Tahun pertama selalu penuh tantangan. Tahun pertama bekerja di sebuah kantor sering kali menentukan apakah seseorang bakal resign segera atau bertahan lama di sana. Tahun pertama kuliah rasanya juga membingungkan walaupun seseorang sudah 12 tahun bersekolah.
6 Drama Tahun Pertama Anak Sekolah, Belum Bisa Enjoy

- Tahun pertama sekolah sering penuh drama seperti anak sulit berpisah dari orangtua, mogok sekolah, hingga semangat belajar yang naik turun.
- Anak juga bisa stres menghadapi PR, ulangan, atau kesulitan beradaptasi dengan teman baru di lingkungan sekolah.
- Orangtua perlu sabar dan aktif mendampingi agar anak merasa aman, berani, serta mampu melewati masa adaptasi tahun pertamanya.
Tahun pertama kamu menikah masih butuh banyak penyesuaian peran dengan pasangan. Begitu pula tahun pertama anak mulai bersekolah. Orangtua harus ekstra sabar menghadapi berbagai kemungkinan perilaku anak. Sekaligus kasih dukungan pada anak supaya gak putus asa dan merasa sekolah bukan tempat yang tepat buatnya. Baik anak baru tahun ini yang masuk TK atau SD, biasanya mengalami drama tahun pertama anak sekolah seperti di bawah ini. Tenangkan anak jika ia mengalaminya, ya.
1. Maunya ditunggui terus oleh orangtua selama di sekolah

Anak mengalami ketakutan berpisah dari orangtua atau pengasuhnya. Walaupun jam sekolah cuma sebentar, ia tetap tidak mau ditinggal. Anak ingin orangtua atau pengasuhnya menunggu di depan kelas sampai bel pulang.
Bahkan ada anak yang mau orangtua atau pengasuhnya ikut masuk ke kelas. Meski kerap terjadi, drama seperti ini bisa dicegah dengan menyadarkan anak sejak awal. Seperti mendekati anak lulus TK, orangtua terus kasih tahu bahwa ketika anak duduk di bangku SD nanti harus lebih berani.
Orangtua gak akan lagi menunggu anak hingga waktu pulang. Kamu atau pasangan cuma mengantar dan menjemputnya. Biasanya, bila anak sudah jauh-jauh waktu diberi tahu seperti ini, tak takut lagi di sekolah.
2. Mogok sekolah

Anak mendadak menolak bersekolah tanpa alasan yang jelas. Anak tidak sakit, tapi tetap rewel dan gak mau berangkat. Anak berubah menjadi tak kooperatif. Ia gak mau dibangunkan di pagi hari, menolak mandi, sarapan, dan berbagai persiapan lain sebelum berangkat ke sekolah.
Saat kamu menakutinya dengan kalimat 'nanti guru marah pun', anak seperti tidak peduli. Lamanya anak mogok sekolah bisa hitungan hari sampai minggu. Selain bujukan orangtua, terkadang guru atau wali kelasnya juga perlu dilibatkan.
Agar anak lebih yakin untuk kembali bersekolah. Anak yang mogok sekolah biasanya punya masalah, tapi belum tentu mau bicara secara terbuka. Gali terus ceritanya pelan-pelan dan hindari bersikap terlalu keras.
3. Semangat belajar naik turun

Sebenarnya, semangat belajar yang naik turun dialami oleh semua anak sekolah. Bahkan sampai kelak mereka SMA atau kuliah pun sama. Namun, di tahun pertama anak bersekolah, semangat belajarnya lebih mudah turun ketimbang naik.
Anak masih suka bermain dan menonton hiburan. Susah sekali untuknya fokus pada buku pelajaran. Bahkan meski dirimu ada di depannya dan mengajarinya sesuatu. Pun jika semangat belajarnya sudah drop, sulit dinaikkan kembali.
Kombinasi antara strategi membuat belajar menjadi terasa menyenangkan dengan ketegasan orangtua sangat penting. Jangan terus menoleransi anak yang maunya belajar sambil menonton televisi, misalnya. Ada waktu untuk setiapnya dan waktu belajar gak boleh diganggu oleh aktivitas lain.
4. Nangis kalau ada PR atau mau ulangan

Anak belum terbiasa dengan banyak PR atau tugas sekolah. Apalagi, ulangan yang menguji penguasaannya atas materi-materi yang telah diajarkan. Ia menjadi mudah panik dan merasa gak bakal bisa melakukannya.
Kamu dan pasangan perlu menenangkan dan membuat anak lebih optimis. Namun, tentu tak bisa hanya dengan ucapan semangat saja. Kalian juga perlu mengajari anak cara membagi waktu.
Agar ia dapat mengerjakan semua PR serta tugas tanpa kepanikan dan seluruhnya selesai tepat waktu. Begitu pula dengan pengaturan waktu belajar setiap hari. Supaya tiba saatnya ulangan, beban belajarnya tak mendadak sangat berat.
5. Gak punya teman atau dinakali terus

Masalah pertemanan juga sering menimbulkan drama pada tahun pertama anak bersekolah. Murid yang pandai bergaul akan dengan cepat memiliki kawan-kawan. Mereka bahkan bisa tampak seperti kelompok yang sangat solid.
Sebaliknya, anak yang lebih pemalu perlu masa adaptasi yang panjang di sekolah. Membentuk pertemanan baru sulit sekali baginya. Ia berkawan dengan satu orang saja susah, apalagi lebih dari itu.
Bisa pula anak mengalami berbagai perlakuan tak menyenangkan dari teman-temannya. Ia mungkin diejek bahkan beberapa kali dipukul. Anak menjadi membenci keharusannya pergi ke sekolah. Rasanya seperti akan kembali ke lubang derita dari bel masuk sampai bel pulang.
6. BAK atau BAB di celana saat di sekolah

Di rumah, anak sudah lancar ke kamar mandi sendiri saat hendak buang air kecil atau besar. Namun, belum tentu ia berani melakukannya ketika di tempat lain. Apalagi tanpa orangtua yang mendampingi.
Meski banyak teman yang juga mengantre di toilet, anak justru bertambah gugup. Anak tidak berani bilang bahwa dirinya telah amat tak tahan BAK atau BAB. Bahkan boleh jadi anak bertahan terus di kelas sampai ia mengompol atau buang air besar di celana.
Kejadian seperti ini, selain menghebohkan teman-temannya, juga dapat membuat anak malu ke sekolah lagi. Anak perlu terus didorong untuk berani secepatnya ke kamar mandi setiap sudah mulai merasa ingin buang hajat. Tidak usah menahannya atau memintanya ditemani guru dan sahabat jika takut.
Drama tahun pertama anak sekolah jelas akan terjadi dan hal ini wajar, sebab tahun pertama bersekolah tidak mudah bagi sebagian anak. Orangtua perlu bersiap menghadapi segala dramanya. Apabila tahun pertama telah terlewati, umumnya tahun-tahun berikutnya berjalan jauh lebih lancar.




















