Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 10 Muharram, umat Islam terutama di Indonesia memperingati hari tersebut dengan menyantuni anak yatim. Tak heran, bila 10 Muharram kerap disebut sebagai Lebaran anak yatim.
Lantas, mengapa 10 Muharram disebut Lebaran anak yatim? Dikutip Jatim NU, hal ini bukan tanpa alasan. Sebab, tradisi menyantuni anak yatim sebenarnya sudah terbentuk sejak dahulu, baik dilakukan oleh para ulama maupun masyarakat umum.
Bahkan, amalan ini dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW karena keutamaan bulan Muharram itu sendiri. Masih dikutip Jatim NU, dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa wal Mursalin karya Abullaits Assamarqandi (w. 373 H) disebutkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah SWT akan memberikan seribu pahala malaikat dan 10.000 pahala syuhada. Dan barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah SWT mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.”
Penyebutan istilah Lebaran anak yatim (Idul Yatama) pada 10 Muharram merupakan bentuk ungkapan masyarakat, khususnya umat Islam untuk menggambarkan kebahagiaan anak yatim. Sebab pada hari itu, banyak orang berbondong-bondong menunjukkan kasih sayang dan kepedulian mereka terhadap anak-anak yatim, sehingga anak-anak yatim bisa merasakan kasih sayang yang berlimpah.
Adapun maksud dari mengusap kepala anak yatim sebagaimana tertera pada hadis di atas, yaitu sebagai wujud kasih sayang dan kepedulian kepada mereka. Bentuk kasih sayang tersebut dapat ditunjukkan dengan cara memberi santunan, baik berupa sandang, pangan, ataupun papan.