Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Musik di Supermarket Cenderung Pelan? Ini Alasannya!
ilustrasi berbelanja di supermarket (unsplash.com/Ninthgrid)
  • Musik pelan di supermarket digunakan untuk memengaruhi perilaku belanja, membuat pelanggan bergerak lebih santai dan cenderung menghabiskan waktu lebih lama di toko.
  • Volume rendah membantu menciptakan suasana tenang agar pelanggan nyaman berbelanja serta karyawan tidak cepat lelah akibat paparan suara keras sepanjang hari.
  • Pengaturan musik lembut juga menjaga kebisingan tetap terkendali, memperkuat citra merek yang rapi dan premium, serta memastikan komunikasi penting tetap terdengar jelas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau diperhatikan, musik di supermarket hampir tidak pernah diputar terlalu keras. Biasanya volumenya pelan, lagunya santai, bahkan kadang nyaris tidak terasa keberadaannya. Berbeda dengan pusat kebugaran, kafe, atau toko pakaian yang sering menggunakan musik berirama cepat dan cukup kencang untuk membangun suasana yang lebih energik.

Ternyata, musik pelan di supermarket bukanlah kebetulan atau sekadar soal selera manajer toko. Di balik keputusan tersebut ada pertimbangan psikologi konsumen, strategi pemasaran, hingga kenyamanan pengunjung dan karyawan. Mari, kita bahas lebih dalam alasan kenapa musik yang diputar di supermarket cenderung pelan.

1. Musik pelan membuat pelanggan berbelanja lebih lama

ilustrasi perempuan sedang berbelanja (freepik.com/tonodiaz)

Supermarket menggunakan musik sebagai salah satu alat untuk memengaruhi perilaku pembeli. Berbagai penelitian dalam psikologi konsumen menunjukkan bahwa musik latar dapat memengaruhi kecepatan berjalan pelanggan, suasana hati, bahkan jumlah barang yang akhirnya masuk ke keranjang belanja.

Musik dengan tempo lambat dan volume rendah cenderung membuat orang bergerak lebih santai. Mereka lebih lama berada di lorong-lorong toko, lebih teliti membandingkan produk, dan lebih sering menemukan barang tambahan yang sebenarnya tidak ada dalam daftar belanja awal.

Sebaliknya, musik yang terlalu keras atau terlalu cepat justru membuat suasana terasa terburu-buru. Pelanggan cenderung ingin segera menyelesaikan belanja dan meninggalkan toko lebih cepat. Dari sudut pandang bisnis, semakin lama seseorang berada di dalam supermarket, semakin besar kemungkinan ia membeli lebih banyak barang.

2. Supermarket ingin menciptakan suasana yang tenang

ilustrasi berbelanja di supermarket (unsplash.com/Sincerely Media)

Berbelanja kebutuhan sehari-hari sebenarnya merupakan aktivitas yang cukup melelahkan secara mental. Pembeli harus membandingkan harga, memilih merek, memeriksa tanggal kedaluwarsa, hingga menghitung anggaran belanja. Jika ditambah musik keras yang terus-menerus diputar, pengalaman tersebut bisa menjadi lebih melelahkan dan membuat pelanggan cepat merasa tidak nyaman.

Musik pelan membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan santai. Pelanggan bisa membaca label produk dengan nyaman, membandingkan pilihan tanpa terburu-buru, dan mengambil keputusan dengan lebih rileks. Karena itulah, banyak supermarket memilih lagu dengan tempo lembut, musik instrumental, atau lagu populer dengan aransemen yang tidak terlalu agresif.

3. Ruangan supermarket sebenarnya cukup bising

ilustrasi berbelanja di supermarket (pexels.com/Gustavo Fring)

Meskipun terdengar tenang, supermarket sebenarnya dipenuhi berbagai sumber suara. Ada bunyi roda troli, mesin pendingin, scanner kasir, percakapan pelanggan, hingga pengumuman dari pengeras suara. Selain itu, sebagian besar supermarket memiliki langit-langit yang tinggi serta banyak permukaan keras seperti keramik, kaca, dan logam yang memantulkan suara.

Jika musik diputar terlalu keras, seluruh suara tersebut akan bercampur menjadi kebisingan yang membuat pengunjung cepat lelah. Musik juga bisa menutupi pengumuman penting, seperti panggilan pelanggan, informasi promo, atau pengumuman anak yang terpisah dari orang tuanya. Volume yang rendah membuat musik tetap terasa hadir tanpa mengganggu komunikasi dan suara penting lainnya.

4. Volume musik juga berkaitan dengan citra merek

ilustrasi perempuan sedang berbelanja di supermarket (freepik.com/freepik)

Pilihan volume ternyata juga menjadi bagian dari identitas sebuah supermarket. Supermarket premium biasanya ingin memberikan kesan nyaman, rapi, dan santai. Musik pelan membantu memperkuat citra tersebut sehingga pengalaman berbelanja terasa lebih eksklusif dan menyenangkan.

Sementara itu, toko yang ingin menonjolkan kesan ramai dan penuh promo mungkin menggunakan lebih banyak pengumuman diskon atau demonstrasi produk, tetapi musik latarnya tetap dijaga agar tidak terlalu mendominasi. Tanpa disadari, musik membantu membentuk kepribadian sebuah toko di mata pelanggan.

5. Musik yang terlalu keras juga melelahkan karyawan

ilustrasi kasir supermarket (unsplash.com/sq lim)

Kalau pelanggan hanya berada di supermarket selama 1 atau 2 jam, karyawan bisa menghabiskan waktu delapan jam atau bahkan lebih setiap hari di lingkungan tersebut. Paparan musik keras dalam jangka panjang dapat menyebabkan kelelahan pendengaran, meningkatkan stres, dan menurunkan kenyamanan kerja.

Musik dengan volume rendah membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman bagi pegawai kasir, staf gudang, maupun petugas di area penjualan. Karena alasan itulah, banyak perusahaan ritel lebih memilih suasana audio yang tenang daripada suasana yang terlalu ramai.

6. Ada juga faktor teknologi dan lisensi musik

ilustrasi berbelanja di supermarket (unsplash.com/Ninthgrid)

Banyak supermarket modern menggunakan layanan musik khusus untuk bisnis. Playlist yang disediakan biasanya memang dirancang untuk lingkungan ritel sehingga lebih menonjolkan lagu-lagu santai yang cocok diputar dalam waktu lama.

Sistem audio di toko juga biasanya diatur agar volume tetap konsisten di seluruh area dan tidak tiba-tiba melonjak terlalu keras sehingga mengagetkan pengunjung. Tujuannya untuk membuat musik menjadi bagian dari suasana, bukan menjadi pusat perhatian.

Tenyata, musik pelan di supermarket merupakan strategi yang dipikirkan dengan matang. Jadi, lain kali ketika kamu menyadari musik di supermarket terdengar begitu lembut hingga nyaris tidak terasa, kemungkinan besar itu bukan kebetulan. Suara pelan tersebut adalah bagian dari desain pengalaman belanja yang sengaja dibuat agar kamu merasa betah berada di dalam toko lebih lama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article