
ilustrasi gaji (pexels.com/Karola G)

Banyak target hidup dibuat pada fase tertentu, ketika kondisi hidup masih berbeda jauh dari sekarang. Sebagai contoh, seseorang menargetkan gaji besar saat masih tinggal sendiri karena ingin merasa aman secara finansial. Beberapa tahun kemudian, target itu tercapai, tetapi kebutuhan sudah bergeser, misalnya waktu bersama keluarga justru lebih dibutuhkan daripada tambahan pemasukan. Pada titik ini, pencapaian tersebut tidak lagi terasa relevan dengan situasi yang sedang dijalani.

Rasa kosong muncul bukan karena targetnya salah, melainkan karena hasil akhirnya tidak lagi menjawab kebutuhan sehari-hari. Target hidup yang dibuat pada masa lalu sering kali tidak ikut berubah mengikuti apa yang jadi kebutuhan saat ini. Dari sini, muncul kesan hampa karena yang dicapai tidak lagi memberi dampak untuk kehidupan saat ini.

4. Target yang terlalu menyita waktu membuat hidup jadi kosong

ilustrasi sibuk
ilustrasi sibuk (vecteezy.com/Myron Standret)

Ada orang yang selama bertahun-tahun hidup cuma diisi satu target, contohnya fokus penuh mengejar jabatan tertentu, menabung mati-matian buat beli rumah, atau mengejar angka tabungan tanpa henti. Waktu nongkrong mulai berkurang, hobi langsung ditinggal, relasi juga dijaga sekadarnya karena dianggap mengganggu fokus. Selama target itu belum tercapai, semua terasa masuk akal karena ada tujuan jelas yang dikejar.

Masalahnya muncul setelah target itu benar-benar tercapai. Jabatan sudah dapat, rumah sudah dibeli, tabungan sudah tembus nominal impian, tapi hari-hari justru terasa kosong. Tidak ada lagi aktivitas yang benar-benar ditunggu setelah bangun tidur. Bukan karena hidupnya gagal, tetapi karena sebelumnya semua energi hanya ditumpuk pada satu tujuan, sementara hal lain tidak pernah dibangun.

5. Target hidup sering dikejar tanpa jeda

ilustrasi target awal tahun
ilustrasi target awal tahun (pexels.com/Polina)

Banyak orang terbiasa langsung pasang target baru begitu satu tujuan tercapai. Baru lulus kuliah, langsung mikir kerja apa. Baru dapat kerja, langsung mikir naik jabatan. Baru beli rumah, pikiran sudah ke cicilan berikutnya atau target yang lebih besar. Akhirnya, pencapaian yang barusan diraih lewat begitu saja tanpa sempat dirasakan dampaknya dalam hidup sehari-hari.

Masalahnya, tanpa jeda, target hidup hanya terasa seperti beban tugas yang harus segera dituntaskan. Tidak ada waktu untuk melihat apa yang sebenarnya berubah setelah target itu tercapai. Hidup tetap terasa sama, rutinitas tetap jalan, dan rasa puas yang dibayangkan tidak pernah benar-benar datang. Dari situ, muncul perasaan kosong. Bukan karena targetnya gagal, tetapi karena tidak pernah diberi ruang untuk dirasakan.

Target hidup sering dipahami sebagai tujuan akhir, padahal dampaknya tidak selalu langsung terasa setelah berhasil dicapai. Rasa kosong yang muncul biasanya berkaitan dengan kebiasaan mengejar target tanpa memberi ruang untuk berhenti dan melihat apa yang benar-benar berubah selama kamu mengejarnya. Pada titik ini, yang perlu dibenahi bukan ambisinya, melainkan cara menempatkan target hidup dalam keseharian agar tidak terasa hampa setelah tercapai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Karakter Upin Ipin Bisa Tunjukkan Caramu Menyikapi Masalah Kecil

14 Feb 2026, 15:05 WIBLife