Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa makin Dewasa Enggan Ikut Acara Buka Bersama?
ilustrasi buka bersama (unsplash.com/Irfan Syahmi)
  • Semakin dewasa, waktu luang makin terbatas sehingga banyak orang memilih istirahat atau waktu bersama keluarga dibanding menghadiri acara buka bersama yang memakan energi dan waktu.
  • Lingkar pertemanan menyusut karena kesibukan dan perubahan fase hidup, membuat suasana buka bersama terasa lebih formal atau canggung dibanding masa sekolah atau kuliah dulu.
  • Pertimbangan finansial serta kemudahan komunikasi digital membuat sebagian orang merasa cukup menjaga silaturahmi tanpa harus selalu hadir di pertemuan besar seperti buka bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buka bersama dulu terasa seperti agenda wajib setiap Ramadan, seolah ada yang kurang jika satu pun undangan tidak dihadiri. Namun, makin dewasa, ajakan buka bersama justru sering dipikirkan dua kali sebelum dijawab. Bukan karena tidak suka bertemu teman, melainkan karena ada pertimbangan yang berbeda dibandingkan dengan masa sekolah atau kuliah.

Fenomena makin dewasa enggan ikut acara buka bersama ini sering dibicarakan. Terutama ketika jadwal makin padat dan prioritas hidup berubah. Lalu, apa yang sebenarnya membuat acara buka bersama terasa tidak lagi sesederhana dulu? Berikut beberapa alasan yang jarang dibahas secara terbuka.

1. Waktu luang terasa lebih berharga saat usia bertambah

ilustrasi waktu luang (unsplash.com/Isaac Y. Takeu)

Semakin dewasa, waktu kosong tidak datang setiap hari dan sering kali harus diperjuangkan di sela pekerjaan, urusan rumah, serta komitmen lain yang tidak bisa ditunda. Undangan buka bersama yang jatuh di hari kerja berarti harus pulang lebih malam, sementara esok pagi tetap dituntut produktif. Akhirnya, banyak orang mulai menghitung ulang energi yang tersisa sebelum memutuskan hadir.

Di sisi lain, waktu senggang sering dipilih untuk istirahat atau berkumpul dengan keluarga inti karena momen itu terasa lebih jarang. Pilihan ini bukan bentuk sikap antisosial, melainkan cara menyusun prioritas yang lebih realistis. Ketika satu malam terasa sangat singkat, wajar jika seseorang memilih kegiatan yang benar-benar memberi dampak langsung bagi hidupnya. Buka bersama tetap menyenangkan, tetapi tidak lagi otomatis menjadi prioritas utama.

2. Lingkar pertemanan menyusut seiring perubahan fase hidup

ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Alessandro Mulya)

Dulu, satu kelas atau satu geng terasa sangat dekat karena hampir setiap hari bertemu. Kini, kesibukan masing-masing membuat kedekatan itu tidak selalu terjaga dengan intensitas yang sama. Saat undangan buka bersama datang, tidak sedikit yang menyadari bahwa obrolan mungkin akan berhenti pada topik pekerjaan, status pernikahan, atau rencana masa depan.

Hal semacam ini kadang membuat suasana terasa canggung, terutama jika arah hidup sudah berbeda jauh. Ada yang sibuk membangun karier, ada yang fokus pada keluarga, ada pula yang sedang berjuang di titik terendah. Bukan berarti pertemanan hilang, hanya saja kedekatannya tidak lagi seperti dulu. Karena itu, sebagian orang memilih bertemu dalam kelompok kecil yang benar-benar masih terasa akrab dibanding hadir di pertemuan besar.

3. Biaya berkumpul sering tidak sekecil yang dibayangkan

ilustrasi uang (unsplash.com/Muhammad Daudy)

Buka bersama di restoran populer atau hotel tentu menawarkan pengalaman menyenangkan, tetapi biayanya tidak selalu ringan. Sekali datang mungkin terasa biasa saja, namun jika undangan datang bertubi-tubi, pengeluaran bisa membengkak tanpa disadari. Bagi sebagian orang yang sudah mengatur anggaran bulanan secara ketat, hal ini menjadi pertimbangan serius.

Apalagi jika ada kewajiban lain seperti cicilan, kebutuhan rumah tangga, atau tabungan masa depan yang lebih mendesak. Mengurangi frekuensi hadir bukan berarti pelit, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kondisi finansial pribadi. Tidak semua orang nyaman membicarakan soal uang secara terbuka, sehingga keputusan menolak undangan sering diambil diam-diam. Dari luar terlihat sepele, padahal perhitungannya cukup matang.

4. Ekspektasi pertemuan kerap terasa terlalu formal

ilustrasi buka bersama (unsplash.com/Jay Gajjar)

Beberapa acara buka bersama kini terasa lebih seperti ajang temu kangen yang dibungkus formalitas. Ada sesi foto panjang, unggahan media sosial, hingga keharusan tampil rapi agar terlihat “siap tampil”. Bagi sebagian orang, situasi ini terasa melelahkan karena pertemuan yang seharusnya santai berubah menjadi ajang pembuktian diri.

Tidak sedikit yang akhirnya merasa harus menjawab pertanyaan berulang tentang karier, pasangan, atau pencapaian hidup. Padahal, tidak semua fase hidup ingin dibagikan ke ruang publik. Ketika suasana tidak lagi nyaman untuk menjadi diri sendiri, wajar jika minat untuk hadir menurun. Pertemuan yang hangat seharusnya membuat lega, bukan justru menambah beban pikiran.

5. Cara menjaga silaturahmi tidak lagi bergantung pada pertemuan fisik

ilustrasi video call (unsplash.com/Gabriel Benois)

Perkembangan teknologi membuat komunikasi tetap berjalan meski tidak bertatap muka secara rutin. Grup pesan instan, panggilan video, hingga media sosial memudahkan kabar terbaru dibagikan kapan saja. Karena itu, sebagian orang merasa hubungan tetap terjaga meski tidak selalu hadir dalam acara buka bersama.

Pilihan ini bukan berarti menganggap pertemuan langsung tidak penting, melainkan bentuk adaptasi dengan situasi yang ada. Ada yang lebih nyaman bertemu satu atau dua sahabat dekat secara terpisah daripada hadir di acara besar. Kualitas percakapan sering terasa lebih dalam ketika suasana lebih tenang dan tidak terburu-buru. Pada akhirnya, cara setiap orang menjaga kedekatan memang bisa berbeda.

Buka bersama tetap menjadi tradisi yang hangat dan penuh makna, tetapi sikap terhadapnya bisa berubah seiring bertambahnya usia. Makin dewasa enggan ikut acara buka bersama tidak selalu berarti menjauh. Kadang hanya soal menyesuaikan prioritas serta kenyamanan pribadi. Jika pernah merasa ragu menerima undangan buka bersama, mungkin bukan karena berubah menjadi dingin, melainkan karena cara memaknai kebersamaan sudah berbeda, bukan begitu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team