Comscore Tracker

5 Alasan Gak Bisa Mengendalikan Emosi Eating, Sadari, ya

Cobalah untuk mencari kesenangan lain selain makanan

Seiring dengan bertambahnya usia, semakin banyak tuntutan dalam hidup kita. Masalah pekerjaan, relasi pertemanan bahkan hubungan percintaan seringkali membuat seseorang menjadi stres dan tertekan yang membuat keadaan menjadi semakin sulit. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi situasi tersebut.

Hal yang seringkali dilakukan seseorang untuk menumpahkan emosi dan kekesalannya adalah makan. Meski tak lapar, ia akan terus makan untuk melampiaskan perasaan negatifnya. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah emotional eating. Jika dibiarkan dan tidak segera diatasi, hal ini sangat berbahaya karena memicu penambahan berat badan yang berlebih.

Sayangnya, mengendalikan emotinal eating bukan hal yang mudah. Dilansir Psychology Today, berikut beberapa alasan mengapa seseorang tidak dapat mengendalikan kebiasaan tersebut.

1. Makan tanpa sadar

5 Alasan Gak Bisa Mengendalikan Emosi Eating, Sadari, yailustrasi seorang wanita sedang makan tanpa sadar (Pexels.com/KoolShoters)

Makan tanpa sadar terjadi ketika seseorang menyantap makanan secara spontan dan tidak menyadari berapa banyak makanan yang telah dihabiskan. Biasanya, situasi ini terjadi ketika kita makan di sela-sela kegiatan. Misalnya, lembur larut malam sambil menghidangkan cemilan, menonton serial drama dengan menyediakan toples penuh berisi makanan dan lain sebagainya.

Solusi yang mungkin untuk dilakukan adalah cobalah untuk lebih memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh. Kamu juga bisa menjauhkan makanan dari tempat-tempat yang biasa digunakan untuk bekerja maupun menonton. Hal ini dilakukan untuk menghindari konsumsi cemilan pada saat beraktivitas.

2. Tidak memiliki kesenangan lain selain makan

5 Alasan Gak Bisa Mengendalikan Emosi Eating, Sadari, yailustrasi makan dalam porsi besar (Pexels.com/Karolina)

Menutup hari dengan hidangan makanan enak menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi beberapa orang. Setelah lelah seharian bekerja diburu deadline dan target, hidangan manis dan gurih dalam porsi besar dirasa mampu mengembalikan mood yang buruk setelah menghadapi hari yang berat. Padahal kita semua tahu bahwa menjadikan makanan sebagai sebuah pelampiasan adalah sebuah kebiasaan buruk yang mengakibatkan ketagihan.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menghentikan kebiasaan ini adalah dengan mencari hal baru untuk mendapatkan kesenangan diri selain makanan dan perilaku merusak tubuh lainnya, seperti mengaplikasikan aromaterapi agar lebih rileks, menonton tontonan hiburan tanpa diselingi camilan, dan kegiatan positif lainnya. Jangan lupa untuk menerapkan pola makan yang sehat dan tidak berlebihan agar tubuh tetap sehat.

3. Tidak mampu menghadapi situasi sulit

5 Alasan Gak Bisa Mengendalikan Emosi Eating, Sadari, yailustrasi seorang yang sedang stres karena pekerjaannya (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dalam hidup, kita harus bisa bertahan di segala situasi, utamanya situasi sulit. Jika seseorang tak memiliki kemampuan untuk betahan di situasi sulit yang penuh tekanan, maka ia akan lebih mudah untuk terjebak perilaku emotional eating sebagai bentuk pelampiasan masalahnya.

Hidup memang tak selamanya indah. Seringkali kita dihadapkan pada kondisi yang menguras emosi dan pikiran. Namun, semua itu harus dinikmati. Kita harus menjadi seorang yang berani menghadapi kondisi sulit dan penuh tekanan agar tak mencari pelampiasan yang berujung pada kerugian diri sendiri.

Baca Juga: 6 Tips Ampuh untuk Mengontrol Nafsu Makan secara Sehat

4. Tidak peduli dengan kondisi tubuh

5 Alasan Gak Bisa Mengendalikan Emosi Eating, Sadari, yailustrasi bentuk tubuh (Pexels.com/Anna Shvets)

Seseorang yang tidak mempedulikan kondisi tubuhnya cenderung tak memiliki kontrol atas apa yang ia makan. Hal yang terpenting adalah bisa makan apapun untuk kesenangan dan kepuasan diri. Padahal, bukan hanya kondisi mental, tapi tubuh juga perlu diperhatikan. Terus-terusan terjebak dalam emotional eating akan merusak tubuh secara perlahan.

Kenaikan berat badan dan bentuk tubuh hanyalah sebagian kecil efek yang bisa dilihat. Seseorang bisa saja sembunyi di balik kata-kata self love dan menerima diri sendiri apapun keadaannya.

Namun, ada ancaman lebih serius yang mengintai, antara lain kolesterol jahat, kadar gula darah yang tidak terkendali, dan masalah kesehatan lainnya. Mulai sekarang, cobalah untuk mengubah self love menjadi sebuah energi yang besar untuk mencintai tubuh, tentunya dengan mengonsumsi makanan sehat sesuai dengan porsinya.

5. Mengabaikan sinyal atau peringatan tubuh

5 Alasan Gak Bisa Mengendalikan Emosi Eating, Sadari, yailustrasi kelelahan dalam bekerja (Pexels.com/Ron Lach)

Seringkali, pekerjaan dan tugas-tugas yang menumpuk membuat kita lupa waktu. Meski tubuh sudah merasa lelah dan lapar, tak jarang kita mengabaikannya dan tetap melanjutkan pekerjaan yang ada di depan mata. Efeknya, lama-lama perasaan lapar itu akan semakin besar yang berujung pada nafsu makan yang tidak terkendali. Saat seseorang melewatkan waktu sarapan, ia cenderung akan makan siang berkali lipat lebih banyak yang berujung pada penumpukan lemak.

Membiarkan tubuh dalam keadaan lapar dalam waktu lama adalah hal yang sangat berpotensi menumbuhkan perilaku emotional eating. Mulai sekarang, tingkatkan kedisiplinanmu terutama perihal jam makan. Makan secara teratur dan cukup akan menghindarkanmu dari perilaku emotional eating dan tubuh menjadi lebih sehat.

Demikian beberapa hal yang menjadi penyebab dari perilaku emotional eating atau menjadikan kebiasaan makan sebagai pelampiasan atas emosi yang dirasakan. Karena perilaku tersebut berdampak buruk dalam jangka panjang, berusahalah untuk menghindarinya dengan cara yang kamu anggap efektif.

Baca Juga: 8 Cara Menjaga Pola Makan yang Sehat dan Teratur, Upaya Cegah COVID-19

Lulu Fatikhatul Maryamah Photo Verified Writer Lulu Fatikhatul Maryamah

you can reach me on my IG @lulumaryamah23

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya