Pameran Awan Cerah di Taman Ismail Marzuki (IDN Times/Adyaning Raras)
Berhubung pameran ini mengangkat karya anak dan remaja, layout dan desain dibuat tidak begitu kaku. Ada beberapa detail kecil yang menambah kesan playful. Ketika memasuki area pameran, pengunjung akan mendapati beberapa karakter yang menjadi pemandu atau memberikan beberapa insight seputar budaya Indonesia.
Andi Rahmat selaku founder Nusae, desainer dan juga eksibisi grafis, mengatakan, "Ada karakter anak kecil. Empat karakter yang menggunakan wastra atau baju-baju adat beberapa daerah yang memiliki karakter curious. Curiousity-nya pengen kita perlihatkan. Bagaimana nilai-nilai budaya ini tentang curiousity dan juga saling gotong royong."
Andi juga memperhatikan material yang digunakan. Ia menggunakan karton-karton yang bisa didaur ulang kembali sehingga tidak menimbun sampah dan merusak lingkungan.
Sedangkan secara layout sangat dipikirkan oleh Andra Matin, founder Andra Matin Arsitek. Ia banyak menggunakan warna cokelat yang memang identik dengan warna budaya. Selain itu, layout-nya sengaja dibuat tidak terlalu kaku, tidak lurus, dan menunjukkan beberapa dimensi yang curvy.
"Bayangan kami adalah anak-anak itu sesuatu yang belum selesai, belum jadi, dia masih berkembang, masih punya harapan sehingga kita gak memberikan sesuatu yang rigid. Kalau bentuknya lingkaran sempurkan kan udah rigid, kalau oval kelihatan masih ada sesuatu potensi untuk bergerak lagi. Nah, itulah anak-anak," ujor Andra Martin saat menjelaskan bagaimana ia menata layout pameran agar ebih dinamis dan menyenangkan.
Lebih dari 1200 foto yang dipajang ini menjadi bukti bahwa budaya Indonesia itu beragam dan punya banyak makna di baliknya. Kalau kamu tertarik dengan pameran ini, cek informasi lainnya melalui media sosial instagram Awan Cerah di @awancerah.photo, ya!