Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers "Mens Rea" di Markas Comika, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025)
Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers "Mens Rea" di Markas Comika, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Intinya sih...

  • Berkesadaran dalam memilih pemimpinPandji menyoroti maraknya masyarakat yang memilih pemimpin tanpa mempertimbangkan kompetensi, hanya popularitas dan agama.

  • Memahami keadilan dan penegakan hukum di IndonesiaPandji mengkritik ironi kejahatan oleh penegak hukum, kesulitan mencari keadilan, dan penegakan hukum yang belum sempurna.

  • Keresahan anak muda dan masalah struktural yang menghambatnyaPandji menyuarakan keresahan kaum muda terkait kesulitan memiliki rumah sendiri dan isu-isu lain seperti mental health dan privilege.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Materi Stand Up Comedy Pandji Pragiwaksono berjudul "Mens Rea" tengah menuari kontroversi usai penayangannya di layanan streaming Netflix. Materi komedi yang memiliki muatan politik ini dianggap menyinggung berbagai pihak, karena kritiknya yang tajam dan transparan.

Pandji secara jenaka mengangkat isu sosial, politik, ekonomi hingga kultur yang berkaitan erat dengan persoalan Warga Negara Indonesia. Dalam pentas komedi yang digelar pada 30 Agustus 2025 lalu di GBK, Pandji menyoroti beberapa isu yang dianggap dilayangkan tak hanya pada pemerintah, namun juga organisasi masyarakat, publik figur, maupun tokoh publik.

Di luar dari unsur pertunjukan hiburan, komedi spesial yang menandai perjalanan 10 tahun Pandji Pragiwaksono berkarya ini pada dasarnya memiliki sejumlah nilai edukatif yang dapat dipetik oleh audiens. Jika menontonnya secara objektif, inilah nilai edukasi yang dapat diambil dari bahan komedi satire "Mens Rea".

1. Berkesadaran dalam memilih pemimpin

Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers "Mens Rea" di Markas Comika, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Di atas panggung stand up comedy-nya, Pandji memaparkan tentang isu kepemimpinan sebagai keresahannya. Panji menyoroti maraknya masyarakat yang memilih pemimpin tanpa mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobot. Sebaliknya, orang-orang justru menjadikan aspek popularitas dan agama sebagai pertimbangan dalam memutuskan sosok pemimpin. Hal ini membuat faktor kompetensi jadi terabaikan.

Di balut dengan punchline yang penuh canda, Panji mengutarakan sosok pemimpin akan menjadi seseorang yang memiliki kuasa, menentukan dan memengaruhi hajat orang banyak. Di Indonesia sendiri, pemimpin atau penyelenggara negara dipilih berdasarkan suara terbanyak.

Seyogyanya, rakyat bersikap bijaksana, aware atas suara yang diberikan. Ia mengajak penonton untuk tidak mudah terbuai dengan janji politik, namun lebih kritis terhadap kinerja. Sebagai contoh, Pandji menyebut nama politisi dari kalangan artis, seperti Dede Yusuf, Dicky Chandra, Deddy Mizwar, Sahrul Gunawan, hingga Jeje Govinda.

2. Memahami keadilan dan penegakan hukum di Indonesia

Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers "Mens Rea" di Markas Comika, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Komedi satir yang dibawakan Pandji terbukti menggugah kesadaran banyak orang dan mendorong audiens untuk lebih memahami nilai keadilan sebagai warga negara. Ia menyinggung ironi kejahatan yang dilakukan oleh penegak hukum, eks jenderal polisi. Pandji menyebut, eks jendral polisi yang terlibat kasus narkoba ini membangun kesadaran akan ironi penegakan hukum di Indonesia.

Tampak sampai di situ, Pandji juga mengkritik fenomena masyarakat yang kesulitan mencari keadilan. Menurut pengamatannya, banyak kasus yang lebih cepat ditangani apabila sudah terlebih dahulu viral.

Dari fenomena ini, Pandji dianggap mampu mengangkat keresahan publik dan mewakili kegelisahan kolektif. Ia juga secara eksplisit mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan problem yang dipahami, setiap keputusan yang dibuat, ternyata memiliki imbas terhadap kehidupan secara keseluruhan. Terlebih dalam hubungannya dengan penegakan hukum di Indonesia, yang masih belum sepenuhnya berjalan sempurna.

3. Keresahan anak muda dan masalah struktural yang menghambatnya

Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers "Mens Rea" di Markas Comika, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Pandji tak luput mengangkat isu yang dianggap relevan dengan keresahan kelas menengah dalam stand up comedy-nya yang menduduki posisi pertama Top 10 TV Shows in Indonesia Today di Netflix. Misalnya, kesulitan kelompok masyarakat menengah untuk memiliki rumah sendiri karena keterbatasan biaya atau hambatan struktural lainnya.

Pernyataan yang dibalut jokes itu memang mengundang tawa, namun banyak pula yang setuju akan muatan topik yang dibawakannya. Pandji juga aware akan isu lainnya, seperti mental health, privilege, dan lain sebagainya. Di atas panggung, Pandji menyuarakan keresahan kaum muda yang mungkin banyak terabaikan atau seolah telah menjadi masalah struktural.

Editorial Team