Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kerisauan yang Bikin Ragu Pergi Haji atau Umrah meski Uang Ada

5 Kerisauan yang Bikin Ragu Pergi Haji atau Umrah meski Uang Ada
ilustrasi ibadah haji dan umrah (pexels.com/Mo7sen Mohammad)
Intinya Sih
  • Banyak orang ragu berangkat haji atau umrah meski mampu secara finansial karena khawatir tabungan habis dan muncul kebutuhan mendesak setelahnya.
  • Kondisi kesehatan yang kurang prima serta kekhawatiran tidak kuat menjalani ibadah di Tanah Suci membuat sebagian orang menunda keberangkatan.
  • Tuntutan sosial, tanggung jawab keluarga, dan rasa takut dianggap riya menjadi alasan lain yang bikin orang berpikir dua kali untuk berhaji atau umrah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Haji merupakan rukun Islam kelima. Ibadah ini wajib dilaksanakan bagi orang yang mampu baik dari segi keuangan maupun kesehatan. Sementara terkait umrah terdapat dua pandangan yang berbeda. Pendapat pertama, umrah wajib dilaksanakan satu kali sepanjang hidup seseorang.

Umrah kedua, ketiga, dan seterusnya tidak wajib. Namun, terdapat pula pandangan bahwa umrah merupakan ibadah sunah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama mengenai hukum umrah, baik umrah maupun haji memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Satu orang saja membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah. Tentu tidak semua orang memiliki uang sebanyak ini. Akan tetapi, andai pun uangnya ada, belum tentu seseorang mantap berangkat atau mendaftar untuk ibadah haji dan umrah. Sering kali orang memiliki kerisauan yang bikin ragu pergi haji atau umrah meski uang ada berdasarkan alasan berikut ini.

1. Khawatir tabungan habis lalu ada kebutuhan mendesak

ibadah haji dan umrah
ilustrasi ibadah haji dan umrah (pexels.com/Mutahir Jamil)

Saldo tabungan sudah cukup untuk seseorang berangkat haji atau umrah. Namun, masih ada perasaan waswas kalau-kalau tabungan itu habis. Padahal, nantinya boleh jadi ada kebutuhan mendadak yang cukup besar.

Apabila saldo tabungan terlalu mepet, orang menjadi ragu untuk menggunakannya guna beribadah ke Tanah Suci. Terlebih, ia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada siapa pun. Sering kali orang berharap dapat menambah dulu saldo tabungannya agar lebih aman.

Meski begitu, ada juga orang yang lebih berani dan langsung berangkat saja. Orang tipe begini sangat yakin bahwa rezeki akan selalu ada. Malah, kalau tabungan sudah cukup, tapi keberangkatan ditunda, terus ujung-ujungnya uang hilang tanpa kejelasan pemakaiannya.

2. Mengkhawatirkan kondisi kesehatan yang sudah kurang baik

Tanah Suci
ilustrasi Tanah Suci (pexels.com/Taha Furkan Akgül)

Tidak bisa dimungkiri bahwa ibadah haji atau umrah cukup berat. Jarak yang begitu jauh, rangkaian ibadah yang padat, dan perbedaan suhu udara bisa membuat tubuh rentan sakit. Jangankan orang yang sejak di Tanah Air pun sudah mengidap penyakit tertentu.

Orang yang masih muda dan sehat juga dapat tiba-tiba ngedrop sesampainya di Tanah Suci. Ini bikin sebagian orang dengan kesehatan yang gak prima berpikir dua kali untuk berangkat. Takutnya di sana kenapa-kenapa dan malah merepotkan banyak orang.

Namun, lagi-lagi terdapat perbedaan antarorang. Ada juga orang yang dalam keadaan sakit malah tambah bersemangat buat pergi ke Tanah Suci. Mereka yakin tidak ada kesembuhan tanpa izin Allah SWT. Pun pergi ke Tanah Suci terasa melegakan dan membuatnya lebih siap andai harus berpulang kapan pun karena sakitnya.

3. Khawatir perilaku dan penampilannya dianggap tak lebih baik setelah haji atai umrah

berdoa
ilustrasi berdoa (pexels.com/Dwi Setyo)

Di masyarakat, orang yang sudah pernah pergi haji atau umrah juga kerap memikul beban berat. Ada banyak orang berekspektasi ketinggian terhadapnya. Lantaran seseorang telah menjalankan rukun Islam kelima, lantas seluruh tindakan dan penampilannya harus sempurna.

Bahkan, seperti ada tuntutan terhadapnya, lantas menyerupai ustaz atau ustazah. Ini beban sekali bagi orang yang bersangkutan. Padahal, menjadi pribadi yang lebih baik adalah proses seumur hidup.

Bahkan orang yang kesehariannya tampak telah begitu taat pun tetap bisa melakukan kesalahan. Tak siap dengan beban ekspektasi seperti di atas, beberapa orang sampai mengurungkan niat untuk berangkat ke Tanah Suci. Walau isi rekening tabungannya boleh jadi telah berlipat-lipat dari biaya haji serta umrah.

4. Khawatir meninggalkan anak atau lansia di rumah

salat
ilustrasi salat (pexels.com/Rizky Sabriansyah)

Bagi orangtua dengan anak-anak yang masih kecil, pergi lama dan jauh benar-benar bukan perkara mudah. Apalagi mereka tidak tinggal bersama orangtua atau saudara yang bisa dititipi anak dengan aman. Kalau harus berangkat salah satu dulu, seperti suami atau istri duluan, kadang rasanya ada yang kurang.

Bahkan boleh jadi terdapat rasa takut terjadi sesuatu di sana. Adanya pasangan diharapkan bisa saling menjaga lebih baik. Maka sebagian orang sengaja menunda keberangkatan hingga anak-anak cukup besar untuk ditinggal lama.

Daripada selama mereka di Tanah Suci malah terus kepikiran keluarga di rumah. Begitu pula orang yang setiap hari mesti merawat orangtua lanjut usia. Memang ada tenaga profesional yang menjaga lansia. Namun, belum tentu bisa cepat diperoleh, kerasan, atau orangtua merasa cocok.

5. Khawatir sudah pernah ke Tanah Suci malah bikin riya atau ria

lima pria
ilustrasi lima pria (pexels.com/Rasyid Ahmad)

Ria atau riya menjadi godaan yang sangat halus sekaligus kuat. Kalau kamu berpuasa kemudian tergoda untuk makan, jelas terlihat sekali. Tindakan mengambil makanan, menyuap, mengunyah, minum, dan mencuci piring gak mungkin dilakukan tanpa disadari.

Sementara ria atau memamerkan sesuatu jauh lebih halus. Bahkan kamu gak merasa riya pun, orang lain dapat menilaimu begitu. Apalagi di era media sosial. Boleh jadi pergi ke Tanah Suci akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup.

Dirimu menjadi tidak tahan untuk mengunggah sebanyak mungkin foto dan video lengkap dengan tulisan yang mungkin sudah mengandung pamer. Akan tetapi, semua hal yang paling simpel pun sebenarnya bisa digunakan buat menyombongkan diri. Sayang, kalau tabungan telah cukup, tapi niat berhaji atau umrah dibatalkan hanya karena takut ria. Lebih baik berlatih menahan diri daripada selamanya gak jadi beribadah.

Kerisauan yang bikin ragu pergi haji atau umrah meski uang ada menandakan bahwa kedua ibadah tersebut sebenarnya memang tidak mudah. Niat yang kuat mesti dibarengi dengan kecukupan dana serta kondisi fisik yang fit. Untukmu yang masih muda dan sudah punya uang lebih dari cukup buat berangkat ke Tanah Suci, niat perlu dipertebal. Sementara buatmu yang belum siap dari segi biaya maupun kesehatan, semoga segera dimampukan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us