Comscore Tracker

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Orang

#AkuPerempuan Dua bulan pertama aku merasa stres banget

Harus hidup jauh dari tanah kelahiran bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Apalagi tak memiliki saudara inti yang juga tinggal di negeri yang sama. 

Hal ini dirasakan Sofwa Tunissa. Perempuan berusia 27 tahun asal Indonesia tinggal di Spanyol sejak lima tahun lalu, tepatnya pada 28 November 2014. Perjalanannya tak selalu mudah, ia harus bertahan dalam segala situasi.

Pertemuannya dengan seorang pemuda Spanyol membawanya pada kehidupan yang benar-benar baru dan penuh tantangan. Seperti apa kisahnya? Yuk, simak selengkapnya berikut ini, ya!

1. Awal mula memutuskan tinggal di spanyol

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Perjalanannya ke Spanyol berawal dari perkenalannya dengan suami ketika sama-sama mengambil kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur, pada 2011. Perkenalan singkat itu berlanjut dengan pertemanan di dunia maya, Facebook. 

Sepulangnya dari Pare, suaminya, Eduard Tolos, berkunjung ke rumah Sofwa di Bekasi, Jawa Barat. Tak sulit berkomunikasi dengan Eduard kala itu, karena ternyata ia sudah tinggal di Indonesia sejak kecil dan sempat di Malaysia enam tahunan. 

"Ini bukan bule biasa, ini bule kearifan lokal, hahaha," kata Sofwa berseloroh. "Awalnya aku gak mau, sama orang Indonesia aja sudah ribet, gimana sama bule."

Tak berselang lama, Eduard melamar Sofwa. Namun, mendapat penolakan dari keluarga Sofwa. "Awalnya susah karena kita gak tahu siapa dia." 

Setelah penantian satu tahun, keluarga Sofwa akhirnya luluh juga dan merestui rencana pernikahan mereka. Kehidupan wanita kelahiran 21 Mei 1992 itu baru dimulai dari sini. Ia memutuskan untuk ikut suaminya tinggal di Figueres, Provinsi Girona,  dekat Barcelona, Spanyol, sejak 2014. 

2. Culture shock sudah pasti ada

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Tantangan berikutnya adalah perbedaan budaya, bukan lagi antarkeluarga, tapi juga antarnegara. Dua bulan pertama tinggal di Spanyol lumayan membuat mantan penyiar radio di Bandung ini stres.

"Ngerasanya kayak bayi baru lahir, semua beda banget sama Indonesia. Beda budaya, cara makan, jenis makanannya, sampai perbedaan jamnya. Aku shock banget," katanya. 

Belum lagi perbedaan bahasa yang amat mencolok. Sofwa bercerita tak ada persiapan untuk mempelajari Bahasa Spanyol sebelumnya.

Mau tak mau Sofwa bekerja keras untuk belajar Bahasa Spanyol, dibantu mertuanya suami dan mertuanya yang kebetulan guru Bahasa Spanyol.

"Di sini yang ngomong Bahasa Inggris dikit banget soalnya," ucapnya. "Aku sampai download aplikasi bahasa di Spanyol di HP."

Selain belajar bahasa, Sofwa juga belajar memasak. Padahal, selama di Indonesia, ia mengaku tak pernah memasak. Memasak bisa menjadi obatnya saat rindu masakan-masakan Indonesia. Ia belajar secara autodidak, terutama dari YouTube. "Sekarang bisa masak sendiri, ketoprak, lontong sayur, batagor, banyak deh."

3. Bagaimana penerimaan keluarga di Spanyol dan lingkungannya

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunisaa

Meski semuanya berbeda, Sofwa merasa beruntung karena diterima dengan sangat baik di keluarga suaminya dan lingkungan sekitarnya. Kata dia, kehidupan di Spanyol sangat menjunjung tinggi toleransi dan multikultural.

Namun, kadang ia dianggap salah bersikap dalam beberapa hal. Misalnya seperti suka menundukkan kepala dan berkata "permisi" ketika melewati orang. Hal ini dianggap aneh di Spanyol, padahal di Indonesia jadi simbol kesopanan. Ia juga kerap tersenyum kepada orang asing (sebagai simbol kesopanan di Indonesia), tapi justru dibuntuti karena dianggap "suka."

Sofwa mengatakan secara keseluruhan ia diterima dengan baik, meski sebagai kaum minoritas. "Gak takut jadi orang Indonesia, malah dilindungi banget," ujarnya.

4. Cara-cara mengenalkan Indonesia dalam kehidupan sehari-hari

Menurut Sofwa, tak ada yang susah dalam mengenalkan hal baru di lingkungannya, termasuk budaya-budaya dari Indonesia. Apalagi, mayoritas orang Eropa, termasuk Spanyol, sudah banyak yang tahu Indonesia melalui Bali. "Mereka pada sering ke Bali. Jadi mereka sudah pada tahu duluan, aku kaget sih," katanya.

Nah, Sofwa mengenalkan budaya Indonesia dalam berbagai hal. Termudah adalah lewat masakan. Ia kerap memasak makanan-makanan Indonesia untuk keluarga besarnya di Spanyol.

Saat pulang ke Indonesia, biasanya dua kali dalam setahun, Sofwa "memborong" bahan-bahan masakan khas Nusantara ke Spanyol. Ia bahkan sempat menanam daun singkong dan serai, hingga membuat tempe sendiri. "Tapi, kalau musim dingin pada mati semua. Yang belum kesampaian itu nanam kencur, timun, bayam merah, dan kemangi," tuturnya.

Baca Juga: Dellie Threesyadinda: Berprestasi Lewat Busur Panah Sejak Usia 7 Tahun

5. Suka duka tinggal jauh dari indonesia?

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Tinggal jauh dari Indonesia tak lantas membuat kecintaannya pada negeri sendiri berkurang. Justru bertambah tinggi dan menggebu. Hal tersebut ia buktikan melalui tidak berpindah kewarganegaraan.

"Aku sering ditawarin ganti kewarganegaraan, banyak temanku yang ambil, tapi aku enggak mau. Meskipun dikasih uang pun aku gak mau," tutur wanita kelahiran Bekasi itu.

Dulu, ketika dia memutuskan untuk ikut suami ke Spanyol, berbagai cibiran diterimanya. Banyak yang mempertanyakan kecintaannya terhadap Indonesia. "Yaelah lo bukan WNI yang baik, sok sok lupa sama negara sendiri. Nanti lupa, gak mau pulang." Begitu katanya.

Padahal menjadi warga Indonesia, kata dia, adalah sebuah hal terbaik selama ini dan tidak bisa digantikan dengan apa pun. "Indonesia itu lengkap banget. Aku gak mau ganti, karena gak ada yang bisa menggantikan hal tersebut. Bahkan, ketika aku berada di sini, bisa dibilang tingkat kecintaanku dengan Indonesia makin meningkat," jelas Sofwa.

Untuk mengobati rasa rindunya pada Tanah Air, Sofwa bergabung dengan berbagai komunitas dengan WNI lainnya. Biasanya mereka merayakan hari-hari besar nasional bersama-sama, seperti merayakan Hari Kartini dan HUT RI dengan mengenakan kebaya, hingga menggelar lomba-lomba khas Indonesia. 

"Justru di sini aku lebih sering ketemu sama budaya Indonesia yang belum aku kenal, kayak gamelan," tutur Sofwa. "Aku merasa lebih mencintai Indonesia setelah berada di Spanyol."

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Hal yang paling ia rindukan dari Indonesia adalah keguyuban dan masakannya. "Paling kangen kruntelan (berkumpul di satu tempat), kalau kita kumpul keluarga kan bisa pakai daster. Nah, di sini harus formal, pakai baju rapi, dan di meja makan. Makanannya juga harus lengkap," tutur wanita yang hobi memasak itu.

Makanan-makanan khas Indonesia, menurut Sofwa, rasanya juara! Meski hanya nasi, sambal, dan teri saja, rasanya nikmat luar biasa. "Kadang pengin pulang ke Indonesia cuma mau makan nasi sambal pete aja," kata alumni SMAN 1 Babelan, Bekasi, itu.

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Rindunya pun sejenak terobati ketika bertemu dengan orang Indonesia dan bisa ngobrol dengan Bahasa Indonesia. Rasanya senang banget. Indonesia tuh memang segalanya," tegasnya.

6. Berbagi tips cara mengasuh dan mendidik anak

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Menjadi seorang ibu dari anak yang memiliki orangtua dengan latar belakang berbeda bukan hal yang mudah. Namun, Sofwa tak melihat itu sebagai sebuah kendala, hanya saja perlu usaha ekstra untuk menjalaninya. Hidupnya terasa semakin lengkap dengan hadirnya anak laki-laki pertamanya, Kawa Tolos.

Sofwa mulai mengenalkan bahasa Spanyol dan Indonesia kepada anaknya. Tak hanya itu, Kawa mulai dikenalkan dengan tokoh-tokoh Indonesia. "Jadi, sekarang aku lebih sering nonton film dokumenter Indonesia."

Lebih jauh Sofwa menjelaskan bahwa ia lebih sering mengajak anaknya bermain di tanah lapang, dibanding anteng dengan gawai. Ia dan suami mendesain halaman belakang rumahnya menyerupai area outbond. Di sanalah dia dan anaknya bermain, mengenalkan alam lebih dekat lagi.

"Penting banget menumbuhkan rasa cinta anak-anak sama lingkungan, dari kecil sudah harus ditanamin. Mencoba bermain dan bergerak di luar ruangan itu menurutku perlu diberikan fasilitas" tambah Sofwa. 

Kendala terbesarnya saat mengasuh dan mendidik anak yakni perbedaan budaya antara Indonesia dan Spanyol. "Mulai dari makanan yang anakku gak bisa makan, susah banget di sini. Aku harus maju paling depan buat ngasih tahu itu semua," katanya. "Kadang budaya Indonesia berbenturan di sini, makanya aku berasa kayak sekolah lagi."

Ia tak ingin "mabuk" ilmu parenting yang sedang berkembang, karena setiap anak memiliki intuisi, bakat, dan kebutuhan masing-masing. Sehingga, kebanyakan menyerap ilmu parenting dengan pendapat berbeda-beda justru bisa "menjebak" sang anak dan membuatnya bingung. 

Hal terpenting, katanya, orangtua harus memahami apa kebutuhan sang anaknya dan tak perlu membanding-bandingkan dengan anak lainnya. "Karena sekarang itu banyak ibu millennials suka selebgram tertentu, jadinya dibandingin sama mereka. Nanti malah gak bisa menikmati perkembangan anak kita," ujar Sofwa. "Ikutin aja intuisimu sebagai ibu, karena tiap anak berbeda. mana aja yang baik, anaknya senang, itu aja sih."

7. Makna hari ibu baginya

Sofwa Tunissa: Asyiknya Mengenalkan Budaya Indonesia di Negeri Oranginstagram.com/sofwatunissa

Ibu adalah sosok paling multitalenta. Bisa jadi ibu, istri, tukang reparasi ini itu, dan segalanya. Begitu pendapat Sofwa tentang ibu. Tak berlebihan kalau akhirnya ada perayaan Hari Ibu untuk menghormati segala jasa dan pengorbanannya yang tulus.

Setelah dua tahun menjadi ibu dan jauh dari orangtua, Sofwa merasa menghadapi banyak kesulitan. Bahkan, saat hamil enam bulan, ia terkena usus buntu. Kasus yang cukup langka. "Benar-benar ibu itu kuat banget. Beneran deh, sosok yang harus dipatuhi dan diagungkan, gak bakalan ada yang ngegantiin," tutur wanita kelahiran 1992 itu.

Dia berharap semoga setiap ibu bisa berbahagia dan menjadi dirinya sendiri, bukan karena siapa pun. Sebab, banyak ibu yang merasa depresi karena perkataan menyakitkan dari orang lain, termasuk dari mertuanya sendiri dan sesama perempuan. "Please, jangan ada yang kayak gitu. Biarkan ibu belajar dan bikin salah, nanti bakal jadi lebih kuat sendiri."

Ngomongin ibu dan wanita, menurut Sofwa, perempuan yang baik adalah yang bisa bersikap baik dengan sesama perempuan. Sebab, kata dia, banyak banget sesama perempuan yang saling menjatuhkan.

"Perempuan hebat tuh yang bisa ngerti perasaan perempuan itu sendiri, gak ngomong kasar, gak ngata-ngatain atau gak menyakiti orang lain. Jadilah perempuan yang menghargai sesama perempuan," tutur Sofwa.

Nah, itulah cerita dan pengalaman Sofwa Tunissa selama tinggal di Spanyol yang bisa menginspirasi kita banyak hal. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita terapkan di kehidupan kita sehari-hari ya!

Baca Juga: Citra Mustikha: Trainer Perempuan Itu Sering Diremehkan, padahal...

Topic:

  • Dewi Suci R.

Berita Terkini Lainnya