Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perjuangan Ifatul Khasanah Mendekatkan Sains dan Bangun Cara Berpikir
ilustrasi sains modern (pexels.com/Polina Tankilevitch)
  • Ifatul Khasanah berperan sebagai science communicator yang menghadirkan sains secara sederhana agar masyarakat mampu berpikir kritis dan tidak mudah terjebak misinformasi di tengah banjir informasi digital.
  • Melalui program seperti Science Trip dan konten edukatif, Ifa mengajak masyarakat memahami konsep sains dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah.
  • Dengan latar belakang pendidikan STEM dan pengalaman pribadi, Ifa berkomitmen membangun generasi muda yang memiliki pola pikir ilmiah, rasa ingin tahu tinggi, serta kemampuan berpikir rasional sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Jutaan informasi berseliweran di media sosial setiap harinya. Arus informasi yang begitu deras membuat masyarakat semakin mudah memperoleh pengetahuan. Kondisi ini tentu menghadirkan sudut pandang beragam yang dapat membantu seseorang mengambil keputusan. Namun, di sisi lain, banjir informasi menimbulkan tantangan baru. Perbedaan pendapat para ahli, maraknya hoaks, hingga strategi pemasaran yang dikemas seolah-olah sebagai fakta, sering kali membuat masyarakat keliru dalam mengambil keputusan.

Melihat fenomena tersebut, Ifatul Khasanah mengambil peran sebagai seorang science communicator. Melalui konten-konten edukatif, Ifa berupaya membantu masyarakat memahami sains secara sederhana agar tidak mudah terjebak oleh misinformasi. Ia mendorong masyarakat untuk berpikir kritis dalam mengambil keputusan, terutama berdasarkan pengetahuan dan bukti ilmiah. Baginya, literasi sains mendorong kemampuan berpikir kritis untuk menelaah suatu informasi.

Perjalanan Ifa sebagai science communicator menjadi kisah inspiratif tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat dikemas secara relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lewat pendekatan yang komunikatif, ia membuktikan bahwa sains tidak selalu kompleks memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kisah perjalanan tersebut dibagikan Ifa kepada IDN Times dalam wawancara eksklusif yang berlangsung pada Selasa (23/6/2026) di Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

1. Perjalanan Ifa menjadi science communicator

ilustrasi sains (pexels.com/ThisIsEngineering)

Perjalanan Ifa sebagai sebagai science communicator bukanlah terjadi secara instan. Ketertarikannya pada dunia sains telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah, bahkan jauh sebelum ia aktif membuat konten edukasi. Latar belakang akademik sebagai lulusan Mikrobiologi ITB dan pengalaman mengikuti kompetisi sains, menjadi fondasi yang membentuk cara berpikirnya hingga sekarang.

"Jadi aku tuh, kan dulu aku kuliah di Mikrobiologi ITB. Terus dari SMP, SMA, terus aku ikut ke OSN. Jadi, sebetulnya pengetahuan Science, terus habis itu Scientific, Curiosity itu udah tinggi. Tapi setelah lulus, aku gak kerja di Mikrobiologi," katanya.

Setelah lulus dari pendidikan formal dan melakoni karier di berbagai bidang, cara berpikir ilmiah tetap melekat dalam keseharian Ifa. Terlebih saat mengasuh anak, Ifa menyadari dirinya terbiasa menjelaskan berbagai hal menggunakan pendekatan scientific thinking pada buah hatinya. Dari pengalaman tersebut, ia mulai membuat konten seputar STEM, seperti eksperimen sains sederhana dan pembelajaran matematika yang bisa dilakukan di rumah bersama anak.

Pada 2024, fokusnya mulai bergeser. Dari yang semula banyak membahas pendidikan STEM untuk anak-anak, Ifa memutuskan menekuni dunia science communication. Pergeseran ini, salah satunya didorong oleh motivasi pribadi. Awalnya, ia hanya menjawab rasa penasaran anak-anak, tetapi lama-kelamaan justru semakin banyak pertanyaan datang dari orang dewasa. Mulai dari kandungan aktif dalam produk skincare, mitos kesehatan, hingga berbagai persoalan sehari-hari yang membutuhkan penjelasan berbasis sains. Dari situlah, Ifa melihat bahwa masyarakat membutuhkan sosok yang mampu menerjemahkan ilmu pengetahuan ke dalam bahasa yang mudah dipahami.

"Kalau di sekolah, kan dia education ya. Kalau education kan emang udah ada kurikulumnya, udah ada seriusnya. Kalau ini kan learning. Kalau learning itu, dia lebih tidak bersistem gitu. Kita bisa learning di mana aja. Nah, sebenarnya ini tuh sebutannya, kalau aku boleh nyebut, sains pop sih. Jadi, bagaimana membuat sains tuh popular," ujarnya.

Setelah tiga tahun berkiprah sebagai science communicator, Ifa mulai memikirkan cara baru untuk menghadirkan edukasi sains kepada masyarakat. Jika sebelumnya ia lebih banyak membagikan pengetahuan melalui konten digital, kini ia ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan dapat dirasakan secara langsung.

Gagasan tersebut kemudian melahirkan Science Trip, sebuah program yang rutin ia selenggarakan secara langsung dengan mengajak peserta melakukan perjalanan sambil mempelajari berbagai konsep sains yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Peserta yang mayoritas perempuan dan dewasa muda, bebas mengajukan pertanyaan kepada Ifa. Inilah yang membuat kegiatan Science Trip kian menyenangkan.

"Sebenernya, sebelum Science Trip itu, ada stand up science. Jadi, di awalnya, stand up science itu tuh event engagement pertama. Ini seperti stand up comedy, tapi science. Jadi, satu arah. Jadi, aku ke audiens di satu tempat," ujarnya. Ifa menambahkan, stand up science sendiri menjadi upaya untuk membuat sains understandable dan relevan dengan audiens.

2. Science Communicator membantu individu membuat keputusan lebih rasional berbasis ilmu pengetahuan

ilustrasi sains (unsplash.com/This is Engineering)

Ifa selalu berusaha menghadirkan sains dalam konteks yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Ia mengangkat topik-topik yang berasal dari keresahan atau kebiasaan masyarakat, lalu mengemasnya dengan cara yang ringan, menarik, bahkan sesekali diselipi humor.

"Jadi sebenarnya kan gini, pengetahuan sains itu banyak banget. Aku sebagai scientist, aku selalu belajar sehingga knowledge-nya tambah banyak. Nah, tapi sebagai science communicator, tugas kita itu melakukan filter dan mengkurasi knowledge apa yang kita sampaikan ke audiens," katanya.

Ia menambahkan alasan di balik upayanya selama ini, "Nah, hal-hal sederhana dalam hiduplah yang aku ingin edukasikan supaya kita bisa decision making yang based on science di level kita sendiri."

Semangat tersebut kian kuat sebab Ifa melihat tantangan besar di era digital. Menurutnya, masyarakat saat ini hidup di tengah banjir informasi yang memerlukan kurasi ketat. Kondisi ini semakin semakin kompleks berkat teknologi kecerdasan buatan (AI).

"Yang aku lakukan adalah provide credible information tentang science yang understandable. Dari mana kredibilitasnya? Karena aku membangun personal branding-nya, jadi kayak orang tuh tahu aku dan knowledge aku juga bisa dipertanggungjawabkan. Aku kredibel secara science dan aku bisa mengemas itu sehingga bisa dimengerti. Karena orang yang kredibel tuh belum tentu bisa menjelaskan, orang yang menjelaskan belum tentu kredibel," jelasnya.

Di era melimpahnya informasi dan konten AI di media sosial, kehadiran sains komunikator yang kredibel sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi yang objektif, berbasis data, namun di sisi lain mudah dipahami. Bagi masyarakat awam, peran Ifa sangat penting karena dapat membantu pengambilan keputusan.

"Sebenernya aku tuh bikin konten sederhana, tapi misinya itu adalah encouraging people untuk bikin decision making yang based on science dalam sehari-hari. Karena kan kita tuh sehari-hari bikin decision making yang sederhana atau saat beli sesuatu, kayaknya tuh kita tuh harus mengedukasi supaya orang-orang gak kena jebakan Batman saat kita membeli atau spending," tegasnya kembali.

3. Banjir informasi menjadi sorotan, pemahaman sains dinilai penting untuk mengambil keputusan

Ilustrasi belajar sains (pexels.com/Bhupindra International Public School)

Bicara soal literasi sains atau pemahaman terhadap sains, Ifa melihat bidang ini masih mengalami tantangan yang beragam. Misalnya, pengetahuan sains dari pendidikan formal yang tidak diterapkan secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari, membuat sains mudah dilupakan.

Di lain sisi, perkembangan teknologi digital turut mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi. Anak-anak hingga orang dewasa kini terbiasa menerima informasi dalam durasi yang singkat dengan pilihan konten yang nyaris tidak terbatas. Akibatnya, atensi seseorang dalam mencerna sesuatu menurun.

"Attention span-nya pendek, sumbernya terlalu banyak, gak tahu yang kredibel yang mana. Jadi, menurut aku malah jadi fatigue terhadap sains. Jadi kalau dibilang membaik, ya mungkin membaik dengan teknologi, tapi minusnya juga," ungakpnya.

Fenomena tersebut juga berdampak langsung pada dunia konten edukasi di media sosial. Menurut Ifa, konten edukasi sejak awal sudah harus bersaing dengan berbagai konten hiburan yang lebih ringan dan menarik perhatian pengguna. Tantangan kian kompleks karena topik sains sering kali dianggap lebih rumit dibandingkan jenis edukasi lainnya.

"Konten edukasi itu kan compete dengan konten yang hiburan. Jadi, susah banget. Ini baru edukasi. Ya, edukasi itu kan bisa aja yang bukan sains. Bisa aja edukasi cara memasak atau apa yang lebih mudah. Tapi, edukasi sains dengan kata-kata sains, dengan mekanisme sains, itu susah banget," ujarnya lagi.

Meski demikian, Ifa tidak melihat kondisi tersebut sepenuhnya sebagai hambatan. Justru, Ifa optimis ini menjadi peluang untuk membentuk komunitas audiens. Pengguna yang mengonsumsi konten sains yang dipublikasi, memiliki karakter rasa ingin tahu tinggi dan ketertarikan untuk memahami suatu persoalan berdasar bukti ilmiah.

4. Berangkat dari keterbatasan, Ifa ingin memberikan kontribusi lebih luas dalam hal sains

ilustrasi belajar sains (pexels.com/Yan Krukov)

Kecintaan awal Ifa terhadap dunia sains telah dipupuk sejak masa kanak-kanak. Ifa berbagi, ia tumbuh di lingkungan yang memiliki akses pendidikan terbatas. Di tengah keterbatasan akan pendidikan, pengetahuan dan ekonomi, buku menjadi jendela yang membawanya mengenal dunia yang lebih luas.

"Jadi, aku kan dari Jogja. Underprivileged banget dulu. Aku tinggal di Gunung Kidul. Terus, aku tinggal di pelosok. Orang yang bahkan tetangga-tetanggaku tuh pada gak sekolah. Nah, di Jogja itu, di deket Pantai Parangtritis, pokoknya aku gak pernah keluar dari kampung. Tapi, bapakku tuh loper koran di kota. Jadi, setiap hari pulang kan bawa koran, bawa Bobo. Jadi, aku selalu baca dari kecil, dari balita gitu," Ifa menuturkan kisahnya.

Kebiasaan membaca itulah yang perlahan membentuk rasa ingin tahu yang kuat bagi Ifa terhadap berbagai fenomena di sekitarnya. Padahal, ia tumbuh di lingkungan yang minim akses pendidikan.

Bahkan, semasa kecil, ia sempat percaya bahwa matahari terbit dari balik gunung karena itulah yang ia lihat setiap pagi. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari betapa pentingnya akses terhadap pengetahuan sejak dini. Ia berharap anak-anak masa kini tidak lagi tumbuh dengan miskonsepsi serupa karena telah memiliki lebih banyak sumber belajar dan konten edukasi yang kredibel.

"Lingkungan aku uneducated. Community aku di kampung gak ada yang kuliah, gak ada yang sekolah tinggi. Jadi, aku gak ada teman. Ya udah, aku tuh baca aja," ceritanya.

Meski hidup di lingkungan yang kurang mendukung pendidikan formal, Ifa tidak membiarkan curiosity mindset-nya sirna. Rasa cintanya pada dunia literasi terus berkembang. Ia memanfaatkan setiap sumber bacaan yang bisa dijangkau, mulai dari majalah, ensiklopedia, hingga perpustakaan keliling yang datang ke daerahnya. Saat akhirnya diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB), akses terhadap literatur ilmiah yang lebih luas semakin memperkaya pengetahuan dan rasa ingin tahunya.

Perjalanan itulah yang kemudian memengaruhi cara Ifa memandang anak-anak. Ia percaya bahwa setiap pertanyaan yang muncul dari seorang anak, merupakan tanda bahwa proses berpikir sedang berlangsung

Berangkat dari pengalamannya, Ifa tidak pernah menyepelekan pertanyaan anak-anak, "Jadi aku menganggap setiap pertanyaan itu big deal. Kalau anak sampai bisa bertanya, itu berarti udah ada jalan pikiran yang berjalan di kepalanya gitu. Dia sudah observasi, terus sudah muncul pertanyaan, 'Kok bisa?'."

Untuk itu, Ia berharap orangtua tidak meremehkan pertanyaan anak-anak. Alih-alih menjawab dengan mitos atau takhayul, orangtua dapat memaparkan fakta atau mendorong anak untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri lewat sumber kredibel.

5. Cerita Ifa berupaya membangun generasi berpikir kritis dengan pendidikan STEM

ilustrasi belajar sains (pexels.com/Monstera Production)

Selain aktif sebagai science communicator, Ifa juga membangun STEM ecosystem untuk anak melalui platform MERITSTEAM. Ia telah meraih Certificated STEM Educational Instructor. Langkah ini menjadi bukti komitmen Ifa untuk menciptakan lingkungan yang berbasis sains, termasuk skill dan pola pikir bagi anak-anak. Bagi Ifa, STEM bukanlah sarana agar anak menjadi ahli sains sejak dini atau mampu menghafal berbagai konsep ilmiah. Lebih dari itu, STEM educational merupakan cara membangun pola pikir yang akan berguna sepanjang hidup, apa pun profesinya kelak.

"Pembelajaran STEM itu tujuannya bukan supaya anak-anak jago sains. Bukan terus anak-anak hafal semua tulang di tubuh kita, tapi kita tuh membangun pola pikir. Jadi ketika kita mengajarkan STEM, itu bukan berarti anaknya nanti harus jadi ahli STEM. Dia bisa jadi lawyer, dia bisa jadi apa pun. Tapi dengan pola pikir STEM, mindset dan skills, itu dia bisa membuat decision yang lebih baik," ungkapnya.

Ifa memaparkan, pola pikir STEM berawal dari kemampuan untuk mengenali persoalan di sekitar. Anak-anak diajak agar peka terhadap masalah, kemudian terbiasa mencari solusi berdasarkan data dan fakta. Dengan mengadaptasi pola pikir tersebut, anak-anak diharapkan mampu memiliki daya pikir yang lebih peka terhadap masalah dan memiliki dorongan untuk menyelesaikannya berlandaskan data.

Tak hanya itu, proses belajar STEM juga melatih daya juang. Dalam mempelajari berbagai konsep sains dan teknologi, anak akan dihadapkan pada tantangan yang tidak selalu mudah. Ditambah lagi, pembiasaan pendidikan berbasis STEM menumbuhkan curious mind yang akhirnya mampu mengubah ide menjadi solusi nyata.

"Jadi, STEM itu ada mindset sama skill ya. Kalau mindset kan tadi, bagaimana dia itu punya pola pikir untuk membuat dia itu objektif. Nah, kenapa butuh skills, bukan cuma mindset? Karena kalau mindset doang, gak bisa bikin apa-apa," tambahnya.

Menutup perbincangan, Ifa berharap semakin banyak generasi muda yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Dalam perspektifnya, kemampuan berpikir berbasis pengetahuan akan membantu seseorang membuat pilihan yang lebih rasional.

"Semoga kita tuh sama-sama terus bisa belajar supaya bisa bikin decision making di hidup yang emang based on knowledge. Supaya decision kita itu benar. Apalagi, decision yang berkaitan dengan spending. Terus habis itu, kalau misalnya anak-anak muda yang nanti mempersiapkan keluarga, terus mempersiapkan punya anak, bisa dipersiapkan dari sekarang. Dari gizinya sampai persiapan untuk learning and education anaknya," tutup Ifa.

Editorial Team

Related Article