5 Ciri Kamu Mengalami Social Exhaustion Akibat Padatnya Jadwal Bukber

Ramadan selalu identik dengan momen kebersamaan yang hangat dan penuh cerita. Undangan buka bersama datang dari teman sekolah, kantor, komunitas, sampai keluarga besar. Awalnya terasa menyenangkan karena jadi ajang reuni dan silaturahmi. Namun, ketika jadwal bukber hampir setiap hari, tubuh dan pikiran bisa mulai kewalahan.
Kamu mungkin merasa harus datang demi menjaga relasi atau takut dianggap menjauh. Padahal, energi sosial setiap orang ada batasnya, apalagi saat sedang berpuasa. Di sinilah risiko social exhaustion mulai muncul tanpa kamu sadari. Berikut lima ciri social exhaustion yang sering muncul saat jadwal bukber terlalu padat.
1. Kamu merasa lelah bahkan sebelum acara dimulai

Biasanya kamu semangat memilih outfit dan tempat makan saat ada ajakan buka bersama. Sekarang, notifikasi undangan justru bikin dada terasa berat. Kamu belum berangkat, tapi sudah merasa capek duluan. Itu bisa jadi tanda kamu mulai lelah bersosialisasi.
Social exhaustion bukan hanya soal fisik yang pegal karena pulang malam. Ada beban mental saat kamu harus terus hadir, tersenyum, dan menjaga obrolan tetap hidup. Apalagi di bulan puasa, energi tubuh memang lebih terbatas. Jika setiap undangan terasa seperti kewajiban, mungkin kamu butuh jeda.
2. Kamu jadi lebih sensitif dan mudah tersinggung

Hal kecil yang biasanya kamu anggap bercanda kini terasa menyebalkan. Pertanyaan basa-basi seperti “kapan nikah” atau “kerjaannya gimana” mendadak bikin mood turun. Kamu tersenyum di luar, tapi dalam hati rasanya penuh. Reaksi ini sering muncul saat mental health Ramadan sedang tidak baik-baik saja.
Puasa sudah menuntut pengendalian emosi ekstra. Ditambah tuntutan sosial yang terus berdatangan, emosimu bisa cepat terkuras. Bukan berarti kamu jadi pribadi yang tidak asyik. Bisa jadi kamu hanya terlalu lelah untuk terus menahan diri.
3. Kamu lebih memilih membatalkan rencana di menit terakhir

Awalnya kamu mengiyakan undangan dengan niat baik. Mendekati hari-H, kamu mulai berharap acara itu batal sendiri. Bahkan kamu sempat mencari alasan agar tidak datang. Rasa bersalah muncul, tapi keinginan untuk istirahat lebih besar.
Keinginan mendadak untuk menyendiri adalah sinyal tubuh minta ruang. Lelah bersosialisasi membuat kamu butuh waktu tanpa tuntutan percakapan dan keramaian. Ini bukan berarti kamu antisosial. Kamu hanya perlu mengisi ulang energi sebelum kembali bertemu banyak orang.
4. Kamu sulit menikmati momen bukber

Saat di lokasi, kamu tetap duduk dan ikut berbincang. Namun pikiranmu terasa kosong atau justru sibuk menghitung waktu untuk pulang. Tawa terasa dipaksakan dan fokus mudah buyar. Bukber yang harusnya hangat justru terasa melelahkan.
Social exhaustion sering membuat kamu tidak benar-benar hadir. Energi habis untuk bertahan, bukan menikmati kebersamaan. Jika ini terus terjadi, wajar kalau kamu merasa kehilangan makna dari momen Ramadan itu sendiri. Tubuh hadir, tapi hati terasa jauh.
5. Kamu merasa butuh waktu lama untuk pulih setelahnya

Setelah satu acara bukber, kamu merasa perlu sehari penuh untuk memulihkan diri. Rasanya seperti habis mengikuti kegiatan besar yang menguras tenaga. Kamu ingin diam, rebahan, dan tidak membalas chat siapa pun. Itu tanda energi sosialmu benar-benar terkuras.
Pemulihan yang terlalu lama bisa jadi sinyal kamu sudah melewati batas. Mental health Ramadan tetap penting dijaga, sama seperti kesehatan fisik saat berpuasa. Kamu tidak harus hadir di semua undangan demi terlihat peduli. Kadang, memilih satu atau dua acara saja sudah cukup.
Padatnya jadwal bukber memang terasa seru, tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan diri sendiri. Mengenali ciri social exhaustion membantu kamu lebih peka pada batas energi pribadi. Tidak semua ajakan harus diterima jika kondisimu sedang tidak memungkinkan. Yuk, berani bilang tidak sesekali demi menjaga kesehatan mentalmu di bulan Ramadan.


















