Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Nilai Parenting di Tunggu Aku Sukses Nanti, Relate karena Arga adalah Kita!
cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Film keluarga Tunggu Aku Sukses Nanti jadi salah satu yang paling ditunggu di momen Lebaran tahun ini. Dibintangi oleh Ardit Erwanda, film ini mengisahkan tentang perjalanan hidup Arga, seorang pemuda yang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Arga tinggal bersama keluarganya di rumah peninggalan sang nenek.

Di tengah perjuangannya mencari pekerjaan tetap, kondisi Arga dan keluarganya kian pelik karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Selain kisah perjalanan Arga dalam mencari 'kesuksesan', dinamika keluarga dan pola parenting dalam film ini juga turut jadi sorotan. Berikut, beberapa nilai parenting yang tertuang dalam film ini!

1. Tekanan orang tua bisa berdampak ke mental anak

cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Dalam cerita Tunggu Aku Sukses Nanti, tokoh Arga terus dihantui pertanyaan seperti “kapan kerja?” dan “kapan sukses?” setiap kali bertemu keluarga besarnya, terutama saat momen Lebaran. Situasi ini sangat dekat dengan realita banyak keluarga di Indonesia, di mana ajang kumpul bersama justru menjadi ruang penuh tekanan bagi anak. Alih-alih merasa didukung, Arga justru mengalami kegelisahan, rasa tidak percaya diri, hingga beban mental yang semakin berat karena ekspektasi yang terus diulang.

Dari sudut pandang parenting, hal ini menjadi pengingat bahwa tekanan dari orang tua-meskipun sering dibungkus sebagai bentuk motivasi-dapat berubah menjadi beban psikologis bagi anak. Orang tua perlu lebih peka dalam berkomunikasi, memberi ruang, dan memahami proses yang sedang dijalani anak. Dukungan emosional, empati, serta kepercayaan justru jauh lebih efektif dalam membantu anak bangkit dan berkembang, dibandingkan tuntutan yang terus-menerus disuarakan.

2. Anak butuh didengar, bukan hanya dituntut

cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Dalam film ini, karakter Arga digambarkan sebagai sosok yang terus berjuang sendirian untuk membuktikan dirinya layak dan mampu. Namun di balik usahanya, ia tidak benar-benar merasa dipahami. Lingkungan sekitarnya lebih sering menuntut hasil daripada mencoba mendengarkan proses dan perasaan yang sedang ia alami. Hal ini membuat Arga memendam tekanan, seolah harus kuat sendiri tanpa ruang untuk bercerita.

Tunggu Aku Sukses Nanti punya pesan parenting yang bisa diambil, bahwa anak tidak selalu membutuhkan nasihat atau tuntutan. Dalam banyak situasi, mereka hanya butuh didengar dan dimengerti tanpa dihakimi. Dengan menjadi pendengar yang baik, orangtua dapat membangun kedekatan emosional yang lebih kuat, sehingga anak merasa aman untuk terbuka dan tidak menghadapi masalahnya seorang diri.

3. Ekspektasi “sukses” yang kaku bisa melukai

cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Film ini juga menunjukkan bagaimana standar sukses dalam keluarga sering kali terasa sempit dan kaku: harus punya pekerjaan tetap, harus mapan secara finansial, dan harus mengikuti timeline tertentu seperti menikah di usia tertentu. Pola pikir seperti ini membuat perjuangan Arga seolah tidak pernah cukup, karena pencapaiannya selalu dibandingkan dengan ekspektasi yang sudah ditentukan. Akibatnya, alih-alih merasa dihargai, ia justru merasa tertinggal dan gagal.

Nilai parenting yang bisa dipetik adalah bahwa setiap anak memiliki perjalanan, waktu, dan definisi sukses yang berbeda-beda. Orangtua perlu memahami bahwa keberhasilan tidak selalu harus seragam, uang dan jabatan bukanlah tolok ukur utama keberhasilan. Memberikan ruang bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya akan membuat mereka lebih percaya diri dan tidak tertekan oleh standar yang belum tentu sesuai dengan kondisi hidup mereka.

4. Perbandingan antar anak itu berbahaya

cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Oleh keluarga besarnya, Arga kerap dibandingkan dengan sepupunya yang dianggap lebih sukses, baik dari segi pekerjaan maupun pencapaian hidup. Situasi ini membuat posisinya semakin tertekan, karena setiap usahanya terasa tidak pernah cukup jika terus diukur dengan keberhasilan orang lain. Perbandingan seperti ini sering terjadi dalam keluarga tanpa disadari, padahal dampaknya bisa sangat dalam bagi kondisi emosional anak.

Melansir dari Care, Rebecca Schrag Hershberg, psikolog klinis, menjelaskan, secara psikologis, kebiasaan membandingkan dapat menurunkan rasa percaya diri, memicu anak merasa “tidak cukup” meski sudah berusaha keras. Akibatnya, anak merasa dirinya rendah dan tidak berguna.

"Anak-anak akhirnya merasa buruk tentang diri mereka sendiri, yang merupakan faktor risiko untuk berbagai hasil negatif di kemudian hari, seperti kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan zat,” jelasnya.

Pesan parenting yang bisa dipetik dari film Tunggu Aku Sukses Nanti adalah menghindari perbandingan antar anak, karena setiap individu memiliki keunikan dan prosesnya masing-masing. Alih-alih membandingkan, orangtua sebaiknya fokus pada perkembangan dan kelebihan anak, agar mereka tumbuh dengan self-worth yang sehat dan kuat.

5. Keluarga bisa jadi safe space atau justru sumber tekanan

cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Dalam film ini, keluarga digambarkan memiliki dua sisi: bisa menjadi tempat pulang yang menenangkan (ayah, ibu, adik, dan neneknya), namun juga bisa berubah menjadi sumber tekanan bagi Arga (para tante dan sepupu). Alih-alih menemukan kenyamanan, ia justru kerap merasa dihakimi dan tidak cukup baik saat berada di tengah keluarga besarnya sendiri. Kondisi ini membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat aman, terasa seperti ruang yang penuh tuntutan dan beban emosional.

Nilai parenting yang bisa diambil adalah bahwa rumah seharusnya menjadi safe space bagi anak, tempat mereka merasa diterima tanpa syarat, didukung, dan dipahami. Ketika anak merasa aman secara emosional di rumah, mereka akan lebih kuat menghadapi tantangan di luar. Sebaliknya, jika rumah justru menjadi sumber tekanan, anak bisa kehilangan tempat untuk pulang secara batin dan merasa sendirian dalam menghadapi hidup.

6. Validasi lebih penting daripada kritik

cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (imdb)

Salah satu pesan kuat yang terlihat dalam perjalanan Arga adalah kebutuhan akan dukungan, bahkan saat ia belum mencapai keberhasilan. Sayangnya, yang lebih sering ia terima justru kritik dan tuntutan. Padahal, dalam proses bertumbuh, anak tidak selalu butuh pengakuan saat sudah sukses saja, tetapi juga validasi atas usaha, kegagalan, dan perjuangan yang sedang mereka jalani.

Dari sudut pandang parenting, ini menjadi pelajaran penting bahwa memberikan dukungan emosional jauh lebih berdampak dibanding sekadar kritik. Anak yang merasa divalidasi akan lebih percaya diri, berani mencoba, dan tidak takut gagal.

Kesimpulannya, film Tunggu Aku Sukses Nanti mengajarkan bahwa parenting bukan soal mendorong anak untuk sukses secepat mungkin, melainkan tentang hadir, memahami, dan mendampingi mereka dalam setiap proses menuju keberhasilan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team