ilustrasi sains (pexels.com/ThisIsEngineering)
Perjalanan Ifa sebagai sebagai science communicator bukanlah terjadi secara instan. Ketertarikannya pada dunia sains telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah, bahkan jauh sebelum ia aktif membuat konten edukasi. Latar belakang akademik sebagai lulusan Mikrobiologi ITB dan pengalaman mengikuti kompetisi sains, menjadi fondasi yang membentuk cara berpikirnya hingga sekarang.
"Jadi aku tuh, kan dulu aku kuliah di Mikrobiologi ITB. Terus dari SMP, SMA, terus aku ikut ke OSN. Jadi, sebetulnya pengetahuan Science, terus habis itu Scientific, Curiosity itu udah tinggi. Tapi setelah lulus, aku gak kerja di Mikrobiologi," katanya.
Setelah lulus dari pendidikan formal dan melakoni karier di berbagai bidang, cara berpikir ilmiah tetap melekat dalam keseharian Ifa. Terlebih saat mengasuh anak, Ifa menyadari dirinya terbiasa menjelaskan berbagai hal menggunakan pendekatan scientific thinking pada buah hatinya. Dari pengalaman tersebut, ia mulai membuat konten seputar STEM, seperti eksperimen sains sederhana dan pembelajaran matematika yang bisa dilakukan di rumah bersama anak.
Pada 2024, fokusnya mulai bergeser. Dari yang semula banyak membahas pendidikan STEM untuk anak-anak, Ifa memutuskan menekuni dunia science communication. Pergeseran ini, salah satunya didorong oleh motivasi pribadi. Awalnya, ia hanya menjawab rasa penasaran anak-anak, tetapi lama-kelamaan justru semakin banyak pertanyaan datang dari orang dewasa. Mulai dari kandungan aktif dalam produk skincare, mitos kesehatan, hingga berbagai persoalan sehari-hari yang membutuhkan penjelasan berbasis sains. Dari situlah, Ifa melihat bahwa masyarakat membutuhkan sosok yang mampu menerjemahkan ilmu pengetahuan ke dalam bahasa yang mudah dipahami.
"Kalau di sekolah, kan dia education ya. Kalau education kan emang udah ada kurikulumnya, udah ada seriusnya. Kalau ini kan learning. Kalau learning itu, dia lebih tidak bersistem gitu. Kita bisa learning di mana aja. Nah, sebenarnya ini tuh sebutannya, kalau aku boleh nyebut, sains pop sih. Jadi, bagaimana membuat sains tuh popular," ujarnya.
Setelah tiga tahun berkiprah sebagai science communicator, Ifa mulai memikirkan cara baru untuk menghadirkan edukasi sains kepada masyarakat. Jika sebelumnya ia lebih banyak membagikan pengetahuan melalui konten digital, kini ia ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan dapat dirasakan secara langsung.
Gagasan tersebut kemudian melahirkan Science Trip, sebuah program yang rutin ia selenggarakan secara langsung dengan mengajak peserta melakukan perjalanan sambil mempelajari berbagai konsep sains yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Peserta yang mayoritas perempuan dan dewasa muda, bebas mengajukan pertanyaan kepada Ifa. Inilah yang membuat kegiatan Science Trip kian menyenangkan.
"Sebenernya, sebelum Science Trip itu, ada stand up science. Jadi, di awalnya, stand up science itu tuh event engagement pertama. Ini seperti stand up comedy, tapi science. Jadi, satu arah. Jadi, aku ke audiens di satu tempat," ujarnya. Ifa menambahkan, stand up science sendiri menjadi upaya untuk membuat sains understandable dan relevan dengan audiens.