ilustrasi merayakan tahun baru Imlek (pexels.com/Angela Roma)
Esensi Imlek bukan pada siapa yang menghabiskan makanan terakhir, tetapi pada proses memberi. Memasak banyak berarti siap berbagi, baik kepada keluarga inti, kerabat jauh, maupun tamu yang datang tanpa rencana. Kelimpahan adalah bahasa diam dari kemurahan hati.
Ketika makanan tidak habis, itu bukan pemborosan dalam makna budaya, melainkan bagian dari siklus berbagi. Sisa makanan bisa dibagikan, dihangatkan kembali, atau dinikmati keesokan hari. Yang terpenting, momen Imlek telah mengajarkan bahwa memberi rasa aman dan kebahagiaan jauh lebih penting daripada sekadar piring yang kosong.
Pada akhirnya, berlimpahnya makanan saat Imlek bukan tentang seberapa banyak yang dimakan, melainkan tentang seberapa besar makna yang dihadirkan. Di balik hidangan yang tersisa, tersimpan nilai syukur, kebersamaan, dan keyakinan bahwa hidup patut dirayakan dengan kelapangan.
Meski tak pernah habis, makanan Imlek telah menjalankan perannya sebagai bahasa doa yang sunyi namun penuh harap, menyatukan keluarga dalam satu meja dan satu niat baik menyambut tahun baru.