Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Tunggu Aku Sukses Nanti: Adu Pencapaian saat Lebaran, Nyeseknya Real

Review Tunggu Aku Sukses Nanti: Adu Pencapaian saat Lebaran, Nyeseknya Real
Tunggu Aku Sukses Nanti (dok. Rapi Films/Tunggu Aku Sukses Nanti)
Intinya Sih
  • Film Tunggu Aku Sukses Nanti garapan Naya Anindita menyoroti tekanan sosial saat Lebaran melalui kisah Arga, pemuda yang dibandingkan dengan sepupu-sepupunya yang lebih sukses.
  • Ardit Erwandha tampil kuat sebagai Arga, menggambarkan pergulatan emosional generasi muda menghadapi ekspektasi keluarga dan pencarian makna kesuksesan sejati.
  • Kisahnya relevan bagi Milenial dan Gen Z urban, menampilkan dinamika keluarga Indonesia yang autentik serta kritik halus terhadap budaya pamer pencapaian saat momen Idul Fitri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pengin nonton film Lebaran yang relate dengan kehidupan sehari-hari? Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) mungkin jawabannya. Disutradarai Naya Anindita, film terbaru produksi Rapi Films ini dibintangi oleh Ardit Erwandha, Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Adzana Ashel, Sarah Sechan, Fita Anggriani, hingga Afgansyah Reza.

Premisnya sederhana, tapi terasa sangat relevan bagi banyak orang. Di usia yang hampir menyentuh kepala tiga, tokoh utamanya, Arga, selalu menjadi bahan perbandingan dengan sepupu-sepupunya yang terlihat jauh lebih sukses. Sementara itu, Arga masih berkutat dengan karier yang tak kunjung jelas.

Dari situ, film ini mulai menggali tekanan sosial yang sering muncul dalam momen Lebaran, ketika meja makan keluarga berubah menjadi arena pamer pencapaian. Lalu, apa saja kelebihan dan kekurangannya? Yuk, simak ulasan di bawah ini!

Sinopsis Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)

Cerita Tunggu Aku Sukses Nanti disampaikan dari sudut pandang Arga (Ardit Erwandha), seorang pemuda yang harus menghadapi stigma sebagai "pengangguran" di tengah tekanan keluarga besarnya, terutama saat momen Idul Fitri. Ketika kerabat-kerabatnya bisa kuliah di luar negeri, memiliki karier mapan dan kendaraan keren, serta status sosial yang membanggakan, Arga justru masih bingung mencari arah hidupnya.

Bagi Arga, rasa dihargai dalam keluarga besar seolah hanya bisa didapat jika ia berhasil mencapai kesuksesan materi seperti para sepupunya. Plot Tunggu Aku Sukses Nanti pun bergerak mengikuti usaha Arga untuk membuktikan dirinya, sekaligus memaksanya merenungkan kembali satu pertanyaan eksistensial, "Apa arti sukses yang sebenarnya?"

Tunggu Aku Sukses Nanti
2026
4/5
Directed by Naya Anindita
Producer

Gope T. Samtani

Writer

Evelyn Afnilia

Age Rating

R13

Genre

Drama, family, comedy

Duration

110 Minutes

Release Date

18 Maret

Theme

Family drama

Production House

Rapi Films

Where to Watch

Bioskop

Cast

Ardit Erwandha, Lulu Tobing, Ariyo Wahab, Adzana Ashel, Sarah Sechan, Fita Anggriani, Reza Chandika, Afgansyah Reza, Vidi Aldiano

Trailer Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)

Cuplikan film Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)

1. Ardit Erwandha tampil memukau lewat peran paling emosionalnya

Dikenal luas sebagai komedian, Ardit justru berhasil menanggalkan persona lucunya dan sepenuhnya menjelma sebagai Arga: anak pertama yang memikul beban ekspektasi dari keluarga besar. Ia berhasil menunjukkan berbagai lapisan emosi. Mulai dari ambisi untuk membuktikan diri, frustrasi saat mencari pekerjaan, hingga sisi rapuh yang muncul ketika ia mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

Ada satu dialog yang, kalau boleh jujur, terasa sangat menampar:

"Katanya roda itu berputar ya… tapi kok gue kayak di bawah terus."

Kalimat sederhana itu terasa mewakili banyak orang, terutama mereka yang menjadi sandwich generation—generasi yang harus menanggung tekanan ekonomi keluarga sekaligus mengejar stabilitas hidupnya sendiri. Melihat performanya di film ini, tidak berlebihan jika Ardit berpotensi masuk radar nominasi Festival Film Indonesia (FFI) tahun ini.

2. Potret keluarga Indonesia yang terasa sangat "true to life"

Sebagai sutradara, Naya Anindita berhasil memaksimalkan seluruh potensi para pemain untuk membangun dinamika keluarga yang relatable. Aneh saja kalau gagal dimanfaatkan, karena beberapa nama besar ada dalam film ini.

Dari sekian banyak karakter, yang paling mencolok adalah Tante Yuli (Sarah Sechan). Ia adalah tipe kerabat yang mungkin pernah kita temui (atau miliki) dalam kehidupan nyata. Kok bisa? Sepanjang film, Tante Yuli gemar membandingkan pencapaian anggota keluarga lain dengan nada setengah bercanda, tapi sebenarnya menyakitkan bagi beberapa orang. Ya, dia adalah "antagonis" utama di film ini.

Kehadiran Tante Yuli memiliki fungsi penting dalam cerita. Ia menjadi salah satu sumber konflik sosial yang membuat Arga merasa tertantang untuk membuktikan dirinya. Tanpa karakter seperti Tante Yuli, tekanan yang dirasakan Arga mungkin tidak akan terasa sekuat itu bagi penonton.

Namun menariknya, Tunggu Aku Sukses Nanti tidak menampilkan karakter Tante Yuli secara hitam-putih. Kita memang dibuat jengkel dengan sikapnya, tetapi di saat bersamaan juga memahami bahwa ia hanyalah bagian dari pola pikir generasi yang berbeda dari generasi Arga.

Inilah yang membuat Tunggu Aku Sukses Nanti terasa sangat lokal. Film ini sukses menggambarkan realitas extended family di Indonesia, di mana urusan hidup seseorang sering menjadi topik bersama, mulai dari pekerjaan, gaji, hingga rencana pernikahan. Jika Arga hidup di tengah masyarakat Barat yang lebih individualistik, ia mungkin takkan menemui konflik serumit ini.

3. Drama sosial yang relevan dengan kehidupan urban

Di balik cerita keluarga, film ini juga menyentuh realitas yang banyak dialami Milenial dan Gen-Z di kota besar. Mulai dari ketidakpastian karier, tekanan ekonomi, hingga rasa gagal ketika melihat orang lain tampak lebih sukses.

Namun tentu saja, Tunggu Aku Sukses Nanti paling kuat menyinggung ironi Lebaran sebagai ajang "tebar pencapaian," ketika acara kumpul keluarga yang seharusnya hangat justru berubah menjadi sesi interogasi sosial yang memuakkan.

Untungnya, film ini tidak hanya dipenuhi drama. Kehadiran karakter seperti Wicak (Reza Chandika) dan Fanny (Fita Anggriani) sebagai sahabat Arga, serta Mamang Kaki Lima (Yono Bakrie) memberikan keseimbangan lewat adegan-adegan kocak. Chemistry mereka jadi salah satu elemen paling menyenangkan sekaligus ditunggu dalam film ini.

4. Plot yang emosional, meski dengan beberapa catatan

Meski memiliki banyak nilai plus, Tunggu Aku Sukses Nanti tetap memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah pengembangan karakter pendukung yang terasa terbatas. Mengingat ceritanya sangat berfokus pada Arga, beberapa karakter tidak mendapatkan ruang perkembangan yang cukup. Mungkin saja, hal tersebut bisa dilakukan kalau film ini memiliki durasi lebih panjang dari 110 menit.

Tak hanya itu, film ini juga menghadirkan karakter-karakter yang "too good to be true" sehingga terkadang menghilangkan kesan membumi dari perjuangan Arga. Pada akhirnya, dia masih memiliki privilege yang tidak dimiliki oleh "Arga-Arga" yang kurang beruntung di luar sana.

Dari sisi pacing, film ini juga terasa terburu-buru. Menuju titik terendah emosionalnya, film ini justru langsung mengubah sikap karakter tanpa fondasi yang kuat. Akibatnya, penonton seperti diminta berempati secara mendadak tanpa ancang-ancang sebelumnya. Hal itu membuat resolusinya terasa cari aman, alih-alih meninggalkan dampak yang kuat.

Selain itu, beberapa adegan terasa terlalu diarahkan untuk memancing air mata penonton. Hanya dengan sekali lihat, kita langsung ingat pada gaya drama keluarga populer, seperti Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) yang kadang terlalu banyak "tell" ketimbang "show."

Untungnya, Tunggu Aku Sukses Nanti tetap mampu sajikan perjalanan emosional yang kuat. Terutama berkat soundtrack yang efektif, termasuk lagu dari Perunggu dan RAN ft. Hindia, yang memperkuat suasana reflektif hingga kredit bergulir.

5. Apakah Tunggu Aku Sukses Nanti recommended ditonton saat Lebaran nanti?

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Tunggu Aku Sukses Nanti tetap berhasil menjadi drama keluarga yang jujur dan reflektif. Film ini tidak mencoba menjadi karya yang bombastis. Ia seolah duduk di sebelah kita, lalu pelan-pelan membisikkan satu pertanyaan sederhana: Sukses itu sebenarnya untuk siapa?

Dengan akting kuat dari Ardit Erwandha, pemain pendukung yang solid (termasuk cameo), serta cerita yang sangat dekat dengan realitas, Tunggu Aku Sukses Nanti menjadi tontonan Lebaran yang menghibur sekaligus menyentil banyak keluarga Indonesia yang masih gagal memaknai arti kesuksesan. Semoga semakin banyak yang berani untuk membuka topik ini di ruang keluarga masing-masing.

Tunggu Aku Sukses Nanti juga menjadi cermin kecil bagi banyak orang yang pernah atau sedang merasa tertinggal dalam hidup. Jadi bagi kamu yang mencari film Lebaran yang relatable sekaligus emosional, silakan coba yang satu ini. Jangan lupa untuk menonton film ini beramai-ramai di bioskop, karena sensasinya akan jauh berbeda saat menonton sendiri. The power of cinema to carry a simple plot in a movie does exist.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More