Pernah merasa uang yang dimiliki masih belum cukup, padahal kebutuhan sehari-hari masih aman dan tabungan pun ada? Perasaan itu kadang muncul setelah melihat teman liburan, beli barang baru, atau pamer pencapaian finansial di media sosial, sampai bikin kondisi keuangan sendiri terasa jauh tertinggal. Kalau terus terjadi, bisa jadi ada kaitannya dengan money dysmorphia, yaitu ketika seseorang memandang kondisi keuangannya lebih buruk atau berbeda dari kenyataan yang sebenarnya.
5 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Memicu Money Dysmorphia

Money dysmorphia membuat seseorang memandang kondisi finansial lebih buruk dari kenyataan, meski kebutuhan terpenuhi dan tabungan tersedia.
Kebiasaan pemicu meliputi membandingkan diri di media sosial, merasa uang tak pernah cukup, serta diliputi rasa bersalah saat berbelanja.
Obsesi menabung dan kekhawatiran berlebihan soal kemungkinan buruk dapat mengganggu keputusan sehari-hari; evaluasi keuangan objektif dan anggaran membantu mengelolanya.
Tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari bisa ikut memengaruhi cara seseorang memandang uang dan kekayaan. Mulai dari terus membandingkan kondisi finansial dengan orang lain hingga merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang, pola ini bisa membuat urusan keuangan terasa melelahkan. Nah, supaya lebih mengenali pola tersebut, yuk, simak lima kebiasaan sehari-hari yang bisa memicu money dysmorphia berikut ini!
1. Terlalu sering membandingkan kondisi keuangan dengan orang lain

ilustrasi makan sambil scroll HP (magnific.com/pvproductions) Media sosial sering kali membuat kita mengetahui pencapaian orang lain, mulai dari teman yang baru saja membeli mobil hingga kenalan yang sering berlibur ke luar negeri dalam satu tahun. Tanpa disadari, kamu jadi membandingkan pencapaian mereka dengan situasi keuanganmu, walaupun keadaanmu sebenarnya cukup baik. Kalau kebiasaan ini terus terjadi, uang yang kamu miliki dapat terasa kurang hanya karena melihat kehidupan orang lain.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi keuangan seseorang secara utuh, lho. Kita tidak bisa memastikan apakah barang yang mereka beli berasal dari tabungan, cicilan, atau dukungan dari keluarga. Alih-alih terus merasa tertinggal, fokuslah pada kebutuhan dan tujuan keuanganmu sendiri agar pencapaian orang lain gak selalu dijadikan tolok ukur keberhasilanmu.
2. Selalu merasa uang yang dimiliki gak pernah cukup

ilustrasi uang di dalam dompet (pexels.com/Ahsanjaya) Pernah merasa tabungan sudah terkumpul, tetapi tetap khawatir uangmu bakal habis sewaktu-waktu? Akhirnya, kamu selalu merasa belum aman secara finansial meskipun kebutuhan sehari-hari masih dapat terpenuhi dan kamu gak mengalami masalah keuangan yang mendesak. Perasaan ini mungkin berkaitan dengan money dysmorphia, terutama ketika pandanganmu mengenai kondisi keuangan terasa jauh lebih buruk dibandingkan dengan kenyataan yang ada.
Memiliki dana darurat dan tabungan memang sangat penting, tetapi bukan berarti kamu harus merasa cemas terus-menerus soal uang, ya. Kalau setiap pencapaian finansial justru membuatmu menetapkan harapan baru yang sulit dicapai, rasa puas dapat semakin menjauh. Cobalah sesekali menilai keadaan keuangan secara objektif, termasuk total tabungan, pengeluaran rutin, dan target yang telah berhasil kamu capai.
3. Merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang

ilustrasi nongkrong bersama teman (freepik.com/freepik) Membeli kopi favorit, makan di luar bersama teman, atau mengganti barang yang rusak seharusnya gak selalu menimbulkan rasa bersalah. Namun, bagi sebagian orang, pengeluaran sekecil apa pun bisa memicu pikiran bahwa seharusnya uang tersebut disimpan. Kalau hal ini terus terjadi meskipun kebutuhan pokok dan kewajiban finansial sudah terpenuhi, hubunganmu dengan uang bisa terasa sangat melelahkan.
Mengatur pengeluaran memang diperlukan, tetapi menikmati hasil kerja kerasmu juga gak berarti bersikap boros. Selama pengeluaran tersebut masih sesuai dengan anggaran dan gak mengganggu kebutuhan utama, kamu bisa memberikan ruang untuk diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang membuat hidup lebih menyenangkan. Membedakan antara belanja impulsif dan pengeluaran yang direncanakan dapat membantu kamu mengambil keputusan tanpa terus dihantui rasa bersalah.
4. Terobsesi menabung sampai takut menggunakan uang

ilustrasi hemat uang (magnific.com/jcomp) Menabung demi masa depan adalah kebiasaan yang baik, terutama kalau kamu sedang membangun dana darurat atau mengejar tujuan finansial tertentu. Masalahnya, kebiasaan ini dapat menjadi tidak sehat ketika kamu terus menahan diri dari hampir semua pengeluaran karena takut saldo tabungan berkurang. Bahkan, kamu mungkin cenderung mengabaikan kebutuhan sendiri meskipun sebetulnya memiliki cukup uang untuk memenuhinya.
Penting untuk diingat bahwa uang tidak hanya untuk ditabung saja, tetapi juga untuk digunakan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas. Kamu masih bisa disiplin dalam menabung sambil menyediakan anggaran untuk hiburan, perawatan diri, atau kebutuhan tak terduga. Dengan cara ini, menabung gak harus terasa seperti pengorbanan yang membuatmu takut untuk menikmati hasil kerjamu.
5. Terus memikirkan kemungkinan terburuk soal keuangan

ilustrasi berpikir (magnific.com/benzoix) Tagihan bulan depan belum datang, pekerjaan masih berjalan, dan tabungan masih tersedia, tetapi pikiranmu sudah dipenuhi kemungkinan kehilangan penghasilan atau kehabisan uang. Kekhawatiran seperti ini bisa membuatmu sulit menikmati kondisi saat ini karena pikiran terus tertuju pada masalah finansial yang belum tentu terjadi. Jika berlangsung terus-menerus, rasa cemas tersebut bisa memengaruhi cara kamu mengambil keputusan sehari-hari.
Punya rencana keuangan memang penting, tetapi kamu gak perlu terus-terusan memikirkan hal buruk yang belum tentu terjadi. Mulai saja dari hal sederhana, seperti menyisihkan uang untuk dana darurat, mengecek pengeluaran bulanan, dan menabung sesuai kemampuan. Namun, kalau pikiran soal uang terus bikin kamu cemas sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, gak ada salahnya mencari bantuan profesional, lho.
Memiliki kesadaran finansial memang penting, tetapi jangan sampai kamu terus merasa kekurangan meski kondisi keuangan sebenarnya cukup baik. Supaya terhindar dari money dysmorphia, coba kenali kebiasaan yang membuatmu cemas soal uang dan mulai belajar melihat kondisi finansial secara lebih realistis tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain. Ingat, kondisi keuangan yang sehat bukan cuma soal berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga bagaimana kamu bisa merasa lebih tenang saat mengelolanya.







![[QUIZ] Dari Nasihat Opah, Ini Ketakutan Terbesarmu Soal Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20261008/1000000392_2013a758-0a32-4715-b653-08768b14a8cf.jpg)
















