Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Alexey Demidov)
Media sosial membuat batas antara kehidupan nyata dan digital menjadi kabur. Kita tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga di dunia online yang terus berjalan tanpa henti. Akibatnya, pikiran kita jarang benar-benar istirahat.
Kondisi ini membuat overthinking semakin mudah muncul, karena kita selalu terhubung dengan berbagai stimulus. Bahkan saat sedang sendiri, kita tetap 'ramai' di dalam pikiran.
"Mengurangi penggunaan (media sosial), atau melakukan detoks digital di mana kamu beristirahat dari perangkat digital, bisa membantu kamu lebih fokus pada kehidupanmu sendiri tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain," saran Elizabeth Scott.
Tanpa disadari, kita kehilangan momen untuk benar-benar hadir di kehidupan nyata. Pikiran terus melayang, memikirkan apa yang sudah dilihat atau apa yang akan terjadi di media sosial selanjutnya.
"Rasa syukur dapat menjadi cara ampuh untuk mengurangi perasaan depresi dan kecemasan. Karena kamu merasa lebih baik tentang hal-hal baik dalam hidupmu, kamu juga menjadi kurang tergoda untuk terjebak dalam lingkaran media sosial," tutup Elizabeth.
Overthinking yang makin parah di era media sosial adalah sinyal, bukan kelemahan karakter. Ia menunjukkan bahwa kamu peduli, bahwa kamu berpikir, tapi kamu belum menemukan tempat yang tepat untuk meletakkan semua pikiran itu. Mulailah dari hal kecil: batasi scroll tanpa tujuan, beri jeda sebelum membuka aplikasi, dan ingatkan dirimu bahwa layar hanya menampilkan satu sisi dari kenyataan.