Comscore Tracker

Kisah Masturi Ros Yusuf, Usia 80 Tahun Tak Renta Cerdaskan Anak Bangsa

Dirinya ikhlas menawarkan biaya pendidikan secara penuh

Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan mengenyam bangku sekolah hingga jenjang perguruan tinggi. Sayangnya, gak semua orang mampu untuk mewujudkan hal tersebut karena adanya beragam faktor, salah satunya faktor ekonomi.

Berangkat dari hal ini, Masturi Ros Yusuf seorang perempuan hebat usia 80 tahun ini berusaha mendedikasikan dirinya untuk membantu ratusan anak kurang mampu untuk menuntaskan pendidikan hingga jenjang tertinggi. Gak hanya satu, dua, atau puluhan, tetapi ada ratusan anak yang ia bantu.

Penasaran dengan kisahnya? Simak ulasan berikut ini untuk mengetahui cara dan peranan Ros dalam melaksanakan kegiatan sosial tersebut, yang telah IDN Times rangkum berdasarkan wawancara ekslusif yang dilakukan pada Selasa (28/09/2021). 

1. Ros mengawali kegiatan sosialnya dengan mendirikan majelis taklim "Shilaturrahmi" untuk kaum ibu

Kisah Masturi Ros Yusuf, Usia 80 Tahun Tak Renta Cerdaskan Anak BangsaMasturi Ros Yusuf bersama anggota Majelis Taklim Shilaturrahmi dan Non Panti Asuhan Shilaturrahmi (dok. Ibu Ibukota Awards)

Dimulai pada tahun 1964, perempuan kelahiran Banten ini resmi mendirikan majelis taklim untuk kaum ibu di lingkungan rumahnya yang berada di Jalan Matraman Salemba IV/23, RT 09 RW 01, Kelurahan Kebon Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Adapun kegiatan tahunan yang dilakukan adalah pemberian santuan berupa nasi bungkus, uang, dan makanan kepada anak yatim maupun duafa yang terlantar.

Namun setelah beberapa tahun, Ros melihat jika ada cukup banyak anak yang tidak melanjutkan sekolah. Melihat fenomena itu, dirinya pun mencari tahu dengan menanyakan orangtua dari sang anak.

"Saya lihat main terus hari-harinya. Saya tanya dan bawa anak-anak ini ke rumah, kalian kok tidak sekolah? Mereka jawab, tidak disekolahkan oleh orangtuanya. Kami lihat mereka umur 7 dan 8 tahun. Lalu saya panggil orangtua mereka. Mereka menyatakan bahwa kami tidak bisa menyekolahkan anak karena penghasilan hanya sekadar untuk makan," katanya.

"Sedangkan mereka punya anak ada yang tiga, empat, ada yang lima. Pekerjaan mereka di antaranya seperti tukang ojek, tukang parkir, tukang sampah, ada juga orang-orang terlantar yang di bawah jembatan matraman," lanjutnya.

Selain itu, ia juga menerangkan bila di usianya yang semakin rentan, kepengurusan atas anak-anak asuhnya nanti akan berpindah pada pengurus muda yang ada di majelis taklim tersebut. Artinya, sudah ada generasi yang akan melanjutkan perjuangannya kelak.

"Dari majelis taklim ada pengurus yang muda-muda, mereka sudah saya pesankan, ketika saya lemah apalagi gak ada umur, maka mereka melanjutkan. Sudah ada generasi yang akan melanjutkan," ujarnya.

2. Kegiatan sosial yang ia beri nama Non Panti Asuhan ini menawarkan bantuan biaya sekolah secara penuh, bahkan hingga jenjang kuliah

Kisah Masturi Ros Yusuf, Usia 80 Tahun Tak Renta Cerdaskan Anak BangsaMasturi Ros Yusuf sedang bersama anak asuh dari Non Panti Asuhan Shilaturrahmi (dok. Ibu Ibukota Awards)

Setelah mengetahui alasan anak-anak tersebut tidak sekolah Ros pun mengemukakan pendapat untuk menyekolahkan sang anak. Hasilnya, orangtua mereka mengizinkan dengan syarat mau menanggung keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan.

"Silakan saja sekolah kan kalau mau menanggung biayanya karena kan pada waktu itu SD juga lagi harus bayaran, harus ada uang SPP," terangnya. Menyetujui hal tersebut, dirinya pun mulai mendaftarkan 60 anak dengan bantuan biaya secara penuh mulai dari seragam sekolah, buku, alat tulis, SPP, hingga uang jajan.

"Jadi mereka, sekitar 60 anak-anak kami daftarkan sekolah. Untuk yang ekonominya betul-betul lemah, kami penuhi seluruh kebutuhannya. Baik, itu seragam sekolahnya, buku-bukunya, alat-alat sekolah, dan uang SPP setiap bulan. Di antara mereka juga ada yang sampai meminta uang jajan ke kami setiap mau berangkat sekolah," ucapnya.

Hingga kini, sudah ada sekitar 120 anak yang telah menyelesaikan pendidikannya. Di antara anak-anak tersebut, 20 orang sudah menjadi sarjana dan ada beberapa yang sudah bekerja di berbagai instansi pemerintah.

"Sampai saat ini, dari 120 anak-anak yang sudah menyelesaikan pendidikan, sudah 20 yang jadi sarjana dan ada yang sekarang sudah bekerja di berbagai instansi pemerintah, swasta, dan berwiraswasta. Dari 120 itu, sekitar 60 orang yang sudah mapan," jelasnya.

3. Menurutnya, bantuan dalam bentuk pendidikan anak merupakan solusi terbaik dari pencegahan kemiskinan di masa depan

Kisah Masturi Ros Yusuf, Usia 80 Tahun Tak Renta Cerdaskan Anak BangsaMasturi Ros Yusuf, Pendiri Majelis Taklim Shilaturrahmi dan Non Panti Asuhan Shilaturrahmi dalam wawancara ekslusif bersama IDN Times. 28 September 2021. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Meski terkesan hal yang sederhana, namun pendidikan jelas sangat penting untuk menunjang masa depan bangsa. Hal ini pula yang dirasakan oleh Ros. Menurutnya, pendidikan dapat mengatasi kemiskinan yang selama ini menjerat leher mereka. 

"Saya lihat orangtuanya miskin, kondisi rumahnya petak, mereka sewa, jadi kondisinya betul-betul sangat-sangat memprihatinkan. Jadi saya berpikir untuk mengatasi kemiskinan ini dengan mengubah nasib mereka. Mereka harus diberikan pendidikan, bukan sekadar diberi makan. IQ mereka harus diberi makan juga," tegasnya.

Untuk pendanaan sendiri, Ros mengumpulkan uang dari ibu-ibu yang tergabung dalam majelis taklim sebanyak 50 persen. Selebihnya, ia biasa mengajak keluarga dan kenalan-kenalannya untuk membantu anak-anak asuhnya untuk bisa melanjutkan pendidikan kembali.

"Basic yang pertama dari majelis taklim. Ibu-ibu yang ada di majelis taklim sekitar 100 orang ibu muda memberikan dana setiap bulan 50% dari yang dibutuhkan. Jadi yang sekurangnya keluarga kami dan kenalan-kenalan yang bisa membantu saya ajak untuk membantu," tuturnya.

Baca Juga: Kisah Jusuf Sokartara, Mantan Atlet yang Keliling Dunia dengan Sepeda

4. Ikhlas membantu, Ros merasa bangga dan senang dapat melihat setengah dari ratusan anak asuhnya sukses dan telah berumah tangga

Kisah Masturi Ros Yusuf, Usia 80 Tahun Tak Renta Cerdaskan Anak BangsaMasturi Ros Yusuf, Pendiri Majelis Taklim Shilaturrahmi dan Non Panti Asuhan Shilaturrahmi (dok. Ibu Ibukota Awards)

Dalam upaya membantu anak-anak asuhnya tersebut, Ros gak pernah sekalipun mengharapkan feedback dari mereka. Baginya, melihat mereka sukses dan dapat membantu orangtua mereka sudah membuatnya merasa bahagia.

"Mereka bisa mandiri setelah menyelesaikan pendidikan, lalu mendapat pekerjaan, atau berwirausaha, atau bekerja di perusahaan swasta. Itu artinya mereka semua sudah mandiri, bisa beli rumah, berumah tangga, itu yang sangat menyenangkan buat saya. Ketika dia bisa menolong orangtuanya, membiayai hidup orangtuanya, bahkan merenovasi rumah orangtuanya, jadi saya sangat senang sekali, sangat bahagia," katanya. 

Gak hanya itu, Ros juga mengungkapkan bila di antara mereka bahkan sudah ada yang membawa orangtuanya umrah atau haji. "Ada juga yang sudah membawa orangtuanya umrah, memberangkatkan haji orangtuanya. Ini yang membuat saya senang," tambahnya.

Meski demikian, ada pula yang bersedia membantu anak-anak asuh pada generasi selanjutnya dalam perihal dana hingga pekerjaan. "Di antara mereka ada yang memberikan tiap bulan bantuannya untuk generasi adik-adiknya, ada yang membantu dengan pekerjaan, ada pula yang membantu dengan dana. Apabila ada acara, mereka saya ajak untuk membantu dana dan mereka semua memberikan respons baik untuk apa yang saya laksanakan," ungkapnya.

5. Sukses berkontribusi untuk Jakarta yang lebih baik, dirinya pun didelegasikan menjadi finalis Ibu Ibukota Awards

Kisah Masturi Ros Yusuf, Usia 80 Tahun Tak Renta Cerdaskan Anak BangsaMasturi Ros Yusuf, Pendiri Majelis Taklim Shilaturrahmi dan Non Panti Asuhan Shilaturrahmi (instagram.com/ibu.ibukota)

Berkat perannya ini, Ros pun terpilih sebagai salah seorang dari 21 sosok Ibu Ibukota Awards 2021. Uniknya, penghargaan kali pertama yang ia dapatkan ini merupakan kejutan yang diberikan oleh ibu-ibu PKK di daerahnya. 

"Ibu Ibukota Awards ini didaftarkan oleh orang lain, oleh ketua PKK, jadi kaya dapat surprise dari ibu-ibu PKK. Karena ibu gak pernah berpikir tentang penghargaan, jadi tahun ini kebetulan ada acara itu dan info ini sampai ke pak lurah. Kemudian pak lurah bertanya kepada ketua PKK dan ketua PKK mencalonkan ibu," ceritanya.

Maju sebagai salah satu semifinalis, Ros hanya berpesan bila setiap orang pada dasarnya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk membina dan memperbaiki lingkungannya. Meski menurut undang-undang ini adalah peran pemerintah, namun kita sebagai orang di lingkungan tersebut harus berupaya saling rangkul demi mengubah nasib mereka yang ada di lingkungan kita juga.

"Kalau ibu baca dari undang-undang, orang miskin itu kan tanggungan pemerintah, namun tidak terangkul semua sama pemerintah. Oleh karena itu semua orang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk membina lingkungannya, memperbaiki lingkungannya, dan mengubah nasib-nasib yang ada di lingkungannya," pungkasnya.

Demikian kisah Masturi Ros Yusuf atau yang akrab disapa Ibu Ros. Semoga dari cerita di atas kamu bisa memetik hikmah dan makna untuk bisa melakukan kontribusi serta hal bermakna serupa dengan apa yang telah Ros lakukan. Semangat!

Baca Juga: Kisah Ajeng Tresna, Pilot Pesawat Tempur Perempuan Pertama Indonesia

Topic:

  • Agustin Fatimah

Berita Terkini Lainnya