6 Novel Stephen King Paling Overrated menurut Pembaca

- Duma Key (2008): Cerita repetitif dan familiar
- Bag of Bones (1998): Intensitas emosi berlebihan
- Fairy Tale (2022): Ritme menurun drastis di bagian tengah hingga akhir
Stephen King dikenal sebagai raja horor yang karyanya seolah tak pernah habis dibicarakan. Dari novel klasik hingga rilisan terbaru, namanya selalu berhasil menarik perhatian pembaca. Namun, sehebat apa pun seorang penulis, tidak semua karyanya bisa memuaskan semua orang. Bahkan penggemar setia King pun punya daftar buku yang mereka anggap overrated.
Istilah overrated di sini bukan berarti novel-novel ini buruk atau tidak layak dibaca. Sebagian tetap punya ide menarik, karakter kuat, atau konsep unik. Hanya saja, ekspektasi pembaca sering kali terlalu tinggi karena reputasi Stephen King yang sudah telanjur legendaris. Berikut enam novel Stephen King paling overrated oleh banyak pembaca.
1. Duma Key (2008)

Bagi banyak pembaca, Duma Key adalah contoh novel Stephen King yang terlalu sering dipuji tanpa alasan kuat. Awal ceritanya memang menjanjikan, dengan suasana misterius dan karakter utama yang cukup menarik. Namun, daya tarik itu cepat memudar.
Cerita terasa repetitif dan terlalu familiar, seolah King hanya mengulang formula lama tanpa sentuhan segar. Dibanding karya-karya hebatnya yang terbit setelahnya seperti 11/22/63, Duma Key terasa hambar dan mudah dilupakan. Tak heran jika banyak pembaca menilai novel ini terlalu overrated.
2. Bag of Bones (1998)

Bag of Bones mencoba tampil sebagai novel horor yang emosional dan serius. Kisah tentang penulis yang berduka ini dipenuhi trauma dan unsur gothic yang kental. Namun, intensitas emosinya justru terasa berlebihan bagi sebagian pembaca.
Aspek romansa dan horor dalam novel ini juga dinilai kurang menyatu dengan baik. Tema berat yang diangkat terasa dipaksakan dan membuat cerita kehilangan fokus. Meski punya niat baik dan momen kuat, Bag of Bones sering dianggap canggung dalam eksekusinya.
3. Fairy Tale (2022)

Di paruh awal, Fairy Tale berhasil memikat dengan nuansa dongeng gelap khas Stephen King. Dunia fantasi yang dibangun terasa menarik dan penuh potensi. Sayangnya, banyak pembaca merasa cerita mulai kehilangan tenaga di bagian tengah hingga akhir.
Masalah utama novel ini adalah ritme yang menurun drastis. Konflik terasa berlarut-larut tanpa perkembangan berarti yang membuat pembaca kelelahan sebelum mencapai penutup cerita. Meski masih tergolong layak dibaca, banyak yang menilai novel ini kalah solid dibanding karya fantasi King sebelumnya seperti The Talisman.
4. Christine (1983)

Ide tentang mobil terkutuk yang membunuh jelas terdengar unik, terutama di era awal karier Stephen King. Christine mencoba menggabungkan horor supranatural dengan kisah remaja dan persahabatan. Sayangnya, unsur horornya sendiri dianggap kurang efektif oleh banyak pembaca.
Yang justru lebih menarik dari novel ini adalah konflik antar karakter dan tema kedewasaan. Sayangnya, sebagai novel horor, Christine jarang terasa benar-benar menakutkan. Panjang cerita yang berlebihan juga membuat novel ini terasa kurang padat dibanding karya King lainnya di era yang sama.
5. The Dark Tower IV: Wizard and Glass (1997)

Buku keempat ini sering memecah opini pembaca menjadi dua kubu. Di satu sisi, kisah masa muda Roland memberi kedalaman emosional dan latar belakang karakter utama. Namun di sisi lain, porsi kilas balik yang sangat panjang membuat alur utama terasa mandek.
Banyak pembaca berharap tragedi masa lalu Roland digarap lebih tajam dan berdampak. Sayangnya, setelah ratusan halaman cerita masa lalu, tidak semua konflik terasa tuntas. Alhasil, sebagian pembaca mempertanyakan apakah semua detail itu benar-benar sepadan dengan waktu yang dihabiskan.
6. The Dark Tower III: The Waste Lands (1991)

Sebagai bagian dari seri The Dark Tower, The Waste Lands sebenarnya memegang peran penting dalam membangun perjalanan Roland. Novel ini menutup fase pembentukan kelompok dan membawa cerita ke arah konflik yang lebih besar. Namun, banyak pembaca merasa panjang novel ini tidak sebanding dengan perkembangan cerita yang terjadi.
Dibandingkan buku kedua, The Drawing of the Three, ritme The Waste Lands terasa lebih lambat dan kurang menggigit. Banyak halaman diisi dengan perjalanan dan dialog yang terasa berputar-putar. Cliffhanger di akhir cerita memang memancing rasa penasaran, tetapi bagi sebagian orang, itu justru terasa lebih menyebalkan daripada memuaskan.
Meski ada enam novel Stephen King paling overrated, selera membaca tetaplah subjektif. Bisa jadi buku yang mengecewakan bagi satu orang justru menjadi favorit bagi yang lain. Dari semua judul di atas, mana yang menurutmu paling tidak sepadan dengan reputasinya?



















