Mengalah sering dianggap sebagai sikap dewasa, terutama ketika seseorang ingin menjaga suasana tetap tenang dan menghindari konflik yang melelahkan. Namun, pada titik tertentu, mengalah terus-menerus justru bisa berubah menjadi bentuk ketidakadilan yang halus dan jarang disadari.
Banyak orang menjalani hidup dengan peran “yang selalu mengerti” tanpa pernah bertanya apakah posisi itu benar-benar adil bagi dirinya sendiri. Pertanyaannya kemudian, apakah mengalah itu tanda dewasa atau justru menjadi cara paling aman untuk menormalisasi ketimpangan? Berikut ini penjelasannya.
