Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Mengubah Keputusan setelah Mendengar Pilihan Orang Lain?

4 min read
Kenapa Mengubah Keputusan setelah Mendengar Pilihan Orang Lain?
ilustrasi keputusan (pexels.com/Viktoria Slowikowska)

Sebelum masuk ke dalam sebuah restoran, kamu sudah tahu mau pesan apa. Kamu sudah membayangkan makanan yang ingin dicoba. Begitu duduk, kamu langsung membuka menu untuk memastikan pilihan tadi masih tersedia. Namun, sebelum memanggil pelayan, kamu mendegar teman di sebelahmu berkata, “Aku kayaknya mau pesan yang ini. Katanya enak banget.”

Kamu ikut melihat menu yang ia tunjuk. Sekilas, makanan itu memang terlihat lebih menarik. Beberapa detik kemudian, pilihanmu sendiri mulai terasa kurang meyakinkan. Padahal, beberapa menit sebelumnya kamu sudah yakin. Kamu mulai meragukan untuk memesan menu pilihan sebelumnya. Kemudian terlintas pertanyaan di kepalamu, “Kenapa pilihan orang lain bisa begitu mudah memengaruhi keputusan kita?”


  1. 1. Saat tidak yakin, kita menjadikan pilihan orang lain sebagai petunjuk

    ilustrasi memilih menu (pexels.com/Jep Gambardella)
    ilustrasi memilih menu (pexels.com/Jep Gambardella)

    Kamu berada di sebuah kafe yang baru pertama kali didatangi. Menu sudah dibolak-balik beberapa kali. Ada pasta, rice bowl, sandwich, sampai beberapa minuman yang namanya terdengar asing namun menarik. Kamu sebenarnya ingin mencoba menu pasta. Namun, kamu belum pernah makan di tempat itu sehingga tidak tahu apakah pilihannya memang enak.

    Temanmu kemudian berkata, “Aku pernah ke sini. Rice bowl-nya enak.” Tanpa banyak pertimbangan, kamu mengubah pesanan. Kamu tiba-tiba mendapatkan satu informasi baru dari orang yang kamu anggap lebih tahu.

    Julie Coultas dari University of Sussex, yang meneliti tentang konformitas, mengatakan, “Ketika kamu berada di tempat asing dan tidak tahu harus makan apa atau bagaimana harus bersikap, kamu akan melihat apa yang dilakukan orang lain. Secara perilaku, kamu cenderung mengatakan iya dan meniru mereka,” dikutip dari Psychology Today.

    Dalam kondisi penuh ketidakpastian, pilihan orang lain dapat terasa seperti petunjuk. Kamu tidak perlu menebak-nebak karena sudah ada seseorang yang lebih dulu mencoba. Itulah sebabnya kamu jadi mengikuti pilihan orang lain karena terasa meyakinkan ketika kita sendiri belum memiliki cukup informasi.

  2. 2. Setelah melihat pilihan lain, kita mulai takut pilihan sendiri bukan yang terbaik

    ilustrasi memilih sepatu (pexels.com/Alexandra Maria)
    ilustrasi memilih sepatu (pexels.com/Alexandra Maria)

    Kali ini kamu sudah yakin. Kamu bahkan sudah memasukkan satu pasang sepatu ke keranjang dan tinggal membayar. Warnanya cocok, modelnya sesuai gaya berpakaianmu, dan harganya pun masih masuk budget. Sampai temanmu mengirim foto sepatu yang baru ia beli, “Ini lebih bagus gak, sih? Lagi diskon juga.”

    Kamu melihat foto yang temanmu kirim, lalu membandingkan harga. Kamu mulai membaca ulasan, mengecek pilihan warna, hingga membuka foto dari pembeli. Beberapa menit kemudian, sepatu yang tadinya ingin kamu beli mulai terasa kurang menarik.

    Kemudian muncul kekhawatiran bahwa mungkin ada pilihan yang lebih baik di luar sana. Kamu mulai membayangkan apa yang akan terjadi jika memilih opsi lain, sementara keputusan yang sudah dibuat terasa seperti sesuatu yang mungkin akan kamu sesali.

    Menurut Patrick McGinnis, penulis Fear of Missing Out: Practical Decision-Making in a World of Overwhelming Choice, “Kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat berbagai pilihan yang ada, lalu mulai berpikir, ‘Apa yang sedang aku lakukan sekarang belum cukup baik? Jangan-jangan aku melewatkan sesuatu’,” dikutip dari laman Stanford Graduate School of Business.

    Setelah mendengar pilihan teman sebelumnya, kamu mulai mempertimbangkan tanpa bermaksud untuk meniru pilihannya. Kadang, kamu hanya jadi penasaran pada pilihan yang sebelumnya tidak pernah masuk pertimbangan kamu.

  3. 3. Kita bisa ikut berubah karena tidak ingin menjadi satu-satunya yang berbeda

    ilustrasi mengirim pesan teks (pexels.com/Andrea Piacquadio)
    ilustrasi mengirim pesan di group chat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Menjelang akhir pekan, kamu membaca pesan di group chat yang mulai ramai. Seseorang mengusulkan sebuah restoran untuk makan bersama. Kamu sebenarnya punya pilihan sendiri. Kamu ingin tempat yang lain yang menunya lebih cocok dengan selera kamu. Namun, balasan mulai berdatangan.

    Kamu membaca percakapan itu sambil berniat mengusulkan nama restoran pilihanmu. Setelah melihat hampir semua orang memilih tempat lain, akhirnya kamu menghapus pesan tersebut dan menggantinya dengan, “Boleh, ikut yang itu aja.”

    Bukan karena kamu menganggap pilihan mereka lebih bagus. Tetapi, ada dorongan sederhana untuk tetap sejalan dengan kelompok. Mengikuti kelompok membuat keputusan terasa lebih mudah. Kamu tidak perlu menjadi orang yang berbeda pilihan sendiri, apalagi ketika keputusan tersebut menyangkut sesuatu yang akan dilakukan bersama.

    Tidak lama kemudian, makanan yang akhirnya kamu pilih datang ke meja. Kamu mencobanya perlahan, lalu tersenyum kecil. Ternyata rasanya tidak seburuk yang sempat kamu bayangkan. Kamu melirik teman di sebelah yang sedang menikmati pilihannya sendiri. 

    Mungkin begitu juga dengan banyak keputusan lain dalam hidup. Mendengar pilihan orang lain bisa memberi kita sudut pandang baru, tetapi tidak selalu pilihan mereka lebih tepat. Kadang, kita hanya perlu berhenti sebentar untuk mempertimbangkan dan menemukan pilihan yang benar-benar kita inginkan.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More