Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Overthinking Makin Parah di Era Media Sosial?
Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

Pernahkah kamu membuka Instagram hanya untuk sebentar, lalu tiba-tiba tersadar sudah sejam berlalu dan kepalamu penuh dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya, kenapa hidupnya terlihat lebih bahagia? Apakah aku kurang produktif? Kenapa postinganku tidak sepopuler itu? Di sinilah overthinking lahir: bukan dari keheningan, melainkan dari kebisingan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Overthinking bukan fenomena baru. Manusia sudah lama bergulat dengan pikiran yang berputar-putar. Namun era media sosial seperti menyuntikkan bahan bakar baru ke dalam mesin kecemasan yang sudah ada di kepala kita. Lalu kenapa overthinking makin parah di era media sosial?

1. Banjir informasi yang tidak pernah berhenti

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/freepik)

Media sosial membuat kita terpapar informasi tanpa jeda. Dari berita, opini, hingga kehidupan pribadi orang lain, semuanya hadir dalam satu layar yang sama. Otak kita dipaksa memproses terlalu banyak hal dalam waktu singkat, sehingga sulit membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.

Kondisi ini memicu overthinking karena kita terus mencoba 'menyusun makna' dari setiap informasi yang masuk. Bahkan hal kecil bisa terasa besar karena terus dipikirkan berulang-ulang. Semakin banyak yang dikonsumsi, semakin penuh pula pikiran kita.

Sebuah penelitian International Journal of Environmental Research and Public Health, yang mempelajari tentang pencarian berita dan respons emosional seseorang, menemukan bahwa semakin sering terpapar berita utama terkini—baik melalui media berita tradisional maupun di media sosial, bisa merusak kesehatan mental. Studi ini melibatkan 2.251 orang dewasa pada tahun 2020, mereka menemukan bahwa semakin sering orang mencari informasi (terkini) melalui berbagai media televisi, surat kabar, dan media sosial—semakin besar kemungkinan mereka melaporkan tekanan emosional.

2. Perilaku membandingkan yang tidak sehat

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

Media sosial sering kali menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dengan pencapaian, penampilan, atau gaya hidup orang lain. Perbandingan ini jarang adil, karena kita melihat 'highlight' orang lain dan membandingkannya dengan realita hidup kita sendiri.

"Media sosial menciptakan situasi di mana kamu membandingkan 'kehidupan biasamu' dengan momen-momen terbaik dalam kehidupan orang lain. Oleh karena itu, persepsimu tentang 'normal' menjadi menyimpang dan kamu tampak lebih buruk daripada teman-temanmu," jelas Elizabeth Scott, PhD, psikolog dikutip dari Very Well Mind.

"Media sosial menciptakan platform untuk pamer; di sanalah berbagai hal, peristiwa, dan bahkan kebahagiaan itu sendiri terkadang tampak bersaing. Orang-orang membandingkan pengalaman terbaik mereka yang sempurna, yang mungkin membuatmu bertanya-tanya apa yang kurang dari dirimu," lanjut Elizabeth.

Dari sini, overthinking mulai muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seperti “Kenapa aku belum sampai di titik itu?” atau “Apa yang salah dari diriku?”. Pikiran ini terus berputar dan memicu rasa tidak cukup.

Semakin sering kita terpapar, semakin kuat dorongan untuk membandingkan diri. Overthinking pun berubah menjadi kebiasaan, karena kita terus mencari validasi dari luar, bukan dari diri sendiri.

3. Fear of Missing Out (FOMO)

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Alejandro Sotillet)

Media sosial membuat kita selalu merasa harus tahu dan ikut dalam segala hal. Ketika melihat orang lain melakukan sesuatu, muncul rasa takut tertinggal atau tidak relevan. Inilah yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

"Rasa takut ketinggalan, atau FOMO, mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada kamu. Ini melibatkan rasa iri yang mendalam dan bisa berdampak serius pada harga dirimu," terang Elizabeth Scott.

Perasaan ini memicu overthinking karena kita terus mempertanyakan pilihan kita sendiri. “Harusnya aku ikut juga?”, “Aku ketinggalan gak ya?”—pertanyaan seperti ini terus berulang di kepala.

Padahal, tidak semua hal perlu kita ikuti. Namun, karena terus terpapar aktivitas orang lain, kita merasa seolah-olah harus selalu hadir di setiap momen. Hal inilah yang membuat pikiran sulit tenang.

4. Validasi sosial yang semu

ilustrasi main handphone (unsplash.com/Josh Withers)

Like, komentar, dan jumlah followers sering kali dijadikan tolok ukur nilai diri. Ketika postingan tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan, kita mulai overthinking. “Kurang bagus ya?”, “Orang-orang gak suka ya?”—pikiran seperti ini muncul tanpa disadari.

Ketergantungan pada validasi eksternal membuat kita lebih sensitif terhadap penilaian orang lain. Bahkan hal kecil bisa terasa besar karena kita mengaitkannya dengan harga diri.

"Melalui 'like' dan 'follow', remaja seakan mendapatkan data aktual tentang seberapa banyak orang menyukai mereka dan penampilan mereka," kata Lindsey Giller, seorang psikolog klinis di Child Mind Institute dikutip dari laman Harvard Graduate School of Education.

Padahal, validasi di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas. Namun, karena terlihat nyata dalam bentuk angka, kita mudah terjebak dan terus memikirkannya.

5. Overexposure terhadap opini orang lain

Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

Media sosial memberi ruang bagi siapa saja untuk berpendapat. Ini memang positif, tetapi juga bisa menjadi sumber overthinking. Terlalu banyak sudut pandang membuat kita bingung menentukan mana yang harus diikuti.

Ketika membaca berbagai komentar yang saling bertentangan, pikiran kita terus bekerja mencoba mencari 'kebenaran'. Proses ini bisa melelahkan dan memicu overthinking, terutama jika kita mencoba menyenangkan semua pihak.

Selain itu, komentar negatif atau kritik juga bisa terus terngiang di kepala. Satu komentar saja bisa dipikirkan berulang kali, bahkan lebih lama daripada puluhan komentar positif.

6. Tidak ada batas antara dunia nyata dan digital

Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Alexey Demidov)

Media sosial membuat batas antara kehidupan nyata dan digital menjadi kabur. Kita tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga di dunia online yang terus berjalan tanpa henti. Akibatnya, pikiran kita jarang benar-benar istirahat.

Kondisi ini membuat overthinking semakin mudah muncul, karena kita selalu terhubung dengan berbagai stimulus. Bahkan saat sedang sendiri, kita tetap 'ramai' di dalam pikiran.

"Mengurangi penggunaan (media sosial), atau melakukan detoks digital di mana kamu beristirahat dari perangkat digital, bisa membantu kamu lebih fokus pada kehidupanmu sendiri tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain," saran Elizabeth Scott.

Tanpa disadari, kita kehilangan momen untuk benar-benar hadir di kehidupan nyata. Pikiran terus melayang, memikirkan apa yang sudah dilihat atau apa yang akan terjadi di media sosial selanjutnya.

"Rasa syukur dapat menjadi cara ampuh untuk mengurangi perasaan depresi dan kecemasan. Karena kamu merasa lebih baik tentang hal-hal baik dalam hidupmu, kamu juga menjadi kurang tergoda untuk terjebak dalam lingkaran media sosial," tutup Elizabeth.

Overthinking yang makin parah di era media sosial adalah sinyal, bukan kelemahan karakter. Ia menunjukkan bahwa kamu peduli, bahwa kamu berpikir, tapi kamu belum menemukan tempat yang tepat untuk meletakkan semua pikiran itu. Mulailah dari hal kecil: batasi scroll tanpa tujuan, beri jeda sebelum membuka aplikasi, dan ingatkan dirimu bahwa layar hanya menampilkan satu sisi dari kenyataan.

Editorial Team