Memasuki bulan Ramadan, suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terpancar dalam raut wajah setiap Muslim. Seolah, ibadah puasa yang mengharuskan setiap orang beriman untuk menahan haus dan lapar, justru memberi kesejukan dalam dirinya. Keikhlasan untuk menahan hawa nafsu menjadi kunci ibadah puasa dapat berjalan dengan baik.
Selain menahan nafsu, bulan Ramadan sebagai salah satu periode waktu yang suci juga mengetuk hati setiap insan untuk berbagi. Di momen yang spesial ini, umat Islam diajarkan untuk berbagi dengan sesama. Sebab, menjaga hawa nafsu tak sebatas dipahami dengan menunda dahaga dan lapar, melainkan menjaga hasrat untuk mengusai harta pribadi secara berlebihan, seorang diri.
Dalam prakteknya, umat Islam diajarkan untuk bersedekah, memberi makan orang yang berpuasa, hingga membayar zakat. Seluruh amalan ini tujuannya menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama manusia, agar dapat sama-sama menikmati hari kemenangan yaitu Idul Fitri dengan suka cita.
Secara psikologis, berbagi kepada orang lain ternyata juga terbukti memiliki manfaat untuk menumbuhkan empati dalam diri. Bagaimana bulan Ramadan mengubah individu menjadi lebih simpatik dengan berbagi? Simak penjelasannya melalui sudut pandang psikologis.
