Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan Meromantisasi Kemiskinan yang Dilakukan Tanpa Sadar
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Ahmed akacha)
  • Artikel menyoroti kebiasaan membungkus keterbatasan pangan bergizi sebagai hidup sederhana dan penuh syukur, padahal kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi perlu mendapat perhatian.
  • Kerja keras orangtua lanjut usia serta ketiadaan tabungan kerap dipandang wajar, meski dapat mencerminkan tidak adanya jaminan hari tua dan kerentanan finansial.
  • Utang untuk kebutuhan pokok dan pengorbanan kesempatan anak dinormalisasi sebagai perjuangan keluarga, padahal berisiko memperberat masalah ekonomi serta ketimpangan antargenerasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hidup sederhana sering dianggap sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Tidak harus membeli barang mahal, makan di restoran setiap minggu, atau memiliki rumah besar memang bukan masalah, selama kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Namun, ada kalanya kesulitan ekonomi justru dibungkus dengan kalimat-kalimat positif sampai orang lupa bahwa hidup kekurangan bukan sesuatu yang seharusnya dianggap wajar.

Di Indonesia, pandangan seperti ini bisa ditemukan dalam obrolan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga media sosial. Nasihat untuk selalu bersyukur memang tidak keliru, tetapi bisa menjadi masalah ketika digunakan untuk membenarkan keadaan yang sebenarnya memberatkan. Terdapat beberapa kebiasaan meromantisasi kemiskinan yang dilakukan tanpa sadar dalam keseharian, seolah-olah hal tersebut adalah pilihan hidup yang indah.

1. Menganggap makan dengan lauk seadanya sebagai bukti hidup yang penuh berkah

ilustrasi makan mie instan (vecteezy.com/Piti Petdum)

Makan nasi dengan kerupuk, kecap, atau mi instan memang bisa menjadi pilihan ketika sedang ingin berhemat. Masalahnya muncul ketika kondisi tersebut terus-menerus dianggap sebagai gambaran hidup sederhana yang patut dibanggakan, padahal seseorang sebenarnya tidak punya cukup uang untuk membeli lauk bergizi. Ungkapan seperti "yang penting masih bisa makan" kadang digunakan untuk menutupi kenyataan bahwa kebutuhan pangan belum terpenuhi dengan layak.

Rasa syukur tetap penting, tetapi bukan berarti seseorang harus merasa cukup dengan makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizinya. Apalagi jika kondisi tersebut berlangsung berbulan-bulan karena penghasilan tidak mampu mengejar harga bahan pokok. Keterbatasan untuk membeli makanan bergizi bukan sesuatu yang perlu dirayakan, melainkan persoalan yang semestinya mendapat perhatian.

2. Memuji orangtua yang terus bekerja meski sudah lanjut usia

ilustrasi buruh (unsplash.com/Remy Gieling)

Cerita tentang orangtua yang masih berjualan di pasar, menjadi buruh, atau bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga sering mengundang rasa haru. Kerja keras mereka memang layak dihargai, terlebih ketika dilakukan demi anak-anaknya. Namun, ada perbedaan antara menghormati pengorbanan orangtua dan menganggap mereka harus terus bekerja sampai usia senja karena kondisi ekonomi.

Kalimat seperti "orangtua zaman dulu tidak pernah mengeluh" juga bisa membuat kelelahan mereka seolah-olah menjadi hal biasa. Padahal, seseorang yang sudah memasuki usia lanjut idealnya memiliki kesempatan untuk beristirahat tanpa terus dibebani kebutuhan hidup keluarga. Mengagumi kegigihan orangtua tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap kenyataan bahwa mereka mungkin tidak memiliki jaminan hari tua yang memadai.

3. Menganggap tidak punya tabungan sebagai konsekuensi hidup sederhana

ilustrasi tidak punya tabungan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Sebagian orang menganggap menabung bukan hal penting selama masih bisa memenuhi kebutuhan hari ini. Ada pula yang menghibur diri dengan anggapan bahwa uang memang sebaiknya dihabiskan untuk makan dan kebutuhan keluarga karena rezeki bisa dicari lagi besok. Padahal, tidak semua orang punya keuangan yang cukup untuk menghadapi kejadian tak terduga.

Ketika motor rusak, anak sakit, atau ada anggota keluarga yang membutuhkan biaya mendadak, ketiadaan tabungan bisa membuat seseorang terpaksa berutang. Kondisi ini bukan semata-mata karena kurang pandai mengatur uang, sebab penghasilan yang terlalu kecil dibandingkan kebutuhan juga bisa membuat seseorang sulit menyisihkan dana. Menganggap tidak punya tabungan sebagai gaya hidup santai justru berisiko menormalisasi kerentanan finansial.

4. Membanggakan kebiasaan berutang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari

ilustrasi utang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Utang terkadang dianggap sebagai jalan keluar yang biasa ketika uang belanja belum cukup sampai akhir bulan. Ada yang meminjam uang kepada saudara, menggunakan layanan paylater untuk membeli kebutuhan rumah tangga, atau mengambil pinjaman untuk membayar tagihan lain. Kebiasaan ini bahkan bisa dibungkus dengan candaan seperti "tanggal tua memang waktunya ngutang".

Padahal, terus-menerus berutang untuk membeli beras, membayar listrik, atau memenuhi kebutuhan pokok menunjukkan adanya masalah keuangan yang perlu diselesaikan. Beban tersebut bisa semakin berat ketika bunga dan biaya pinjaman mulai menumpuk, sementara penghasilan tidak bertambah. Menganggapnya sebagai bagian lucu dari kehidupan sehari-hari hanya membuat persoalan yang serius terlihat sepele.

5. Menganggap anak harus berkorban karena keluarga sedang kesulitan ekonomi

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Ahmed akacha)

Terakhir, kebiasaan meromantisasi kemiskinan yang dilakukan tanpa sadar adalah menganggap anak harus berkorban karena kondisi ekonomi. Pada sejumlah keluarga, anak sering diminta mengalah ketika kondisi keuangan sedang terbatas. Ada yang harus menunda membeli perlengkapan sekolah, tidak mengikuti kegiatan bersama teman, atau langsung bekerja setelah lulus agar bisa membantu orangtua. Pengorbanan seperti ini kerap dipuji sebagai tanda anak berbakti dan tidak banyak menuntut.

Padahal, anak juga berhak mendapatkan pendidikan, makanan bergizi, waktu bermain, serta kesempatan mengembangkan diri. Membantu keluarga boleh saja dilakukan sesuai kemampuan, tetapi bukan berarti seluruh kebutuhan dan masa depan anak harus dikorbankan. Menganggap kehilangan kesempatan sejak kecil sebagai bagian dari perjuangan hidup justru berisiko membuat ketimpangan antargenerasi terus berlangsung.

Bersyukur atas hal-hal yang masih dimiliki tidak berarti harus menerima semua kesulitan sebagai sesuatu yang lumrah. Hidup sederhana bisa menjadi pilihan, tetapi hidup dalam kekurangan karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar adalah persoalan yang berbeda. Kita boleh menghargai ketangguhan orang-orang yang berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi tanpa harus menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang romantis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article