Kindle sering dibeli dengan niat mulia: supaya lebih rajin membaca, mengurangi distraksi, atau menamatkan buku yang selama ini tertunda. Di awal pemakaian, antusiasmenya tinggi, layar masih bening, koleksi buku mulai menumpuk, dan rutinitas baca terasa menjanjikan. Tapi beberapa bulan kemudian, Kindle justru lebih sering tergeletak di laci. Fenomena ini cukup umum dan bukan berarti Kindlenya gagal. Biasanya, masalahnya ada pada ekspektasi dan kebiasaan baca yang tidak benar-benar berubah.
Kenapa Orang Beli Kindle Tapi Akhirnya Jarang Dipakai?

Intinya sih...
Ekspektasi bahwa Kindle otomatis bikin rajin membacaBanyak orang membeli Kindle dengan harapan alat ini akan “memaksa” mereka membaca lebih sering. Tanpa waktu khusus atau komitmen membaca, Kindle tidak akan bekerja secara ajaib.
Kebiasaan membaca sebelumnya tidak pernah benar-benar adaSebagian orang membeli Kindle meski sebelumnya jarang membaca buku panjang. Membaca tetap terasa berat, meski medianya sudah berganti.
Isi bacaan tidak sesuai dengan kebutuhan atau minatKindle sering diisi banyak buku karena murah, diskon, atau sekadar “biar penuh”. Kebingungan ini bikin membaca terasa seperti tugas, bukan kesenangan.
1. Ekspektasi bahwa Kindle otomatis bikin rajin membaca
Banyak orang membeli Kindle dengan harapan alat ini akan “memaksa” mereka membaca lebih sering. Padahal Kindle hanyalah medium, bukan solusi kebiasaan. Tanpa waktu khusus atau komitmen membaca, Kindle tidak akan bekerja secara ajaib. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi, rasa kecewa muncul dan perangkat perlahan ditinggalkan. Akhirnya, Kindle disalahkan atas kebiasaan baca yang sebenarnya memang belum terbentuk.
2. Kebiasaan membaca sebelumnya tidak pernah benar-benar ada
Sebagian orang membeli Kindle meski sebelumnya jarang membaca buku panjang. Ketika euforia awal hilang, kebiasaan lama kembali mengambil alih. Membaca tetap terasa berat, meski medianya sudah berganti. Kindle tidak mengubah fakta bahwa membaca butuh waktu, fokus, dan kesabaran. Tanpa fondasi kebiasaan baca, perangkat secanggih apa pun sulit bertahan lama dipakai.
3. Isi bacaan tidak sesuai dengan kebutuhan atau minat
Kindle sering diisi banyak buku karena murah, diskon, atau sekadar “biar penuh”. Sayangnya, banyak dari buku itu tidak benar-benar ingin dibaca saat itu juga. Akibatnya, setiap kali membuka Kindle, pembaca malah bingung mau mulai dari mana. Kebingungan ini bikin membaca terasa seperti tugas, bukan kesenangan. Lama-lama, Kindle lebih sering ditutup daripada dibuka.
4. Ritme hidup tidak memberi ruang untuk membaca tenang
Membaca, terutama di Kindle, tetap butuh ruang mental. Saat rutinitas harian terlalu padat, membaca jadi aktivitas yang mudah dikorbankan. Kindle memang praktis dibawa, tapi tidak otomatis menciptakan waktu luang. Tanpa momen khusus—seperti sebelum tidur atau saat commuting—Kindle kalah bersaing dengan hiburan instan lain. Bukan karena Kindle tidak praktis, tapi karena membaca kalah prioritas.
5. Kurang personalisasi pengalaman membaca
Banyak pengguna tidak pernah mengatur font, ukuran teks, margin, atau pencahayaan layar. Akibatnya, membaca terasa kurang nyaman dari awal. Ketidaknyamanan kecil ini sering diabaikan, tapi efeknya besar dalam jangka panjang. Saat membaca tidak terasa “klik”, pembaca enggan kembali. Padahal sedikit penyesuaian bisa membuat Kindle jauh lebih enak dipakai.
Kindle yang jarang dipakai biasanya bukan karena perangkatnya bermasalah, melainkan karena kebiasaan baca yang tidak pernah benar-benar dibangun. Ekspektasi berlebihan, pilihan bacaan yang kurang tepat, dan minimnya ruang membaca membuat Kindle kehilangan perannya. Ketika membaca tidak dijadikan bagian dari rutinitas, Kindle hanya akan jadi alat cadangan.