Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi buku
ilustrasi buku (unsplash.com/Jexo)

Intinya sih...

  • Judul sering dipilih karena terasa “kena” di momen tertentu

  • Banyak pembaca justru puas dengan pilihan impulsif

  • Judul yang mirip belum tentu menawarkan pengalaman yang sama

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Masuk toko buku tanpa rencana sering berujung pada satu kebiasaan yang sama, mata berhenti di judul tertentu lalu tangan refleks mengambilnya. Banyak orang menemukan rekomendasi buku justru dari judul yang terasa pas dengan suasana hati saat itu, entah karena sedang lelah, penasaran, atau hanya ingin bacaan ringan tanpa berpikir panjang.

Pilihan ini sering dianggap sembrono, padahal tidak selalu demikian. Selama tahu apa yang dicari, memilih buku dari judulnya saja bisa menjadi keputusan yang cukup masuk akal. Berikut beberapa penjelasannya!

1. Judul sering dipilih karena terasa “kena” di momen tertentu

ilustrasi buku (unsplash.com/Teo Zac)

Ada judul yang terasa biasa saja hari ini, tetapi terasa tepat ketika dibaca ulang di waktu berbeda. Misalnya, judul yang menyinggung soal kelelahan atau jeda hidup sering menarik perhatian orang yang sedang ingin istirahat dari rutinitas. Dalam kondisi seperti ini, pembaca tidak sedang mencari buku berat, melainkan teman membaca yang terasa sejalan.

Masalahnya, rasa “kena” itu sering disangka sebagai jaminan kualitas isi. Padahal, ada buku yang judulnya kuat tetapi isinya berjalan datar. Di sini, judul bekerja sebagai pemantik rasa, bukan ringkasan isi. Menyadari batas ini membantu pembaca menaruh harapan secara lebih wajar.

2. Banyak pembaca justru puas dengan pilihan impulsif

ilustrasi buku (unsplash.com/YJ Lee)

Tidak semua buku favorit lahir dari riset yang panjang. Ada yang dibeli karena judulnya terdengar aneh, tidak populer, atau sekadar memancing rasa ingin tahu. Anehnya, buku-buku seperti ini sering memberi pengalaman membaca yang lebih jujur karena pembaca tidak datang dengan ekspektasi tinggi.

Ketika isi buku ternyata cukup mengalir dan enak diikuti, rasa puas muncul. Dalam kasus ini, memilih dari judul justru terasa menyenangkan. Pilihan impulsif tidak selalu berujung penyesalan.

3. Judul yang mirip belum tentu menawarkan pengalaman yang sama

ilustrasi buku (unsplash.com/JIRAN FAMILY)

Tren membuat banyak judul buku terdengar serupa, terutama ketika satu macam judul sedang laku di pasaran. Dari luar, buku-buku ini tampak seperti menawarkan isi yang sama. Namun, setelah dibaca, perbedaannya terasa jelas, mulai dari bagaimana cara penulis bercerita hingga pembahasannya.

Jika hanya melihat judul, pembaca memang berisiko salah kira. Namun, risiko ini bukan alasan untuk menghindari memilih buku dengan judul populer. Justru di sinilah pentingnya menyadari bahwa judul hanyalah pembuka, bukan penentu seluruh pengalaman membaca kamu.

4. Rekomendasi buku tidak selalu butuh alasan

ilustrasi buku (unsplash.com/Thought Catalog)

Tidak semua orang membaca buku untuk tujuan tertentu. Ada yang membaca sambil menunggu, saat dalam perjalanan, atau sebelum tidur. Dalam situasi seperti ini, memilih buku dari judul terasa paling gampang.

Tidak perlu membuka banyak ulasan atau membandingkan penulis. Cara ini juga umum terjadi ketika orang saling berbagi rekomendasi buku. Selama tujuannya jelas, cara sederhana semacam ini tetap relevan.

5. Sedikit usaha tambahan bisa menghindari rasa kecewa saat memilih buku

ilustrasi buku (unsplash.com/Yong)

Memilih buku dari judul bukan berarti menutup mata sepenuhnya. Membuka halaman pertama atau membaca sinopsis singkat sudah cukup memberi gambaran awal. Cara ini membantu memastikan buku masih sejalan dengan apa yang tengah ingin kamu baca.

Langkah kecil ini sering menyelamatkan pembaca dari ekspektasi berlebihan. Judul tetap menjadi alasan utama, tetapi keputusan akhir terasa lebih matang. Akhirnya, pengalaman membaca cenderung lebih nyaman.

Memilih buku dari judulnya saja bukan kebiasaan yang perlu dihakimi. Selama tahu batasannya, cara ini tetap masuk akal dan manusiawi, kok. Tidak semua bacaan harus dipilih dengan perhitungan panjang. Jadi, ketika sebuah judul terasa pas di hati, apakah salah jika langsung membawanya pulang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team